Monday, April 27, 2009

Perempuan Berbisik 33: Woman Personality (Part#1)


"Kamu seorang feminist?"
Akhirnya seseorang menanyakan hal itu pada saya. Alih-alih menjawab, saya malah bertanya balik,
"Kenapa memangnya?"
Tentu saja sambil mengumpulkan ingatan-ingatan, mencoba pahami perspektif penanya, memformulasikan kalimat untuk jawaban-jawaban antisipatif sekiranya muncul pertanyaan-pertanyaan berikut. Kemudian saya putuskan kembali saja pada titik nol, yakni saya dan adanya saya.

Sebagaimana yang telah saya prediksikan, pertanyaan berikutnya mengalir dengan membawa tiga tanda tanya (???) lebih besar (mengingatkan pada simbol logo 'Pasukan Mau Tahu'nya Enid Mary Blyton, novel detektif remaja, bacaan saya di masa remaja duluuuu).
"Kenapa kamu sering sekali bicara soal perempuan, kamu juga (tampaknya) mengagumi perempuan, bahkan (tampaknya lagi) memuja perempuan?"

Well. Sebenarnya saya sendiri tidak paham benar soal istilah atau kelompok atau komunitas atau kaum yang disebut 'feminist'. Saya perlu belajar lagi lebih spesifik mengenai hal itu. Tadinya belum terpikir, namun karena pertanyaan memuat istilah itu sudah memasuki ruang kesadaran saya, maka kini saya rasa perlu mempelajarinya, nanti dan segera.

Kembali pada keputusan saya tadi, berdiri di koordinat 0;0, maka saya jelaskan sederhana di sini (tentu tidak sama persis dengan obrolan model verbal-lisan), saya ini perempuan, sejak lahir hingga saat ini. Itulah satu-satunya alasan saya sering berbicara tentang perempuan, artinya saya berbicara tentang diri saya sendiri. Pendapat subyektif saya soal perempuan: KUAT.

Kuat beroposisi dengan lemah, menurut saya. Akan tetapi keduanya bukan dikotomi, menurut saya lagi. Antara kuat dan lemah terdapat gradasi yang padat, namun tidak ada nuansa tengah, tidak ada setengah kuat setengah lemah. Seumpama pemaksaan Meyrs-Briggs (semoga ejaannya benar) dalam menentukan I atau E, misalnya, ambillah nilai yang terbesar andai persentasenya pun 51:49, maka itulah model kepribadianmu. Demikian yang saya maksud, meski seseorang 'hanya' kuat 51%, maka ia bolehlah tergolong kuat.

Sesuatu yang KUAT pada perempuan itu adalah kepribadiannya (personality), yang mengandung unsur-unsur karakter, sifat, sikap, intensi, perilaku. Golongan unsur-unsur itu hanya saya jemput-acak saja, mengingat telah begitu banyak daftar traits yang berkembang hingga saat ini, mulai dari kembangan Personality Plus, hingga kuis-kuis kepribadian dan deskripsi sifat yang banjir dan makin banjir. Artinya, maju betul ilmu tentang manusia ini, banyak betul orang berminat menjadi psikolog atau melakukan praktik-praktik psikologi, maka banjir juga fakultas Psikologi dimana-mana.

Jadi, apakah pada dasarnya kepribadian perempuan atau bukan perempuan, sama saja? Apakah kepribadian itu faktor bawaan (biological forces) atau karena belajar, pengalaman hidup dan pengaruh lingkungan? Jawabannya, kedua-duanya. Dan karena dari sononya telah terbedakan perempuan dan laki-laki, tentu saja faktor bawaan ini berpengaruh besar pada berkembangnya kepribadian perempuan.

Entah kenapa dunia berkembang sebagai dunia laki-laki. Saya cari-cari, bahkan tak ada rasanya seorang nabi perempuan. Ketika seorang perempuan menikah dengan laki-laki, maka ia (harus) 'mengikuti' suaminya. Beberapa di dalam diriya tertanggalkan, bahkan juga namanya yang dibawa sejak lahir (Nama belakang saya adalah nama ayah saya, laki-laki, supaya tidak berganti-ganti saja ;-)). Kendati semua manusia keluar dari rahim seorang perempuan (saya belum bisa percaya metode cloning bisa menggantikannya).

