Sunday, December 6, 2009

Perempuan Berbisik 52: Demos Cratein

Perempuan Berbisik 52: Demos Cratein

Tepatnya kapan untuk pertama kali saya mendengar tentang kedua kata itu? Pada usia sekolah, di bangku SD, saat mulai belajar kluster Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), lalu berlanjut dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Saya yakin ketika itu saya hanya sebagai pem-beo, peng-hapal (mati), sekadar bisa melewati ulangan-ulangan dan ujian. Tidak lebih. Karena bukankah murid sekolah formal di negeri ini lebih banyak dicekoki hapalan? Lalu tekanan agar "bisa" mendapatkan "nilai" (ponten), bukannya tekanan agar "tahu" dan "paham"?

No matter. Sesungguhnya saya lebih berminat pada cerita-cerita anak di majalah "Koentjoeng", "Bimba" (yang ketika itu masih sebagai selipan di majalah ibu-ibu), dan head-line surat kabar yang tidak saya pahami maknanya. Khusus yang terakhir, adalah upaya saya supaya dapat mengobrol dengan ayah saya, seolah-olah saya mengerti yang sedang dibacanya, padahal saya hanya menyebutkan judul besar-besar yang terpampang. Di sekolah, saya lebih suka mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur, Ilmu Alam (Fisika, bukan Biologi), dan Bahasa Indonesia.

Minat saya yang lain adalah membaca puisi, memanjat pohon, bermain perang-perangan, menjadi komentator sepak-bola untuk teman-teman laki-laki (yang sebenarnya tidak suka saya ikut-ikutan di club bola kaki kampung itu karena saya perempuan), jalan-jalan dan naik sepeda. Saya tidak bermain boneka. Tapi saya bermain dampu, engklek (dende), gundu dan kasti. Saya memiliki beberapa kelompok bermain yang terdiri atas anak perempuan dan laki-laki.

Halah! Lalu apa hubungannya dongeng tentang saya itu dengan "demos" dan "cratein"?

Begini. Meskipun tidak ingat lagi peristiwa di sekolah ketika pertama kali mendapatkan istilah "bagus" itu, namun saya ingat "permainan" yang kami (saya dan teman-teman di kampung) kembangkan terkait isu demos dan cratein ini. Tentu saja tidak hanya saya seorang yang mendapatkan pelajaran tersebut di sekolah. Semua teman-teman saya juga. Namun saya lah yang mula-mula menggunakan istilah tersebut di kelompok bermain kami.

Saya anggap sebagai istilah yang lucu dan aneh, karena berirama sama dengan suatu istilah untuk menyebutkan anak yang jorok (slordeh), yakni: "keremos". Mungkin istilah ini lebih dikenal dan dipergunakan oleh masyarakat yang mukim di wilayah utara dan tengah Sulawesi.

Jadi, ketika saya dan teman-teman berkumpul, lalu di dalam kelompok itu ada anak keremos sebagai bagian atau anggota, maka kami akan menyebutnya "demoscratein". Hahaha... Keterlaluan saya ini.

Apapun kegiatan kami, permainan apapun yang kami lakukan saat itu, selalu saja ada anak (teman) yang "demoscratein". Karena tidak semua anak-anak sudah mampu membenahi dirinya sendiri, bukan? Misalnya memilih pakaian bermain yang bersih, atau membersihkan mulut dan wajah dari sisa makanan, atau membersihkan hidung yang berleleran ingus, ataupun memakai topi dan atribut permainan yang tepat (sesuai kesepakatan hasil musyawarah kelompok saat itu).

Namun, jika diingat-ingat, saya juga heran, betapa anak-anak yang datang berkumpul (di sebuah kebun atau di halaman rumah seseorang), tidak terbersit pikiran untuk mendiskreditkan anak/teman yang demoscratein. Ia atau mereka (tak jarang lebih dari satu yang seperti itu) tetap boleh ikut bermain, mendapatkan peran dalam permainan, meski ia/mereka tetap saja dijuluki demoscratein, namanya sendiri jarang disebut.

