
Ia membawaku ke setiap pijakan yang mengisi makna di pelosok-pelosok batinku. Kerinduanku untuk datang dan datang lagi, bagaikan orang muda mabuk asmara. Kerinduanku adalah mengadu. "Pelankan lajumu, tatalah irama langkahmu, tak perlu tergesa-gesa. Hanya dengan begitu kau bisa mendengarkan aliran sungai yang mengiringi detak jantungmu." Pesannya tempo hari. Picik otakku untuk mampu memahami maknanya.
"Ada saatnya kau perlu sungguh-sungguh legawa. Tidak lagi kiasan yang ditulis, juga bukan sekadar saran yang meringankan. Banyak perkara kehidupan yang tak bisa diuraikan. Panjang-lebarnya penjelasan akan menambah perkara baru. Manusia tidak diarahkan melangkah ke sana." Ia mendaraskan kata-katanya pada suatu pertemuan kami, seolah-olah gemericik pancuran adalah alunan pipa orgel.
Jiwaku sudah hampir sampai pada akhir pengembaraan terakhir. Keputus-asaan menyergap seperti sekumpulan lebah siap menyengat. Kali ini aku tidak datang menemuinya dan berharap tak kan pernah lagi berjumpa. Lalu suaranya yang lembut menyapa, "aku ada di sini, senantiasa menggenggammu."
26 Januari 2017 00:20 dini hari