Thursday, December 31, 2009

Perempuan Berbisik 53: Tiga Puluh Satu Desember Dua Ribu Sembilan

"AH!"

hari ini
hari ke tigapuluh satu
bulan duabelas
tahun duaribu sembilan

saat ini
saya menyeruput kopi susu
menatap layar berkedip
berpikir

saat ini
saya coba mengais huruf-huruf
memilih kata demi kata
merangkai frasa

saat ini
saya masih saja mencoba
merenung-renung
menyeruput kopi sampai habis

saat ini
saya masih juga mengais-ngais
memilih-milih
kopi saya tinggal ampas

saat ini
saya iseng menekuri
lereng-lereng
pada ampas kopi di cangkir

saat ini
saya tersenyum
tidak ada apa-apa
ampas kopi bisa apa?

saat ini
saya tersedak ludah sendiri
bercampur sisa manis
gula dalam kopi susu

"Ah!"
kata-kata saya sebanyak apa pun...
tak kan mampu menandingi kasih luar biasa NYA...
sepanjang duaribu sembilan???
tidak hanya!!!
bahkan janji NYA sudah bersemai hangat terasa di hati
sebelum kumasuki duaribu sepuluh sebentar lagi...

"Terimakasih Duhai ENGKAU!!! yang tiada terukur menyemai kasih cinta MU!"

Mari dekap penuh ungkap syukur dan semangat dan harapan puncak menatap gerbang warsa...
Selamat Tahun Baru - Happy New Year - Slamat Tombaru Jo Dang - Sugeng Warso Enggal -

RS @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Sunday, December 6, 2009

Perempuan Berbisik 52: Demos Cratein

Perempuan Berbisik 52: Demos Cratein

Tepatnya kapan untuk pertama kali saya mendengar tentang kedua kata itu? Pada usia sekolah, di bangku SD, saat mulai belajar kluster Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), lalu berlanjut dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Saya yakin ketika itu saya hanya sebagai pem-beo, peng-hapal (mati), sekadar bisa melewati ulangan-ulangan dan ujian. Tidak lebih. Karena bukankah murid sekolah formal di negeri ini lebih banyak dicekoki hapalan? Lalu tekanan agar "bisa" mendapatkan "nilai" (ponten), bukannya tekanan agar "tahu" dan "paham"?

No matter. Sesungguhnya saya lebih berminat pada cerita-cerita anak di majalah "Koentjoeng", "Bimba" (yang ketika itu masih sebagai selipan di majalah ibu-ibu), dan head-line surat kabar yang tidak saya pahami maknanya. Khusus yang terakhir, adalah upaya saya supaya dapat mengobrol dengan ayah saya, seolah-olah saya mengerti yang sedang dibacanya, padahal saya hanya menyebutkan judul besar-besar yang terpampang. Di sekolah, saya lebih suka mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur, Ilmu Alam (Fisika, bukan Biologi), dan Bahasa Indonesia.

Minat saya yang lain adalah membaca puisi, memanjat pohon, bermain perang-perangan, menjadi komentator sepak-bola untuk teman-teman laki-laki (yang sebenarnya tidak suka saya ikut-ikutan di club bola kaki kampung itu karena saya perempuan), jalan-jalan dan naik sepeda. Saya tidak bermain boneka. Tapi saya bermain dampu, engklek (dende), gundu dan kasti. Saya memiliki beberapa kelompok bermain yang terdiri atas anak perempuan dan laki-laki.

Halah! Lalu apa hubungannya dongeng tentang saya itu dengan "demos" dan "cratein"?

Begini. Meskipun tidak ingat lagi peristiwa di sekolah ketika pertama kali mendapatkan istilah "bagus" itu, namun saya ingat "permainan" yang kami (saya dan teman-teman di kampung) kembangkan terkait isu demos dan cratein ini. Tentu saja tidak hanya saya seorang yang mendapatkan pelajaran tersebut di sekolah. Semua teman-teman saya juga. Namun saya lah yang mula-mula menggunakan istilah tersebut di kelompok bermain kami.