Lalu, bagaimanakah respon teman si demoscratein itu? Tentu saja ia atau mereka segera membenahi diri semampunya; cepat-cepat menyeka mulut dan hidung dengan lengan baju, atau pada pertemuan berikut sudah lebih bebenah tampil dengan pakaian yang lumayan bersih. Permainan tetap berlangsung dalam keceriaan anak-anak.

Itulah dukungan kelompok, menurut saya (sekarang). Pada masa itu terjadi di dalam kelompok anak-anak yang belajar berperan sesuai bagiannya. Jelas, tetap ada konformitas. Setiap anak berusaha menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok bermainnya. Namun kelompok selalu bisa menemukan jenis permainan yang melibatkan semua anggota. Peran masing-masing diatur bersama, disepakati dan dilaksanakan, sampai kemudian orangtua sebagian anak mulai memanggil anaknya untuk pulang.

Demos dan Cratein, bahasa Yunani Kuno yang berarti Rakyat dan Pemerintahan. Demikian kalau tidak salah. Demoscratein (demokrasi), berarti pemerintahan yang berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Kalau tidak salah juga.
Lha?!? Demoscratein yang dipergunakan dan dikembangkan secara sembarang dalam kelompok bermain anak-anak di atas itu, kok dalam keutuhan perguliran aktivitasnya, hampir-hampir mirip dengan demokrasi?

Bayangkan. Anak-anak itu berkelompok sebagai suatu kelompok rakyat. Menata peraturan berdasarkan kesepakatan bersama. Toleran dan tetap menerima anggota yang agak "di luar jalur", bahkan mengembangkannya sehingga menjadi lebih baik (dapat membenahi diri). Setiap anggota patuh dan "nrimo". Ketidak-sukaan yang suatu saat muncul di dalam hati (mungkin merasa diberi peran yang kurang pas), dapat ditutupi dengan kegembiraan dan sukacita yang diperoleh dari kelompok tersebut secara utuh. Tujuannya adalah bermain dengan lancar dari awal hingga akhir. Sukacita kelompok adalah juga sukacitaku.

Yang penting senang dan bisa bermain, menerima dan menghayati perannya meski hanya sebagai penunggu bola kasti yang melesat terlalu jauh, misalnya. Patuh pada aturan main, melakukan peran dan bagian masing-masing sebaik-baiknya. Sepakat dan menerima, berbagi dan saling mendukung, bahkan mengembangkan yang masih kurang. Semua adalah pemimpin pada perannya. Bahkan bagi si "demoscratein".

Salam buat "demos" dan "cratein", dalam cinta tanah air pusaka.

*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Wednesday, November 25, 2009

Perempuan Berbisik 51: MENANGIS *

*
Adakalanya saya lupa untuk menangis, meski sekadar membasuh mata dari jutaan partikel yang tak pernah dapat dihambat. Tidak hanya lupa, namun nyaris tanpa ide, tanpa inisiatif. Menangis? Haruskah saya?

Saat sempat mundur bertahap-tahap pada garis waktu, sesuatu menarik saya begitu kuat. Rekaman yang belum juga pupus tertelan teknologi lapisan zaman. Suatu waktu ketika saya sangat takut pada air mata. Bukan itu saja, melainkan juga muak & mual pada tangisan. Haruskah saya menangis hanya karena deraan?

Deraan tak semata sakit, tidak melulu derita. Deraan adalah juga haru saat perasaan tak tertentukan tak terbahasakan. Deraan adalah juga resonansi rasa melalui peristiwa yang dialami sesama. Deraan adalah juga sukacita yang terekspresikan.

Namun ketika itu saya tak mampu, tak boleh, tak terampuni, tak ada tangis. Menangis adalah kamu, bukan saya. Menangis tak memiliki tempat dalam kamus saya, bahkan tak selintas-pikir meminjam kamus lain. Menangis adalah petaka, akhir dari akhir.

