Wednesday, February 10, 2010

Perempuan Berbisik 57: "Siapa Saya?"

***
by Rinny
***

Alih-alih bertanya "ke dalam" dan menemukan inti dirinya pada kedalamannya, manusia lebih senang "membuktikan" siapa ia, menurut pencitraan orang lain.
Hal inilah yang mendorong orang membutuhkan "pengakuan" terus-menerus sepanjang hidupnya.

Apa yang terjadi ketika "recognising" itu berhenti? Atau tak kunjung diperoleh? Atau bahkan pandangan orang lain bukannya mengakui "hal-hal yang dibutuhkan agar diakui orang" pada seseorang. Sebaliknya mendapatkan bantahan, pengakuan terbalik (= tidak diakui), atau yang berbentuk pasif: tidak diapa-apakan alias diacuh-tak-acuh-kan (dicuekin gitu deh)?
Istilahnya: emang enak dicuekin? :-)

Merenungi diri lebih dalam dan makin ke dalam, adakalanya menimbulkan kegelisahan yang dipicu dan memicu (sebagai suatu lingkaran) berbagai perasaan. Campur aduk antara senang, bangga, sedih, kesal, marah, tak berharga, tak berdaya, bersemangat, dan rupa-rupa yang lain.

Apabila waktu berhenti untuk diri kita, dengan berkecamuknya berbagai perasaan, pikiran dan intensi, tahukah kita sesungguhnya siapa diri kita ini? Ya, siapa saya? Ada nama dan identitas. Ada pekerjaan, profesi, jabatan, rencana-rencana. Ada lingkungan sosial, mulai yang terkecil, yakni keluarga, hingga yang terbesar yang mampu kita jangkau.

Tapi, siapakah saya sesungguhnya?
Dalam pelatihan-pelatihan pengembangan pribadi, seringkali bagian "who am I?" dijadikan modul "ice breaker". Kita diminta membuat "list" mengenai diri kita dalam dua kelompok, yakni kelebihan-kelebihan (strenght) dan kelemahan-kelemahan (weakness). Berdasarkan list ini lah kemudian secara mandiri kita diajak menganalisis diri dengan suatu teknik a la SWOT (strenght-weakness-opportunities-threat). Cukupkah cara ini untuk "mengenal" diri sendiri dengan sungguh-sungguh?

Beberapa orang kemudian melanjutkan proses tersebut (agar lebih banyak mengisi list-nya) dengan teknik "Jendela Jo-Harry". Memanfaatkan masukan pihak lain tentang dirinya yang tidak diketahui oleh diri sendiri. Lalu "seolah-olah" berpasrah pada jendela ke-empat yang merupakan "jendela buta", dengan melepaskan tanggung jawab sebab hal itu "kehendak Illahi", jadi bukan tanggung jawab manusia.

Tunggu! Jika saya menuliskan upaya-upaya pengenalan diri di atas kemudian mempertanyakannya, bukan berarti saya menganggapnya salah, bukan juga menilai kurang baik.
Sebaliknya, saya menghargai usaha itu, suatu pekerjaan luar biasa yang dilakukan oleh anda dan saya, juga sebagai hal yang sangat baik dalam rangka memaknai hidup & mengisi kehidupan.

Kemudian, selanjutnya, berikutnya, setelah itu sudahkah kita menjadi jauh lebih mengenal diri kita? Siapa saya?
Saya pikir saat itu, ya.
Setelah itu? Mungkin masih "ya", dengan syarat, proses penggalian itu tidak berhenti dilakukan. Kenapa? Karena tuntutan kehidupankah, sehingga kita terpaksa harus terus mengikuti perubahan demi pengakuan atas diri kita di dalam lingkaran kelompok, dari waktu ke waktu?
Jika tidak melakukan penggalianlah, maka tuntutan terhadap diri sendiri untuk memperoleh pengakuan terus-menerus itu menjadi "seolah-olah" itu diri kita yang sesungguhnya.

Hidup itu pilihan. Hidup juga obligasi. Tanpa meletakkan tanggung jawab sebagai aspek utama, sulit untuk mengarunginya. Tanpa mengenal diri dengan terus bertanya: siapa saya? Dengan penuh tanggung jawab untuk mengisi jawabannya, kita tidak punya pegangan, selain pengakuan orang lain terhadap keberadaan diri kita di dunia.

