Friday, June 24, 2016

#236 - ANYEP

Senyap. Anyep.
Benda benda beku.
Detak lonceng waktu pun tak hadir.
Dinding tak bercelah.
Daun pintu termangu,
turut bermuram durja,
entah empati pada apa.

Hanya iringan semut bergerak
di bibir jendela yang terkatup.
Tampaknya mereka mencoba
memadu vokal lewat lagu,
tapi terlalu lirih.

Namun tenang. Menggelitik.
Sensasi rumput basah
menyentuh kulit telapak
yang pucat berajah kasar.

*Malam ini ia berjanji
terus terjaga, tak kan
terlelap sedetik pun
hingga para penjemput tiba.
Mereka kan hadir
menabuh gendang dan rebana,
memetik harpa dan
menyanyikan gita nan merdu.

*Sela

Mulai berdatangan.
Satu dua tiga sembilan,
makin penuh sesak,
udaranya dicuri.

Pengap. Lalu sunyi.
Anyep menjalar
dari ujung jemari, perlahan
dan pasti menyapu sekujur.

*Malam ini ia berjanji
menitipkan jiwa pada
gadis gadis bijaksana
yang terus berjaga jaga.

\23062016\
#rinnydanpuisi


Best Regards,

Rinny Soegiyoharto
website: http://RinnySoegiyoharto.com/
twitter: @rinnypsy
"dancing in the storm within harmony of the universe"

Sent from BlueMail

Saturday, May 14, 2016

#235 - KETIKA CAHAYA DIRAJAH - #RSP

KETIKA CAHAYA DIRAJAH - #RSP

Matahari pagi tegas mengintip nun jauh di balik bukit,
Tapi serasa menantang mataku hingga menyipit,
Merahnya seperti pijar di setiap benda yang tersentuh,
Seaslinya tak satu pun benda benda itu punya nyala,

Kakiku melayang di atas tanah basah berembun,
Sisa sisa kesegaran malam putaran hari yang t'lah lalu,
Dan benda benda menyapa mengelus luruhkan beku,
Bungkus bungkus indah pongah merajah cahaya matahari,

Siang tak kuasa menahan terang silaunya si bola api,
Mendung mengetuk pintu bersama gelayut mega kelabu,
Benda benda mulai redup bahkan sebagian gelap lekas,
Kepekatan yang telanjang tak malu malu mencabik nyala,

Kusulut sumbu lilin yang kubawa bersama payung,
Tapi lilin lilin itu pendek dan mendung menahan hujan,
Berpasang mata kelinci berkedip kedip sampaikan kabar,
Yang tak mampu ditiupkan angin lewat berkas cahaya,

Api lilinku nanar, kadang liar kadang sayup redup,
Percuma pengetahuan tanpa hikmat sekonyong tampak,
Ayat itu menggempur dinding kepala remuk redam,
Mengantarku berlari kian kemari mencari cawan anggur,

Lebih baik belatimu tak kau sarungkan,
Sedari awal harusnya sudah kau iris iris nyala matahari,
Bukan sembunyi diri di balik semburatnya di jubahmu,
Lalu kau berpesta pora di bawah langit langit bunker,

Keperihan dan kepedihan bagaikan lagu kematian,
Mengalun lamat di setiap pori kulit dan saraf yang berdenyut,
Getaran sukmaku yang satu membacakan sajak,
Tentang nenek tua mengunyah nasi basi tanpa garam,

Hiruk pikuk pasar malam, denting kuno komedi putar,
Nyanyian jazz dari panggung saweran beraroma kecubung,
Minyak kayu putih menguar bersama bau sisa kopi,
Keju belanda susu beruang bawang bombai satu siung,

Beringsut aku ke sudut temaram, meski tak aman,
Menyesali kelumpuhan akalku menyelami darah dingin,
Tubuhku bergetar menggigil, sekuali rasa teraduk,
Belantara telah menjadi lebih buas oleh keserakahan,

Lalu..
Tanganku terlipat,
Mataku terpejam,
Doaku menunggu,

~RinnyS~ Menbonje, 14 Mei 2016

^^
Best Regards,
#RinnySoegiyoharto
----------------------
http://RinnySoegiyoharto.com/
"dancing in the storm within harmony of the universe"
@rinnypsy
[NNC®]
----------------------

Monday, February 8, 2016

#234 - Website Saya

Silakan kunjungi www.RinnySoegiyoharto.com
Ada banyak hal yang cukup aktif dituliskan di sana.
Dinantikan komentar, kirim ke email admin web. Bahkan jika ada 'request' topik, sungguh menyenangkan.
See you there guys..

^^
Best Regards,
----------------------
http://RinnySoegiyoharto.com/
@rinnypsy
[NNC®]
----------------------