Demikianlah, sejak awal perempuan berjuang di dunia laki-laki, menurut saya... (to be continued)

RS for own blog, http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/
_____________________________________________________________

Friday, April 24, 2009

Perempuan Berbisik 32: Telanjang (Naked)



Pada suatu hari, seorang perempuan yang tatapannya lebih sering menembus ke ruangan tak berhingga daripada 'berada' di sini dan kini, memutuskan untuk bicara.

"Saya tidak tahan terhadap godaan ini. Saya ingin telanjang," bisiknya lirih.
"Telanjang?" tanya saya, "telanjang seperti apa?"

Mula-mula ia tampak kebingungan memilih kata untuk menjelaskan maknanya. Sekelompok kata-kata bantuan pada akhirnya dapat mengaktifkan kalimat demi kalimat yang mengalir kemudian. Kata-kata bantuan itu hanyalah "lepaskan seluruh pakaian" tanpa awalan (me-, di-, ter-) pada kata kerjanya. Ini berarti, saya tidak mengarahkan pada sosok pelaku.

Perempuan ini adalah pelakunya. Ia ingin menelanjangi dirinya, melepaskan sendiri seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, hingga tak tertinggal jenis tekstil apapun di sana. Benar-benar telanjang, 'naked' bahasa Jawanya. Saya tidak bertanya sebabnya, juga tidak menilai apapun terhadap tindakan khayalan itu. Saya bertanya sambil lalu saja (seolah-olah), "apa yang terjadi kemudian?"

Dalam keadaan telanjang ia ingin berdiri di depan cermin besar yang dapat memantulkan seluruh bayangan tubuhnya.
"Adakah cermin itu? Dimana?" tanya saya. Ia menggeleng. (Oooohhh, beli dong, canda saya dalam hati saja).
Dengan menatap tubuh sendiri dari pantulan cermin, ia merasakan gairah yang luar biasa, tanpa menyentuh segala sesuatunya. Gairah tersebut (sayang sekali) tidak berkaitan dengan hasrat seksual dan pernik-perniknya. Ia merasa seolah-olah berubah seperti orok dengan kelopak mata yang belum bisa terkuak.

***maaf, terpaksa disensor, cukup sampai di sini saja***

Apa pikir anda, tentang seseorang yang ingin telanjang? Apa perasaan anda membayangkan cerita tentang telanjang?

Suatu waktu saya pernah mendengarkan percakapan tentang seseorang yang risau pada mimpinya semalam. Dalam mimpi itu ia tampil telanjang di depan banyak orang, yang dikenalnya dan tidak dikenal. Lalu seseorang yang lain menjelaskan antusias, mimpi telanjang artinya: anda akan mengalami suatu peristiwa yang sangat memalukan. Bisa jadi dalam peristiwa itu anda dicemooh, atau pendapat anda diejek dan diserang oleh berbagai pihak, atau salah satu keluarga terdekat yang anda cintai melakukan perbuatan tercela yang sangat mempermalukan keluarga.

Tafsir mimpi itu masih terus berlanjut. Bahkan ada juga pendapat mengatakan bahwa mimpi telanjang bermakna positif, artinya anda akan memulai hidup baru yang lebih baik dan bermasa depan cerah. Telanjang berarti kembali kepada ihwal kodrati kelahiran manusia, keluar dari rahim ibu tanpa membawa kebendaan, bahkan suci dari dosa. Jika anda bermimpi telanjang, anda akan menjadi manusia baru yang terlepas dari kesulitan hidup masa sebelumnya.