Jadi, penting untuk terus bertanya "siapa saya" agar kita diingatkan oleh diri sendiri bahwa siapapun saya, jadi apapun saya, orang bilang apapun saya, sekalipun orang tidak melihat diri saya, orang tidak mengenal saya dengan baik, saya tetaplah sebuah surat yang perlu terus diisi untuk menyampaikan kabar cinta bagi siapapun. Sebuah surat tidak perlu dinilai, tidak perlu diakui, tidak juga perlu diberi hadiah. Sebuah surat adalah penyampai pesan, dan oleh sebab itu pesan yang disampaikan semadyanya untuk memperbaiki, untuk menjadi sumber referensi, yang ditulis dengan tanggung jawab tertinggi.

Bacalah surat kehidupanku, itulah saya. Dengan tinta emas terbaik yang diberikan Sang Khalik kepadaku, kutulis surat hidupku, seluruh pikiran, perasaan, jiwa dan spiritku. Siapakah saya? Inilah saya.

*RS* @ http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Thursday, February 4, 2010

Perempuan Berbisik 56: Tidak Berubah Juga???

Rinny Soegiyoharto menulis bisikan:

Ada yang bilang, segala sesuatu di dunia, apapun itu, pasti berubah. Utamanya pada zaman yang serba cepat saat ini, perubahan pun mengalami percepatan, yang adakalanya mendesak orang harus manut mengikuti apabila ingin bergerak bersamanya.
Pesatnya laju informasi, perkembangan teknologi, penemuan-penemuan baru yang terus bertambah di ranah keilmuan, aplikasi-aplikasi muktahir yang menyertai banjirnya produk industri, mendominasi warna kehidupan.

Manusia lintas negara, lintas kedudukan geografik, lintas budaya, bahkan lintas angkasa, terus bergerak, berubah, didorong era globalisasi, keterbukaan, pasar bebas, yang disemangati jargon: dunia ini satu.
Tak boleh dipungkiri, bumi pun bergerak. Aaahhhh…. Tidak hanya bergerak, namun bergerak-gerak. Lapisan-lapisan, patahan-patahan, daratan dan airnya, terus berubah. Kelantangan dan kelancangan perubahan bumi dan pergerakannya, tidak dapat dihentikan oleh siapa pun. Tak hanya negeri tercinta yang berguncang, tiada pengecualian pada hampir seluruh bagian bumi... Haiti, Cina, coba lihat, menari-nari bersama Indonesia dan belahan-belahan lain yang sahut-menyahut, seolah-olah tengah mengimitasi instrukturnya di atas podium.

Jadi, apakah yang tidak berubah? Ada yang bilang, yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Karena perubahan bersifat tetap, yakni berubah.

Betapa menyenangkannya apabila kata-kata yang kita ucapkan mampu serta-merta mengubah yang kita inginkan. Tetapi juga menghentikan perubahan yang tidak kita inginkan.

Seperti obsesi seorang isteri yang ingin memiliki mantera ampuh membuat sang suami tergila-gila hanya kepada dirinya seorang. Dan satu mantera lagi yang mampu menghentikan sampai keakar-akarnya, perempuan lain yang membawa sang suami berubah di pentas lain di luar rumah. Dalam hal ini perempuan atau isteri-isteri sering lupa, bahwa sesungguhnya mantera yang pertama sudah lebih dari cukup, karena mantera kedua justru menjadi penawar bagi keampuhan mantera pertama hingga bukannya tergila-gila, malah suami jadi gila menghadapinya. Lalu salah satu atau kedua-duanya mengalami kecelakaan yang disebut bunuh diri.

Atau seorang anak SD kelas 6 yang bermimpi dapat menyuruh sebutir tablet mujarab membenahi sel-sel otak di rongga kepalanya untuk menjadikannya yang tercerdas di sekolah. Hingga ia berhasil lulus UAN dengan nilai tertinggi, yang sekaligus mencabut kecemasan dan ketakutan tidak lulus, mencabut kejengkelan pada rentetan air bah kata-kata ajaib sang ibu yang tak pernah lelah bernada tinggi menyuruhnya belajar, belajar, latihan soal, menghafal, latihan soal, mengulang hafalan... Cape deeee Maaaaa... Mama ajaaa deh yang sekolaaaahhh...