Saya anggap sebagai istilah yang lucu dan aneh, karena berirama sama dengan suatu istilah untuk menyebutkan anak yang jorok (slordeh), yakni: "keremos". Mungkin istilah ini lebih dikenal dan dipergunakan oleh masyarakat yang mukim di wilayah utara dan tengah Sulawesi.

Jadi, ketika saya dan teman-teman berkumpul, lalu di dalam kelompok itu ada anak keremos sebagai bagian atau anggota, maka kami akan menyebutnya "demoscratein". Hahaha... Keterlaluan saya ini.

Apapun kegiatan kami, permainan apapun yang kami lakukan saat itu, selalu saja ada anak (teman) yang "demoscratein". Karena tidak semua anak-anak sudah mampu membenahi dirinya sendiri, bukan? Misalnya memilih pakaian bermain yang bersih, atau membersihkan mulut dan wajah dari sisa makanan, atau membersihkan hidung yang berleleran ingus, ataupun memakai topi dan atribut permainan yang tepat (sesuai kesepakatan hasil musyawarah kelompok saat itu).

Namun, jika diingat-ingat, saya juga heran, betapa anak-anak yang datang berkumpul (di sebuah kebun atau di halaman rumah seseorang), tidak terbersit pikiran untuk mendiskreditkan anak/teman yang demoscratein. Ia atau mereka (tak jarang lebih dari satu yang seperti itu) tetap boleh ikut bermain, mendapatkan peran dalam permainan, meski ia/mereka tetap saja dijuluki demoscratein, namanya sendiri jarang disebut.

Lalu, bagaimanakah respon teman si demoscratein itu? Tentu saja ia atau mereka segera membenahi diri semampunya; cepat-cepat menyeka mulut dan hidung dengan lengan baju, atau pada pertemuan berikut sudah lebih bebenah tampil dengan pakaian yang lumayan bersih. Permainan tetap berlangsung dalam keceriaan anak-anak.

Itulah dukungan kelompok, menurut saya (sekarang). Pada masa itu terjadi di dalam kelompok anak-anak yang belajar berperan sesuai bagiannya. Jelas, tetap ada konformitas. Setiap anak berusaha menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok bermainnya. Namun kelompok selalu bisa menemukan jenis permainan yang melibatkan semua anggota. Peran masing-masing diatur bersama, disepakati dan dilaksanakan, sampai kemudian orangtua sebagian anak mulai memanggil anaknya untuk pulang.

Demos dan Cratein, bahasa Yunani Kuno yang berarti Rakyat dan Pemerintahan. Demikian kalau tidak salah. Demoscratein (demokrasi), berarti pemerintahan yang berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Kalau tidak salah juga.
Lha?!? Demoscratein yang dipergunakan dan dikembangkan secara sembarang dalam kelompok bermain anak-anak di atas itu, kok dalam keutuhan perguliran aktivitasnya, hampir-hampir mirip dengan demokrasi?

Bayangkan. Anak-anak itu berkelompok sebagai suatu kelompok rakyat. Menata peraturan berdasarkan kesepakatan bersama. Toleran dan tetap menerima anggota yang agak "di luar jalur", bahkan mengembangkannya sehingga menjadi lebih baik (dapat membenahi diri). Setiap anggota patuh dan "nrimo". Ketidak-sukaan yang suatu saat muncul di dalam hati (mungkin merasa diberi peran yang kurang pas), dapat ditutupi dengan kegembiraan dan sukacita yang diperoleh dari kelompok tersebut secara utuh. Tujuannya adalah bermain dengan lancar dari awal hingga akhir. Sukacita kelompok adalah juga sukacitaku.

Yang penting senang dan bisa bermain, menerima dan menghayati perannya meski hanya sebagai penunggu bola kasti yang melesat terlalu jauh, misalnya. Patuh pada aturan main, melakukan peran dan bagian masing-masing sebaik-baiknya. Sepakat dan menerima, berbagi dan saling mendukung, bahkan mengembangkan yang masih kurang. Semua adalah pemimpin pada perannya. Bahkan bagi si "demoscratein".

Salam buat "demos" dan "cratein", dalam cinta tanah air pusaka.

*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/