Meski lingkup olahan Psikologi telah mengalami perkembangan yang pesat, ditandai berjamurnya ilmu-ilmu terapan, terapi-terapi modern, sempalan-sempalan pada setiap ranah atau konsentrasi studi (Psikologi Perkembangan, Klinis, Pendidikan, Industri, Sosial, dsb), praktik-praktik yang dilakukan oleh pelaku berlatar-belakang disiplin ilmu lain yang kian dahsyat membanjir, bahkan lahirnya mahzab baru. Akan tetapi saya masih menjunjung hormat kepada sang Tuan Psikoanalisa mula-mula, Sigmund Freud.

Bapak satu itu, pada masanya dahulu juga melakukan analisis mimpi klien/pasiennya. Mimpi membawa isi pikiran bawah sadar seseorang yang dapat dianalisis untuk memahami apa yang menjadi akar masalah kehidupan sehingga ia menjadi pasien. Demikian kira-kira singkat maknawinya. Jika ingin tahu lebih banyak lagi kita bisa membedah literatur Psikoanalisa tradisional, baik dari Freud sendiri, Jung dan yang lainnya.

Hubungannya dengan telanjang? Ingin telanjang, mimpi telanjang, atau telanjang beneran, tentu saja berbeda-beda substansinya. Panjang kali lebar kali tinggi untuk dibahas satu per satu. Bukankah lebih enak jika kita sadari saja, selama masih berwujud manusia, tak kan lepas raga dan jiwa ini menghadapi berbagai kemungkinan koslet pada lapisan tertentu. Daripada menyesali pergumulan, masalah, keruwetan, bahkan kejanggalan yang kita rasakan, lebih baik diterima saja dengan ikhlas dan berserah. Minta tolong pada orang lain sebagai hakikat manusia adalah makhluk sosial. Peace... Telanjang boleh banget kok... tapi.... ;-)

RS @ own Blog
______________

Tuesday, April 21, 2009

Perempuan Berbisik 31: Tolong... Ada Yang Tahu???

Terkait hari lahir Kartini, mengingatkan rasa penasaran saya yang hingga kini belum terjawab.
Sekitar 1973-1975, berkisar tahun-tahun itu pada musim Kartini-an di bulan April (entah yang mana dari kisaran tahun-tahun tersebut). Waktu itu saya masih sangat kecil, saya tinggal di kabupaten Poso Sulawesi Tengah, dan pada masa-masa tersebut saya kerap mengikuti lomba deklamasi ataupun pembacaan puisi.

Ada sebuah puisi yang hingga saat ini masih saya hafal, kendati puluhan tahun lewat sudah. Puisi yang dideklamasikan anak 5 atau 6 tahunan ini (waktu itu), yang dihayati mendalam hingga dapat membayangkan sosok Kartini sang tokoh sentral di puisi tersebut.

Masalah utamanya, saya sama sekali tidak ingat penulis ataupun pengarang puisi sederhana nan sarat makna itu.
Adakah yang tahu dan dapat membantu saya?
Ini dia penggalan syair BUNDA...

Liku-liku jalan joang,
penuh onak duri...
Bunda saingi sayang,
Gelap pekat cuaca,
Bunda terangi cita...

Rantai usang adat ketat,
Bunda urai, hikmat,
walau makan enerji,
tanggung jawab tersendiri...
Payah menyelubung hasrat,
niat kukuh menyengat,
'narik wanita dari lumpur,
buta ilmu,
ditindas takabur...

Kini...
Luas jalan terang...
bebas terbentang...
'tuk wanita segala lapisan,
'ngejar kemajuan.

Salam kasih, hormat dan takzim kepada Sang Pengarang yang belum juga kuketahui...
RS @ RS own blog "Whisper of Woman"
___________________________________

Monday, April 13, 2009

Perempuan Berbisik 30: Ide, Rapat, Eksekusi

Kepala gue mau meledak rasanya, bukan karena masalah-masalah yang emang dan pasti setiap hari ada aja, namanya juga orang hidup, di dunia fana lagi 'kan, ya ngga. Penuhnya otak gue tuh gara-gara ide, datang aja gitu, ngga dicari-cari. Kalau mau yang enak aja, bisa sih sebenernya. Mikirin aja tuh ide-ide, sebanyak-banyaknya, bayangin aja seolah-olah udah terjadi, selesai. Mimpi tinggal mimpi deh. Meski cara itu ngga salah juga merujuk teori transpersonal yang gue tau dikit-dikit. Bahwa imajinasi yang nyata diikuti teknik visualisasi terhadap hasil akhir dari suatu proses, lalu lupakan sudah, tinggal tunggu apa yang akan terjadi. Fine. Tapi gue belum merasa selesai untuk ide-ide yang banjir ini. Jadi cara itu belum sepenuhnya kena untuk saat ini. Fine juga lah.