Bahkan seorang atau berorang-orang bapak yang berharap, sampai-sampai berdoa, diberikan kemampuan menghipnotis (bukan hipnoterapi) para piutanger agar dirinya terbebas tiba-tiba dari timbunan utang yang melilit hidupnya dan keluarga. Gara-gara nilai uang menumpuk yang bernilai minus, alias utang tersebut, harga dirinya hancur, keluarganya terpuruk. Usahanya melakukan perubahan dengan meminta keadilan yang tampaknya didukung banyak pihak, hanya menjadi ajang unjuk perilaku quasi-prososial di atas panggung dunia, yang sukses mendongkrak popularitas sebagian pihak tampil menawan di layar kaca. Ada perubahan, memang benar, selain tak sadar dan tak sengaja ia menjadi agen pencari bakat bagi para penampil, juga tak sengaja, mengubah hidup menjadi tidak hidup. Lagi-lagi peristiwa kecelakaan yang dinamai bunuh diri akibat utang.

Skeptik terhadap situasi dan kondisi negeri tercinta ini, pun boleh jadi suatu impian tertahan untuk mengubahnya sesuai keinginan kita. Bayangkan, lebih dari duaratus juta keinginan terhadap wujud perubahan yang seperti ini atau itu, dapatkah seiring sejalan tanpa komando yang tegas dari sosok yang tak memelas mengharap belas-kasih jelata setiap hari? Lalu siapakah yang akan membelas-kasihi jelata ini? Sedangkan di ruang sidang pansus, wakil-wakil yang dipercaya oleh duaratus juta harapan akan perubahan itu pun masih terus bertempur dengan mantera masing-masing.

Kegelisahan di otak saya telah menjelma menjadi mantera yang mengundang insomnia (gangguan sulit tidur) datang. Bahkan rasa-rasanya seperti somnambolisma (tidur sambil beraktivitas) saat melucuti softcase notebook, lalu merabai papan ketik benda keras ini dengan jemari yang berkuku lentik (eeekkkkhhheeeemmm..... ;-)).
Saya bertanya-tanya (I wonder why... kayak lagu ajaaaahhh deehhh…), ’kok tidak berubah jugaaaa???
Pe-er pe-er di kepala saya banyak sekali. Saya ingin mengubah ini, mengubah itu, menghentikan perubahan ini, memperlambat perubahan itu, mempercepat yang kemarin, dan seterusnya, dan sebagainya.

Ya... benar juga. Perubahan itu tidak berhenti. Tapi ada perubahan yang tidak langsung terjadi pada diri kita, yakni perubahan yang kita inginkan. Hal itu menjerat berbagai emosi kita hanyut dan larut bersama keinginan-keinginan kita yang tidak terwujud dalam perubahan seperti yang kita inginkan. Lha??? Akhirnya jadi mbulet, muter-muter ngga ade ujungnye ’kan???
Semakin saya memikirkannya, semakin saya gelisah. Semakin saya gelisah, semakin saya memikirkannya. Terus seperti itu.
Selama masih bernama keinginan atau harapan, pastinya belum sampai ke hasil yang dituju dari keinginan dan harapan itu. Dan kita menyebutnya: tidak atau belum berubah.

Lalu sosok ibu saya tersenyum dari tempat mulianya (kalau yang ini judulnya: halusinasi yang dipaksakan :-)). Berbisik lembut dengan binar tulusnya (kendati di masa hidupnya ibu saya bukanlah sosok lembut yang lemah, ataupun lemah yang lembut, karena ia kuat dan tidak lembut :-)). Katanya: perubahan terjadi saat kamu bergerak...
Aha!!! Eureka!!!
Bergeraklah saya mengambil gitar dan menyanyi...oh bukan...bukan itu tentu saja, karena sudah lewat tengah malam bahkan hampir dini hari, tak akan saya lakukan hal itu, meski bisa.
Saya ambil laptop dan menulis. Lalu, sekarang saya tersenyum dan berbisik: sudah selesai. Tabir pun terkoyak, saya menguap lebaaaaarrrrr.... bbbllleeesssss... zzzzzzz.

RS @ own blog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Tuesday, January 12, 2010

Perempuan Berbisik 55: Dialog

*Antara saya dengan seseorang (alih-alih monolog :-))*

Seseorang: IA
Saya: RS

IA: Saya suka blog kamu.
RS: Terimakasih.
IA: Tapi....
RS: Ya...???
IA: Kamu kurang terbuka di situ.
RS: Kurang Terbuka? Maksudnya?