Maka menangis pun menjadi silabus khusus. Ketika hati saya tertawa melihat air mata, sadarlah saya bahwa modul itu harus saya ambil. Tidak ada yang menjualnya, tidak ada sekolah atau lembaga pendidikan yang membuka registrasi. Terpaksa saya harus membuatnya.

Saya telah lama lulus dari sana, mengantongi air mata yang sudah dapat merebak. Meski mungkin nilai saya tak sebaik sahabat-sahabat semua. Saya punya cetak tebal tentang menangis; bahwa ia bukan barang salah, bukan barang cacat, bukan hal yang berjenis kelamin. Ia bebas jender, ia bukan milik kaum lemah, bukan juga kaum kuat.

Menangis, sebuah kegiatan yang tepat pada saat yang tepat. Ia dapat menjadi ekspresi dan pelepasan. Ia mampu membasuh mata, membasuh hati, membasuh jiwa. Menangis, suatu ketika mengangkat spirit ke atas dan naik.

Menangislah, dengan lutut bertelut, tubuh bersimpuh, hati menengadah & kepala menangkup. Menangislah dalam seruan pasrah, jiwa berserah. Menangislah dalam sujudmu menghadap Sang Khalik Sang Maha Kasih. Menangislah karena saya, kamu, kita, milikNYA.***

RS@ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Wednesday, November 18, 2009

Perempuan Berbisik 50: Bakusedu Sadiki

So nyanda sadap kwa kita da rasa ni ta pe badang... Nyintau kiapa lei... Dapa rasa rupa so abis tu energi for bakerja. Noh bole jo noh kita pe salah dang ini dia, dari ada brapa malang stow kita nyanda ba tidor butul, dari napa tu karja pe banya nya' lei abis-abis dang kamari.

Daripada lei mo rasa-rasa tu saki, hele lei so nimbole ba tarek nafas, rupa tu batu da tindis akang dang ta pe dada ni dia (odooo mateh kasiang e keke... hahaha... dapa inga kamari lei pa ta pe Oma Ringin...)
Lebe bae dang mari jo torang bakusedu lei sadiki neh... Ada ta pe tamang da kirim kwa tu joke, dong bilang dang manado be bakusedu, hehehe...

Marrrrreeee jjjoooo daaannnggg.... tatawa neeehhh ;-)


Baku Piara

KEKE : "Utu tempo apa dang ngana mo kaweng pa kita, so malo kita orang lia lia so ba tinggal deng ngana? Bulan Oktober jo neh !"
UTU : "Oh ... nemboleh no! soalnya kita ada banya urusan dikantor bulan Oktober"
KEKE : "Kalo bagitu November jo dang."
UTU : "Adoh... kasiang jo pa ngana..... November kita mo ada pelantikan kenaikan pangkat"
KEKE : "Oh kalo bagitu Desember jo neh... biar rame"
UTU : "December kua talalo rame karna hari Natal, sabar jo... nanti January taong datang"
KEKE : "Oh... jangan January bahaya... ngana mo geger otak..."
UTU : "Dari mana ngana tahu... tukang ramal so ngana?"
KEKE : "Kita bukan tukang ramal... maar kalo so' bulan January kita mo beking picah deng botol ngana pe kapala..."
UTU : "!!/$@#?!!!"


Brapa Liter

Suatu waktu, Kale pigi pa Oom Petu pe warong. Pas sampe dimuka warong.
Kale : “Oom Petu, bli roko dang…?”
Oom Petu : (acuh sambil ba ator jualan)
Kale : (deng suara yang sadiki keras) “Oom Petu…bli roko dang ?”
Oom Petu : (masih tetap acuh)
Kale : (bataria keras skali) “Oom petu….! Bli roko dang…!”
Oom Petu : (deng nada marah) “Eh..Kale, baku hormat sadiki deng orang tua, ngana pe kira kita pongo ? Brapa liter minya so ngana mo bli ?”
Kale : ???