Masalahnya sekarang, gue ngga bisa berhenti di wilayah ide yang berputar-putar ini aja. Apa mau dikata, gue maksa bikin rapat dengan kolega-kolega. Ngga perlu ngumpul, ngalor-ngidul, lagian kolega-kolega yang gue libatin dalam ide-ide ini saling ngga nyambung, hanya gue yang bisa menjahitnya jadi nyambung, karena ide-ide ini kan banjirnya di otak gue. Meski begitu, gue ngga sayang buat ngebagi-bagiin ide gue ke kolega-kolega, tentu yang gue pilih dari daftar terdekat, biar lebih gampang aja transferin ide-ide itu.

Berjalan deh rapat-rapat gue. Semua yang ada dalam daftar langsung gue undang ke rapat, meski masih banyak juga sih yang ingin gue masukin ke daftar anggota rapat, tapi entar aja, dipending buat tahap berikut. Rapat pertama, mulus. Kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Mulus. Ide gue udah terbagi-bagi ke semua, dan bisa dipahami. Gue dapat banyak masukan yang berarti dan berharga tentu dong. Jangan salah, rapat-rapat gue ngga mesti ngumpul kok, boros ongkos transport, kudapan, belum lagi musti dandan sebelum berangkat. Jadi cukup via media elektronik, wesewesewes... Praktis, ekonomis, banyak hasil. Terimakasih lho, Tuhan, karena dalam semuanya itu kan gue pasti ngundang Elu, ya kan God? Siiipp, jawaban Tuhan ramah banget... (meski ngga ramah pun ngga papa, karena Dia kan Tuhan Yang Maha Tahu yang paling baik, dan gue semata-mata berserah penuh pada kehendakNYA ajeee).

Akhirnya... the very important thing... eksekusinya dong. Ide banyak, rapat udah, kalo ngga dijalanin gimana bisa tuntas. Teori-teori action plan banyak banget boookk, mikirin teori malah bisa bikin teori baru pula nanti, jadi jalan pintasnya tailor made aja deh. Besok mulai dibedah, satu per satu, waktu tinggal diatur; gue mengikuti waktu dan waktu mengikuti gue, win-win kan. Target? Hhhmmm ide-ide gue yang sudah terbagi-bagi, sudah dirapatin, sudah dapat masukan untuk pengembangan, sudah ini, sudah itu pula, itulah target. Dan teori visualisasi boleh berlangsung deh sekarang, sambil membedah dan berjalan di rel yang tepat. Optimalisasi kekuatan pikiran, plus action yang selaras, tunggu dan lihat... apa yang terjadi?

RS__curhat di blog sendiri__
_______________________________

Sunday, April 12, 2009

Perempuan Berbisik 29: Geludug

Bahasa Indonesianya 'guruh', kan? Makanya ada kata bentukan 'gemuruh' dari kata dasar 'guruh' tadi itu, yang mendapat sisipan '-em'. Arti sederhananya, banyak guruh, sehingga terdengar mengg(-el)egar, bahkan mencekam apabila bunyi guruh yang riuh itu tidak jua berhenti. Kini disertai hujan, setelah tadi guruh bersahut-sahutan dari kejauhan, lalu makin mendekat.