IA: Kamu tidak memberi-tahukan siapa diri kamu.
RS: Nama saya?
IA: Bukan... Kalau itu, ada...
RS: Jenis Kelamin? Identitas Jender?
IA: Bukan... Itu sudah jelas, bahkan dari tema blog kamu, semua orang bisa menduga dengan tepat...

RS: Ah! Ya! Status? Menikah, Tidak, atau Pernah???
IA: Itu salah satunya, meski tidak begitu penting, tapi kamu harus lebih banyak mengungkapkan status kamu. Apakah kamu tidak ingin orang lain tahu? Apabila kamu single, mestinya kamu lebih terbuka, menjelaskan kriteria pasangan yang kamu inginkan. Ataukah kemu memilih untuk tetap seperti ini? Mestinya kamu juga sampaikan pikiran-pikiran dan renungan kamu tentang hal itu.

RS: Ya, saya memang tidak menyatakannya secara eksplisit, tapi di dalam posting-posting saya ada banyak ungkapan implisit tentang kondisi status saya. Dengan demikian jelas saya tidak menutup-nutupinya. Namun soal penting atau tidak, saya justru menganggapnya tidak begitu penting saat ini, terutama untuk dibahas secara khusus. Karena saya belum memiliki rencana apa-apa, selain mengulang dongeng tentang puteri di pucuk tertinggi menara yang diselamatkan seorang ksatria berkuda, mengusung pedang dan membawa tiara untuk sang puteri.

IA: Hhhmmm, mungkin saya mengerti. Kamu merasa sepi?
RS: Justru hidup saya terlalu ramai. Saya bahkan seringkali merindukan suasana sangat sepi, sebuah oase untuk bersimpuh, mendalami seluruh isi batin, tanpa ada interupsi dari apa dan siapa pun.

IA: Seperti seorang kontemplator?
RS: Saya tidak tahu apa itu. Namun, saya juga berbahagia meski setiap saat hidup saya bukan untuk saya.
IA: Kamu sangat kompleks.
RS: Lebih tepat tanpa "sangat". Dan bukankah semua manusia kompleks adanya?
IA: Ya... (mengangguk-angguk), saya juga, tentu...
RS: Saya rasa begitu.

IA: Hal lain...
RS: Ya...???
IA: Kamu jarang sekali menulis sesuatu yang menggambarkan profesi kamu. Padahal, kamu harusnya lebih banyak menulis hal-hal yang bersifat ilmu. Banyak orang ingin belajar tentang ilmu yang terkait profesimu itu. Kenapa?
RS: Begitukah? Baik, saya ceritakan sedikit. Blog saya adalah tempat saya mencurahkan isi diri saya, bukan hanya pikiran, tetapi juga perasaan dan intensi saya. Blog, adalah salah satu oase saya, meski bukan tempat yang sepi. Saya membangunnya dan mengisi ruang-ruangnya sesuai yang saya mau. Saya menghapus dan merobohkan dinding-dinding pembatas, jika itu menghalangi pandangan saya. Blog saya adalah bagian dari perjalanan hidup saya, bukan bangunan ilmu yang disekat-sekat dan dibatasi, bukan tempat menggelar diri sebagai seseorang dengan profesinya atau apapun itu. Saya menulis tentang buku hidup saya.

IA: Baiklah, saya mengerti.
RS: Terimakasih.
IA: Ada lagi...
RS: Ya...???

IA: Adakalanya, tulisan kamu sangat simbolik, diplomatik, atau apapun istilahnya. Pilihan bahasa kamu sangat berkias, tidak dapat langsung dipahami. Seolah-olah kamu "berlindung" di baliknya.
RS: Saya menyadari hal yang satu itu... Namun saya punya jawabannya... Saya menulis dengan hati saya, meski pikiran saya tetap sebagai penunjuk arah. Saya memilih kata-kata berdasarkan perasaan, jiwa, dan spirit saya, diolah oleh pikiran, namun pengambil keputusan dilakukan bersama-sama oleh semua unsur itu. Saya baru menyadarinya (sadar pada frekuensi betha) ketika semua telah selesai.

IA: Saya punya pertanyaan...
RS: Ya...??? Yang tadi-tadi itu bukan?
IA: Oh, hahahaha... Pertanyaan selanjutnya...
RS: Okay...!
IA: Bisakah kamu menulis apabila secara fisik kamu dipenjarakan?