Tanta Ola Beli Kacamata

Tanta Ola so rasa stress, lantaran, dia kalu lia orang so sadiki babayang.
Lantaran dia pikir depe mata so rusak, dia pigi di toko kaca mata.
Pelayan : “Siang tante, ada yang boleh kita bantu?”
Tanta Ola : “Kita pe mata so rusak ini noh…cari akang kacamata yang pas dang?”
Pelayan : “Tante so pernah pake kacamata?”
Tanta Ola : “Ohh..blum….”
Pelayan : “Kalu bagitu torang priksa dulu tante pe mata. Mari tante, torang ke tampa priksa.”
Pelayan : “Tante, ini huruf apa ?” (sambil tunjung tu huruf yang sadiki basar )
Tanta Ola : “Nyanda jelas noh…”
Pelayan : “Kalu huruf ini dang?” (Sambil tunjung tu huruf yang lebeh basar)
Tanta Ola : “Masih nyanda jelas noh…”
Pelayan : “Ini komaling tanta huruf yang paling besar yang ada disini. Sekarang tanta bilang, ini huruf apa?” (sambil tunjung huruf yang depe basar
rupa piring )
Tanta Ola : “Sama noh…masih nyanda jelas”
Pelayan : (sambil garo-garo kapala lantaran bingo) “Kiapa dari tadi nyanda jelas dang tanta?”
Tanta Ola : “Kita kwa nintau babaca, ngana kase tunjung huruf. Mana kita mo tau?”


(masi ada lei, maar baku sambung jo neh...daaaggg)

Friday, October 30, 2009

Perempuan Berbisik 49: Tipe Perempuan Bercinta

TIPE-TIPE PEREMPUAN DALAM BERCINTA

Tipe ISTERI
Setia dan terus berusaha menjaga cinta suami terhadapnya. Sebelum menikah ia ingin segera menikah dan menjadi perempuan satu-satunya dan utama bagi suami. Berbagai upaya dilakukan demi tetap dicintai suami, bahkan apabila harus merasa sakit dan menderita. Meninggalkan pekerjaan, mengurangi bahkan meniadakan aktivitas bersama sahabat-sahabat, menghadiri pertemuan-pertemuan bersama suami, menuruti kehendak suami, selalu meminta izin suami untuk seluruh aktivitasnya. Ia bahkan lebih memperhatikan kebutuhan suami daripada anak-anaknya. Perempuan tipe ini telah melupakan identitas lamanya sebagai pribadi, berganti dengan identitas baru sebagai bayang-bayang suami, menyandang nama suami dengan “nyonya” adalah kebutuhan dan kebanggaannya.

Tipe IBU
Mencintai suami sama dengan mencintai anak-anaknya, namun dalam situasi memilih antara kebutuhan suami dan anak, ia cenderung mendahulukan anak-anak. Termasuk apabila harus berpisah ranjang dengan suami dan menemani anak-anak yang tidak ingin berpisah dengan ibu. Penampilan luar bukan hal utama baginya, asalkan seluruh urusan area domestic ditangani dengan baik dan memberinya perasaan puas. Tempat yang paling penting baginya adalah rumah beserta segala isinya, meski hal itu belum tentu membuatnya nyaman dan bahagia. Begitu ia memutuskan menikah dan memiliki anak, komitmennya terbangun dengan kuat untuk mengabdi sebagai ibu dan pengurus rumah-tangga. Undangan untuk berkumpul dengan sahabat-sahabat lama sering ditolak dengan alasan anak-anak dan suami.