Pada dasarnya saya tidak takut pada suara guruh atau 'geludug'. Sejak masih anak-anak pun saya tidak pernah punya pengalaman menangis, atau ketakutan lalu mencari perlindungan, juga tidak pernah bersembunyi di balik bantal dan selimut. Setiap kali mendengar bunyi guruh, saya akan menunggu. Itu selalu, terjadi sejak saya mengenal kata guruh, guntur, geludug, geledeg, petir, kilat, mungkin baru 3 tahun umur saya (hampir 40 tahun yang lalu).

Saya menunggu bunyi guruh berikutnya. Saya menghitung bunyi itu (yang kemudian saya bandingkan dengan jumlah hitungan sebelumnya, padahal bisa saja saya sudah lupa berapa bunyi guruh yang terhitung waktu itu). Tak lama hujan akan turun, apabila bunyi guruh sudah lebih dari 7 kali (demikian kesimpulan saya ketika masih anak-anak dulu). Saya senang jika guruh berbunyi, tandanya petir tidak akan datang. Jika petir menyambar sebelum guruh berbunyi, maka saya serta-merta membunyikan suara dengan mulut dan bibir saya. Caranya, mulut dimonyongkan, lalu menyedot (menghisap dengan mulut terkatup dan monyong) dengan kuat, maka akan terdengar bunyi seperti mengecup yang panjang. Ini resep dari para leluhur saya, diturunkan kepada ibu saya, tak disadarinya saya pelajari dari mengamati. Dulu alm Oma saya bilang, bunyi mulut kita itu bisa didengar oleh guntur (guruh). Dengan bergemanya suara guruh, maka petir akan berhenti menyambar. Sekarang saya senyum-senyum mengingat cerita ini. Anehnya, saya masih mempraktikkan teknik mulut monyong menyedot mengecup itu. He he he...

Saat ini saya sedang menunggu sampai waktu untuk mandi dan bersiap-siap tiba. Saya ingin berjaga-jaga saja sekarang, karena sebentar lagi saat matahari masih bersembunyi, belum cukup tua untuk mengintip di ufuk, saya harus sudah berkumpul. Saya deg-degan. Bukan karena hendak menyanyi dengan not-not yang tinggi. Saya bergetar, karena saya merasa seolah-olah masuk ke dalam putaran waktu, kembali ke abad pertama. Ketika batu itu terguling, kubur itu kosong.

Saat ini, guruh terhitung lebih dari 10 kali. Air hujan mengikuti jejak guruh, membasahi ranting-ranting dan dedaunan, rumput, atap, halaman, jalan, menyapu debu yang tadi begitu hebat mengepul dari berbagai sumbernya. Air hujan ini terasa sangat sejuk, namun saya tetap deg-degan, hati saya bergetar, tubuh saya gemetar. Guruh yang bergemuruh beberapa waktu berselang, membayangi sebuah citra, menghadirkan suasana saat gelap menyelimuti bumi, tabir Bait Allah terbelah dua. Guruh itu adalah suaraNYA, hati saya bergetar hebat mendengar suara itu, sekaligus tenteram.

Apalah saya tanpa kematian dan kebangkitanMU?
Saya tidak memuja agamaku, sama sekali tidak. Saya hanya memuja ENGKAU, ya Allah, ya Anak, ya Rohul Kudus.

Thursday, April 9, 2009

Perempuan Berbisik 28: Lembut Dan Tegas

Posting kali ini tidak ada hubungannya lagi dengan pemilu. Tadi pagi sudah mencontreng, sehari sebelumnya berjuang di kelurahan dan KPPS, siang hingga sore ini sesekali melirik quick count di tilipisi. Tinggallah optimis saja menyongsong hari esok, serta perlu koreksi dan evaluasi terhadap kerja KPU, termasuk UU-nya. Ya ampun, masih bahas ini-ini juga. Sudah ah!

Judul 'lembut-tegas' yang saya angkat sesungguhnya berkisah seputar perilaku anak-anak zaman sekarang. Bukan anak muda, yang remaja dan dewasa awal saja, namun terlebih juga anak-anak dalam kluster usia anak-anak beneran, mulai batita hingga akhir masa anak, sekitar 11-12 tahun begitu. Kenapa?