RS: Aha!!! Penjara yang mana 'nih? Dalam ruangan sejuk ber-AC? Ada TV flat dan perangkat karaoke? Bisa sambil 'facial' dan 'cream-bath'? Tentu saja tidak bisa. Saya akan banyak nonton 'termehek-mehek', 'insert!', 'bukan empat mata', dan lain-lain. Saya juga akan menikmati mani-padi(kur) yang selama ini jarang bisa saya lakukan... Hehehehe...

IA: Hahahahaha...
RS: Kalau dipenjarakan seperti Victor Frankle, mungkin bisa, tapi saya harap sih jangan aaahh... Hehehehe... Kehadiran fisik saya senantiasa dinantikan banyak orang lho... Hahahaha... *ge-er mode on*

IA: Okay deh, pertanyaan lain kapan-kapan saja...
RS: Tidak sekalian?
IA: Emangnya ada diskon?
RS: Bukan cuma diskon. Gratis!
IA: Bungkusin ya, 'take away'...
RS: Pake 'dry ice'???
*tutup warung, habis diborong*

*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Perempuan Berbisik 54: Label, Rasio & Emosi

*Label, Rasio & Emosi*

(Sebuah Renungan Introspeksi)

Begitu panjang perjalanan suatu label yang memuat makna dari dan di dalam multi-makna. Mempengaruhi bentuk-bentuk perlakuan dan penilaian terhadapnya sepanjang sejarah kehidupan. Memupus label tersebut bagaikan bertempur di medan perang yang terus bersambung. Seperti ketika makhluk perempuan menyatakan eksistensi utuhnya dalam berbagai kesempatan. Berperang dari satu medan ke medan perang lainnya, berlangsung di seluruh permukaan dunia, hampir-hampir sesaat sejak penciptaan, dari waktu ke waktu, abad ke abad.

Ia dipuja, disayang, dikagumi, namun pada saat yang sama juga termarjinalkan, utamanya oleh label yang masih terus diperangi.
Ah! Barangkali saya salah. Bukan label itu tuntutan utama perempuan bertempur. Mungkin memang bukan. Lalu, apa?

Karena 'toh yang mengemuka tetaplah retorika, nama-nama perkumpulan berhiaskan identitas gender. Ikatan wanita ini, organisasi perempuan itu, arisan ibu-ibu sini, kumpulan istri-istri sana, gerakan perempuan pemerhati anu, dan sebagainya. Sementara, nyaris tak terdengar soal ikatan laki-laki ini dan itu. Pertempuran laki-laki tidak perlu mengangkat identitas gender.

Hingga saat ini label tersebut tetap manis dan lantang berkumandang. Frasa dan parafrasa yang sama. Label yang diamini dengan senyum empatik oleh semua. Perempuan adalah makhluk emosional (laki-laki makhluk rasional).

Sementara pertempuran terus berlangsung. Tuntutan-tuntutan akan persamaan bersahut-sahutan. Label itu masih kokoh bertahta. Sudut kerling yang rapuh bermain dan menari di tengah-tengah medan perang. Bergelayut sembari menikmati label sebagai makhluk emosional yang butuh empati dan anggukan mahfum.

Itulah kenyataannya. Bukan pada kelompok siapa mewakili yang mana. Itu semua adalah sisi-sisi berbeda dari suatu keutuhan, bukan hanya perempuan, tapi manusia.

Lantas mengapa terus bergema makhluk emosional hanyalah perempuan? Apabila kenyataannya semua makhluk memiliki sisi rasio dan emosi sebagai suatu keutuhan setiap individu?

Mungkinkah karena perempuan lebih sering mengumumkan isi emosinya ketimbang makhluk lain? Saya rasa tidak juga. Buktinya sebagian besar perkelahian, tawuran, debat panjang berapi-api, dilakukan laki-laki. Bukankah hal itu adalah pengumuman isi emosi yang marah, kecewa, selain takut, cemas, sedih, gusar?

Ataukah perempuan dianggap lebih mudah menangis? Ah, itu 'kan juga akibat dari label yang terlanjur dipatrikan, hingga laki-laki harus berupaya menyembunyikan air mata untuk tetap tampil sebagai makhluk rasional (menangis = emosional?).

Artinya, label tersebut memarginalkan semua makhluk hingga terpaksa tampil dengan hanya sebagian dari keutuhan dirinya.