Tipe KEKASIH
Menikah atau belum bukan hal yang terlalu penting baginya, meski sesungguhnya di lubuk terdalam ia ingin menikah, yakni menjadi kekasih bagi pasangan di dalam lembaga yang diakui. Ia cenderung memilih pasangan yang dapat mengimbangi ungkapan-ungkapan cintanya. Ia tetap menjadi dirinya sendiri, serta memiliki lingkungan pergaulan lain dan pekerjaan yang disukainya. Ia adalah perempuan yang memahami gairah, kebutuhan dirinya sendiri dan kebutuhan pasangan. Memberi dan menerima merupakan prinsip hubungan percintaannya, sehingga ia selalu dapat memberikan perhatian terhadap pasangan dan sebaliknya mampu menarik perhatian pasangannya. Hampir-hampir tak ada istilah “gengsi” di dalam kamus percintaannya apabila ia memang ingin menunjukkan perhatian sekaligus kemanjaannya terhadap sang kekasih. Ia dapat saja menjadi kekasih bagi orang lain apabila pasangannya dinilai tidak mampu mengimbangi gairah cintanya.

Tipe TERKASIH
Ia adalah perempuan yang dapat dicintai oleh banyak orang, karena ia melakukan hal yang sama. Pasangan dan sahabat sama penting baginya, meski bentuk aksi dan reaksi cinta yang diberikan kepada pasangan berbeda dengan yang diberikan kepada sahabat. Semua orang adalah sahabatnya, ia mampu menunjukkan perhatian dan cintanya kepada hampir semua orang yang dikenalnya. Ia tetap menjadi dirinya sendiri, memiliki dan menjalani pekerjaan yang dicintai, serta menata kehidupannya secara harmonis dalam suatu orkestra cinta. Apabila ia pernah memiliki beberapa kekasih dalam periode yang berbeda-beda, semua kekasihnya tetap mencintainya meski mereka tidak bersatu. Pasangan-pasangan dari perempuan tipe ini sebagian besar merasa sangat beruntung pernah menjadi yang terdekat dalam kehidupan cintanya. Ia seringkali sangat dicintai banyak orang termasuk banyak kekasih, namun “tidak boleh” dimiliki oleh siapapun.

Tipe ISTERI-IBU-KEKASIH-TERKASIH
Betapa hebatnya perempuan dan lingkungan perempuan yang dapat membangun dan memelihara hidup dan cintanya dalam kombinasi sesempurna ini.
Tantangannya: lakukanlah selagi kau dapat, wahai seluruh perempuan! Lakukan untuk kebahagiaan dan tujuan hidupmu sendiri yang sudah di-misikan dari SANA, bukan untuk orang lain, dengan demikian sesungguhnya perempuan sudah melakukannya bagi seluruh aspek kehidupan yang menyentuh semua makhluk.

RS @ own blog http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Tuesday, October 20, 2009

Perempuan Berbisik 48: L-O-V-E

(dari ketinggian tertentu)

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk mencintai seseorang yang telah saya kenal. Pertimbangan saya semata-mata bahwa saya belum pernah memberikan kesempatan pada hati saya untuk mencintainya sebagaimana bentuk-bentuk gambaran tentang cinta yang saya miliki. Dalam hal ini saya tidak peduli apakah ia tahu, atau ia merasakannya, atau bahkan memiliki perasaan cinta yang sama dengan saya. Intinya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Tanpa paksaan tanpa tekanan.

Tiba-tiba seseorang yang lain berkelebat di ruang benak saya. Ia hadir sungguh sekonyong-konyong, membawa sinyal cinta (tanpa sepengetahuannya) dan memaksa hati saya untuk setuju bahwa saya mencintainya. Lalu saya memaksa hati saya lebih keras untuk mengirimkan kabar terbaik kepadanya, yakni bisikan-bisikan cinta tanpa kata. Saya tetap tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, atau bahkan memiliki perasaan cinta melebihi yang ada pada saya. Pokoknya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Dipaksa oleh hati namun rela.

