Sunday, May 30, 2010

Perempuan Berbisik 70: Alang-alang Asaku

*by RinnyS*
*** *** ***
Alang-alang Asaku

‎​Andai saja aku bisa keluar dari kesesakan ini...
Andai saja aku tidak perlu ada lagi di sini...
Andai saja tak ada hati yang harus kusentuh...
Andai saja aku ini burung yang memiliki cakrawala penuh...

‎​Bagiku hanya tinggal waktu...
Bagiku hanya tinggal waktu...
Kuhitung detik dalam diamku jengah...
Kuhitung kerjapku sendiri hingga kulelah...

*Suatu waktu akan tiba, kau tak kan lagi berjumpa diriku...*

‎​Kurebah dalam nelangsaku...
Kelam ini tak jua sirna...
Kuraba dengan tabahku...
Kusam ini kan selalu ada...

*Hingga saatku tiba...
Ku kan sambut dengan senyumku rekah...*

‎​Tinggal sebentar lagi...
Gesekan daun mengurai...
Sepoi bayu meniupku hangat...
Senandung syahdu mengulumku pekat...

‎​Sepiku yang panjang kan kuukir pada batuku...
Sendiriku yang lengang kan kupahat pada kalamku...
Gaunku hijau pupus berkilau tetes embun...
Pipiku merah jingga semburatkan santun...

‎​Kuhitung akhir hitunganku...
Satu satu satu dan satu...
Kuratapi mahkota ratuku...
Kuselimuti selepas jiwaku...
Dalam gerai urai mayangku...

Andai masih kumampu ungkap pintaku...
Andai tersisa asa seujung kuku...
Kubutakan seluruh pencecapku...
Kurasuki sekujur gegap naluriahku...

‎​Akhirnya harus kuucap...
Tiada ada apapun sebab...
Kuhela tuntas nafasku lembab...
Kuluruh luluh leleh sembab...

*Tinggal sebentar lagi... Tapi tetap masih ada asa...*

-RS- 30Mei2010/21:35


___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Perempuan Berbisik 69: Politics and Personal

*by RinnyS*
*** *** ***

*Tulisan nyantai sambil leyeh-leyeh*

Dalam beberapa pertemuan seminar bertajuk politik yang dihela dan digelar perempuan Indonesia, bergulir ragam terminologi yang mengundang diskusi.

Politik sendiri kerap dimaknai rancu, hingga beberapa kalangan menganggapnya "wajib dijauhi". Kalau benar demikian, kenapa politik tetap begitu populer, hingga tak habis-habisnya jadi primadona?

Bagaimana jika ternyata setiap pribadi adalah politik? Atau bagian dari politik? Apakah kelahiran bayi bukan politik, sebab jelas-jelas setiap bayi yang terlahir hidup (bahkan terlahir mati) harus dicatatkan. Demi suatu penataan yang berkelindan dengan kepentingan birokrasi negara (politik).

Bagaimana pula apabila rahim perempuan adalah politik? Meski sudah mampu bertelur dan siap dibuahi, Undang-undang yang notabene produk politik melalui parlemen, belum mengizinkannya sebelum pemilik rahim mencapai usia tertentu.

Setiap pribadi adalah politik?

*namanya saja tulisan nyantai leyeh-leyeh, ya gini deh... tanya-tanya iseng, bukan analisis yang menyimpulkan, jadi ngga usah diambil hati dalam-dalam... 'toh yang 'nulis teteeeppp sambil mikir-mikir (men)dalam kok... :-)))))*

___________RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Wednesday, May 19, 2010

Perempuan Berbisik 68: Tanya Saatku Lepas (poem)

*by RinnyS*
*** *** ***
Tanya Saatku Lepas

betapa nian sungguh kuingin,
segera lepas saratku mendingin,

supaya segera saja kujangkau,
hingga asa tak lagi menghalau,

kiniku jadi nanti nun hilir akhir,
saratku jadi kinanthi ilir nan tahir,

hingga rengkuh kita padu saling,
menggah gitaku merdu paling,

'kan selaras berorbit
tiada ada waktu,
tiada ada ruang,

rongga tak berdinding, langit pun bahkan

syahduku meraung,
senduku meradang,
rinduku melanglang,
pujaku menggaung...

19mei2010/01:01/rs
___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Thursday, May 6, 2010

Perempuan Berbisik 67: Jejaring

*by RinnyS**** *** ***
JEJARING yang saya maksud yakni media komunikasi kelompok via perangkat elektronik. Tepatnya, saya ingin bercerita mengenai mailing list atau milis, dan blackberry group messanger atau BBG.