Saya cukup sering bertemu teman-teman yang dilakukan dengan sengaja karena janjian. Atau bertemu tanpa sengaja dengan teman, kenalan, kerabat, di suatu tempat kegiatan bersama, tempat ibadah, tempat berbelanja, atau tempat-tempat tertentu, bahkan termasuk juga bertemu klien di ruang praktik. Mereka dengan anak-anak atau anaknya. Poinnya adalah, perilaku anak-anak dari teman-teman, kerabat, kenalan, klien tersebut, sungguh rupa-rupa warnanya. Indah.

Unik dan spesialnya setiap anak pasti membawa kebahagiaan tersendiri pada para orangtua, di samping bawaan yang kurang menyenangkan karena ulah anak juga. Kekhususan anak-anak dalam masa perkembangannya tak kurang mendatangkan suasana berbeda dengan keceriaan mereka yang khas. Oleh sebab itu saat mengamati perilaku anak-anak di dalam kelompoknya, dapat membuat orang dewasa terpingkal-pingkal karena lucunya mereka. Kepolosan dan keinginannya mencoba berbagai peran orang dewasa merupakan salah satu pemandangan yang segar. Tentu saja sedikit berbeda untuk kelompok anak-anak berkebutuhan khusus. Topiknya harus khusus juga, bukan sekarang.

Soalan untuk topik kali ini, yakni perilaku anak-anak yang di luar batas, alias kurang tepat di dalam suatu situasi. Ada anak-anak yang disebut 'manis' oleh sebagian orang dewasa, karena dapat berlaku sopan dan santun (sesuai norma-norma orang dewasa). Ada pula yang disebut 'tidak manis' karena melakukan berbagai hal yang mengganggu aktivitas orangtua, atau 'melawan' dengan kasar pada orang-orang dewasa di sekitarnya, tanpa takut.

Sebagian anak-anak tipe kedua tersebut tanpa sadar 'terlabel' di dalam hati orang dewasa yang menyaksikannya, sebagai 'anak yang menjengkelkan'. Meski tetap ada orang-orang dewasa dan orangtua lain selain orangtua si anak tentunya, yang dapat 'menerima' perilaku tersebut (sungguh-sungguh menerima, atau pura-pura menerima dengan rasa kesal di hati) dengan alasan: "tidak masalah, masih anak-anak, memang demikian."

Dewasa ini banyak ilmu dan anjuran dalam 'parenting and nursering advice' kepada orangtua agar sungguh-sungguh memahami anak-anak mereka secara unik dan special. Memberikan rasa aman, nyaman, kasih sayang, kelemah-lembutan, dan seterusnya, agar anak-anak merasa dicintai. Berikan pelukan, ciuman, tatapan kasih dan pengertian, agar dengan cinta yang diterimanya saat usia dini dapat tertanam dan kemudian terbawa di dalam kepribadiannya kelak.

Saya sepakat. Namun pertanyaannya, bagaimana dengan penanaman nilai-nilai? Peraturan, disiplin, sopan-santun, dan sebagainya? Jika seorang anak yang melakukan tingkah laku yang kurang baik, katakanlah mengganggu anak lain dengan merebut mainan yang dibawa, apakah orangtua harus juga mengambil anaknya ke dalam pelukan, membelainya, menciumnya, dan mengatakan "Ilove you"? Atau membiarkan saja tingkah anak tersebut tanpa melakukan apa-apa? Saya menuliskan ini karena saya melihat hal itu terjadi.
Mohon maaf, dalam hal ini saya tidak setuju.

Orangtua yang bersikap lembut terhadap anak, itu baik, dianjurkan. Akan tetapi, orangtua wajib juga menanamkan nilai-nilai dan norma yang benar sedari anak masih kecil, yakni saat usianya sudah cukup tepat untuk memahami. Kewajiban ini tentunya dilaksanakan dengan tetap lemah-lembut, tapi TEGAS.
Kapan ditanamkan nilai-nilai, norma dan peraturan umum tersebut? Menurut saya saat anak sudah mampu menangkap perkataan verbal orangtua yang disertai pemahaman terhadap gesture atau ekspresi orangtuanya. Ketika anak sudah mengerti jika ditunjukkan suatu mainan berikut cara mengoperasikannya, artinya dia sudah paham penjelasan verbal yang disertai CONTOH.