Saat merenung dalam keheningan doa, saya mendapati sebuah hati terbungkus wajah yang saya kenal. Ya, saya mencintainya. Membayangkan dekapan erat tanpa kata yang sempat teralami, melambungkan saya pada kehangatan cinta yang tak kan mungkin menjadi dingin. Saya masih saja tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, bahkan juga mencintai saya dalam kenangan-kenangan terbarui yang tak pupus. Sejatinya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Tanpa bertatap tanpa berpagut.

Sepenggal syair menghentak dalam frekuensi berirama, meleburkan sumbat aliran mikrokosmik yang mengitari tubuh. Sesosok bayangan menyelinap di balik lensa mata yang tak terselami ruang dan waktu. Benar, saya mencintainya. Betapa kuatnya cinta itu bergeletar dan menggemparkan jiwa saya, sampai-sampai saya lupa bernafas dan tersedak. Bibir saya mengucapkan kata-kata cinta penuh emosi, namun lembut dan menyesap. Saya lagi-lagi tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, bahkan juga mencintai saya sama dengan cinta saya atau lebih. Sejelasnya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Penuh emosi tapi tetap lembut.

Maka otak sadar saya pun mulai berhitung, menjumlah dan terus menjumlah. Semakin banyak dan bertambah tak henti, tiada ada satu pun berkurang. Saya mencintai semuanya dengan cara yang berbeda. Namun semua itu cinta, hati saya menyetujuinya, batin saya berseru yakin. Tidak satu pun kesalahan ada di sana.

Saya menyerang ungkapan-ungkapan banyak ahli mengenai cinta dan pengukuhan. Saya katakan saat ini di sini, CINTA TIDAK DIKUKUHKAN. Stop mencoba mengukuhkan cinta, karena tak ’kan berjalan dengan baik. Stop mencoba mengukuhkan cinta, percayalah pada saya.
Bahkan dalam perkawinan yang disepakati sebagai lembaga, cinta tidak dikukuhkan di sana. Sebab lembaga mengukuhkan komitmen. Temukan, apakah cinta juga dikukuhkan dalam lembaga itu? Jika ada, bawa kemari.

Bunda Teresa yang agung dalam sinar cintanya, berkata:
”Cinta tidak mempunyai arti jika tidak dibagikan. Cinta harus diwujudkan. Anda harus mencintai tanpa berharap apapun, lakukan segala sesuatu untuk cinta itu sendiri, tidak untuk sesuatu yang mungkin akan anda terima. Jika anda berharap sesuatu sebagai balasan, maka ini bukan cinta, karena cinta sejati adalah mencintai tanpa mengharapkan sesuatu.”

Kutipan singkat dari Sang Bunda penuh cinta menutup tulisan ini,
”Setiap tindakan cinta merupakan doa.”

RS @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Saturday, September 19, 2009

Perempuan Berbisik 47: IED MUBARROK

1 Syawal 1430 Hijriah, di Indonesia telah diputuskan oleh government-nya dan pihak-pihak ahli, yakni berjalan seiring 20 September 2009 Masehi.

Menurut saya luar biasa, karena pada hari tersebut ada lebih banyak orang beribadah secara berjama'ah. Sholat Ied dan Ibadah/Kebaktian Minggu. Setidaknya dua bentuk itu yang saya tahu. Bukan kebetulan apabila akan ada banyak orang yang mengucap syukur atas hikmat dan anugerahNYA, memohon penyertaan Illahi atas seluruh umat manusia yang dikasihiNYA, seraya memohonkan ampunan bagi saudara-saudara yang tak sempat menyelesaikan Ramadhan kali ini karena ideologinya yang (sering disebut-sebut sebagai) radikal dan yang telah menghilangkan banyak jiwa pada masa-masa terdahulu.

Apapun...
Manusia memang tiada pernah lepas dari salah, khilaf dan dosa. Hanya karena kasih Allah saja manusia dapat menjadi baik, lebih baik, dan makin baik...

Minal aidin wal faidzin.

RS on her ownblog http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Posts Archive


PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***