Dewasa ini tampaknya semua orang yang dapat mengakses internet dipastikan memiliki alamat e-mail atau alamat surat elektronik. Bahkan sebagian besar memiliki lebih dari satu alamat e-mail dengan berbagai alasan dan tujuan. Termasuk saya, sedikitnya 3 (tiga) alamat e-mail saya cukup aktif. Atas dorongan menjalin jejaring sosial dengan berbagai komunitas minat, perhatian, pekerjaan, profesi, pendidikan, budaya, nostalgia, dan sebagainya, maka alamat-alamat e-mail saya terdaftar di sejumlah milis, atau mailing list. Bergabung dengan milis-milis memberikan pencerahan yang terbarui hampir setiap saat.

Demikian pula, karena terdorong menggenggam informasi seluas-luasnya di setiap waktu dan kesempatan, saya juga memanfaatkan device atau perangkat blackberry. Pada akhirnya terpaksa harus saya akui, pengguna blackberry menjadi seperti BB, alias hewan babi, yang gaya khas dan perilaku terfavoritnya adalah "menunduk" sambil berjalan, alih-alih beraktivitas dengan sering menunduk. He he he...
Dengan blackberry, saya juga bisa aktif 'chatting' atau 'ngobrol secara berjejaring melalui BBG. Saya pun terdaftar sebagai anggota dari beberapa grup, bahkan mengkreasi beberapa grup atas inisiatif sendiri. He he he... (Lagi).
Belum termasuk situs jejaring sosial yang juga saya ikuti atas akses internet dan bb, misalnya facebook.

Fenomena dan pengalaman saya itu menunjukkan bahwa manusia hakikatnya makhluk sosial, selain sebagai makhluk individual. Perbedaan mendasarnya, pertemanan dan interaksi sosial melalui media teknologi elektronik bersifat semu, atau disebut-sebut 'dunia maya' (untungnya bukan 'dunia lain' ho ho ho). Sedangkan interaksi sosial yang sesungguhnya lebih bersifat pertemuan fisik, silaturahmi, berbicara langsung, dengan menghadirkan bahasa tutur lisan dengan ekspresi dan bahasa tubuh.

Apakah hakikat makhluk sosial yang diakomodasi melalui dunia maya kini telah menggantikan posisi kebutuhan manusia terhadap kontak sosial yang sesungguhnya? Yang konkret dan fisik?
Lalu orang menjadi lebih tumpul menilai respons orang lain dari bahasa tulisnya?

Pertama, saya cenderung menjawab tidak. Sebab ruang publik, venue, dan sebagainya, masih tersedia cukup banyak. Selain tempat kerja, ada venue seminar, forum diskusi, cafe-cafe, warung, restoran, dsb. Artinya, meski mudah mengakses dunia maya dan berjejaring di sana, manusia tetap mencari ruang pemenuhan hasratnya sebagai makhluk sosial yang butuh berkumpul. Bahkan meski memanfaatkan jalan raya umum untuk berdemonstrasi... (Ck ck ck kasihan ya, saking ingin kumpul-kumpul dengan orang lain, berdemo di jalan pun dilakoni, melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis pun dijabanin...).

Kedua, tidak juga lebih tumpul menilai karakter dan ragam emosi orang lain. Variasi emoticon yang makin berkembang, memberikan kesempatan orang menampilkan simbol mewakili perasaannya. Mungkin memang tidak sepenuhnya terungkapkan, namun setidaknya atas kesepakatan bersama dalam memaknai simbol-simbol tersebut, satu sama lain dapat saling menilai dan memberi respons.

Contoh lain yang cukup terlihat sekaligus mencerahkan, ada milis tertentu yang isi percakapan atau diskusi antar anggota di dalamnya sering sekali 'bertegangan tinggi' alias penuh emosi negatif, misalnya menyalahkan orang lain yang tidak ada di dalam list tersebut, bahkan menghujat pihak lain yang notabene tidak membaca langsung yang dituliskannya. Lalu antar anggota saling mendukung dengan menambah 'tegangan & tekanan emosi'.

Adapula milis atau BBG yang penuh keceriaan, saling berbagi, saling menilai antar anggota, menuliskan ha ha ha ha dengan berbagai versi dan simbol, menunjukkan kecerian dan sukacita. Tak terkecuali, ada yang berbudaya serius, diisi dengan berbagai informasi & analisis mendalam, dibahas secara serius & tampak dipenuhi suasana berpikir keras. Bercanda ceria tidak diterima & tidak dilayuani di sana.

Banyak tipe milis dan grup, yang dapat direspons berdasarkan 'rasa' tiap anggota terhadap atmosfir 'ruangan' itu.

Betapa bersyukurnya saya dapat menjadi anggota dari rupa-rupa jejaring, hingga mencerahkan dan memperkaya kognitif, mengasah emosi dan mempertajam intuisi.

Saya rasa bukan hanya saya seorang yang memiliki keberuntungan itu.
Anda juga, kan? He he he :-)))))

Salam cinta... :-¤


___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/