Ada anak yang sudah mampu memahami isi pembicaraan saat ia berusia 3 tahun, bahkan kurang. Namun anak-anak tertentu baru bisa memahami saat berusia 4-5 tahun. That's ok. Tapi tugas orangtua lah yang mula-mula memberitahukan kepadanya, termasuk memberikan contoh-contoh konkret dalam pelaksanaannya, alias teladan. Misalnya, orangtua perlu memberitahukan (menurut saya lho) bahwa pada saat antar orangtua sedang berbicara, atau bahkan hal itu terjadi di tengah-tengah acara orangtua, maka anak harus menuruti peraturan. Sebaiknya justru anak-anak tidak berada di tengah-tengah acara yang diperuntukkan bagi orangtua. Apabila ia diperkenankan berada di sana, maka perlu ada rules yang disepakati bersama.

Sepasang bapak dan ibu menerapkan suatu teknik yang cukup berjalan dengan baik dalam menanamkan nilai, norma, aturan dan disiplin pada anak. Tentunya dengan prinsip LEMBUT dan TEGAS itu tadi. Anak-anak sudah dibekali sejak dari rumah, sejak mereka mulai paham kata-kata orangtua. Tentunya tidak semua hal bisa berjalan mulus, namun pasti sebagian besar bisa terlaksana. Lalu, pada saat anak-anak dan orangtua berada di luar area kekuasaan mereka, yakni di luar rumah, bapak atau ibu akan berbicara dengan anak-anak yang turut serta bersama mereka.

Contohnya begini,
"Nak, sebentar lagi ibu akan berkumpul dengan teman-teman ibu di meja nomor 5, kamu duduk bersama adik di meja nomor 7 ya, atau ingin bermain di kamar bola?"
Ketika anak menentukan pilihannya, maka orangtua membuat kontrak berikutnya:
"Ibu berkumpul dengan teman-teman ibu yang semuanya orangtua itu tidak lama, hanya satu jam saja. Tapi mungkin bisa lebih panjang setengah jam lagi, jadi kamu harus menunggu satu setengah jam, ya,"
Jika anak menawar, ingatkan bahwa dari rumah tadi mereka sudah ada kontrak anak akan tunduk pada peraturan orangtua saat berada di tempat ini. Selanjutnya, jika anak sudah ingin gabung padahal waktu kontraknya belum selesai, maka orantua perlu tegas mengatakan: "tidak".

Bagaimana jika anak-anak membuat keributan di tengah acara orangtua? Haruskah dimarahi? Tentu bukan dimarahi, tapi ditarik dengan tegas, diingatkan, bahkan kalau perlu dibawa ke tempat yang agak jauh untuk berbicara, memperbarui kontrak. Jika anak menagis menggerung-gerung, bagaimana? Jika sudah ada penanaman nilai-nilai sejak awal, jika sudah ada saling pengertian, terlebih ada kontrak-kontrak yang dibuat dengan lembut dan tegas, tak kan terjadi pergulatan itu.

Akhirnya, tingkah laku anak mencerminkan pola asuh orangtua terhadap anak, utamanya dalam hal penanaman nilai-nilai, norma, disiplin, sopan-santun dan sebagainya. BTW, ada orangtua yang saking khawatirnya, meski sudah membuat kontrak dengan anak untuk beberapa waktu anak bermain di tempat lain yang masih dapat dijangkau pandangan orangtua, namun ketika anak terjatuh sedikit saja, orangtua sudah berlari-lari menolongnya. Wah, kapan ia bisa mengatasi masalahnya? Semua hal diambil alih oleh orangtuanya.

Maaf... lebih baik saya tuliskan daripada saya simpan saja, bukan?
peace.....
______________RS for her own blog______________

Posts Archive


PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***