Ya. Barangkali begitu. Untuk sementara, begitu saja dulu introspeksi ini. Saya (perempuan yang dari venus, katanya), pun bisa masuk gua dan kembali berpikir. Menyelami kedalaman batin yang tak pernah kering, namun senantiasa haus.

*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Thursday, December 31, 2009

Perempuan Berbisik 53: Tiga Puluh Satu Desember Dua Ribu Sembilan

"AH!"

hari ini
hari ke tigapuluh satu
bulan duabelas
tahun duaribu sembilan

saat ini
saya menyeruput kopi susu
menatap layar berkedip
berpikir

saat ini
saya coba mengais huruf-huruf
memilih kata demi kata
merangkai frasa

saat ini
saya masih saja mencoba
merenung-renung
menyeruput kopi sampai habis

saat ini
saya masih juga mengais-ngais
memilih-milih
kopi saya tinggal ampas

saat ini
saya iseng menekuri
lereng-lereng
pada ampas kopi di cangkir

saat ini
saya tersenyum
tidak ada apa-apa
ampas kopi bisa apa?

saat ini
saya tersedak ludah sendiri
bercampur sisa manis
gula dalam kopi susu

"Ah!"
kata-kata saya sebanyak apa pun...
tak kan mampu menandingi kasih luar biasa NYA...
sepanjang duaribu sembilan???
tidak hanya!!!
bahkan janji NYA sudah bersemai hangat terasa di hati
sebelum kumasuki duaribu sepuluh sebentar lagi...

"Terimakasih Duhai ENGKAU!!! yang tiada terukur menyemai kasih cinta MU!"

Mari dekap penuh ungkap syukur dan semangat dan harapan puncak menatap gerbang warsa...
Selamat Tahun Baru - Happy New Year - Slamat Tombaru Jo Dang - Sugeng Warso Enggal -

RS @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Sunday, December 6, 2009

Perempuan Berbisik 52: Demos Cratein

Perempuan Berbisik 52: Demos Cratein

Tepatnya kapan untuk pertama kali saya mendengar tentang kedua kata itu? Pada usia sekolah, di bangku SD, saat mulai belajar kluster Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), lalu berlanjut dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Saya yakin ketika itu saya hanya sebagai pem-beo, peng-hapal (mati), sekadar bisa melewati ulangan-ulangan dan ujian. Tidak lebih. Karena bukankah murid sekolah formal di negeri ini lebih banyak dicekoki hapalan? Lalu tekanan agar "bisa" mendapatkan "nilai" (ponten), bukannya tekanan agar "tahu" dan "paham"?

No matter. Sesungguhnya saya lebih berminat pada cerita-cerita anak di majalah "Koentjoeng", "Bimba" (yang ketika itu masih sebagai selipan di majalah ibu-ibu), dan head-line surat kabar yang tidak saya pahami maknanya. Khusus yang terakhir, adalah upaya saya supaya dapat mengobrol dengan ayah saya, seolah-olah saya mengerti yang sedang dibacanya, padahal saya hanya menyebutkan judul besar-besar yang terpampang. Di sekolah, saya lebih suka mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur, Ilmu Alam (Fisika, bukan Biologi), dan Bahasa Indonesia.

Minat saya yang lain adalah membaca puisi, memanjat pohon, bermain perang-perangan, menjadi komentator sepak-bola untuk teman-teman laki-laki (yang sebenarnya tidak suka saya ikut-ikutan di club bola kaki kampung itu karena saya perempuan), jalan-jalan dan naik sepeda. Saya tidak bermain boneka. Tapi saya bermain dampu, engklek (dende), gundu dan kasti. Saya memiliki beberapa kelompok bermain yang terdiri atas anak perempuan dan laki-laki.

Halah! Lalu apa hubungannya dongeng tentang saya itu dengan "demos" dan "cratein"?

Begini. Meskipun tidak ingat lagi peristiwa di sekolah ketika pertama kali mendapatkan istilah "bagus" itu, namun saya ingat "permainan" yang kami (saya dan teman-teman di kampung) kembangkan terkait isu demos dan cratein ini. Tentu saja tidak hanya saya seorang yang mendapatkan pelajaran tersebut di sekolah. Semua teman-teman saya juga. Namun saya lah yang mula-mula menggunakan istilah tersebut di kelompok bermain kami.

Saya anggap sebagai istilah yang lucu dan aneh, karena berirama sama dengan suatu istilah untuk menyebutkan anak yang jorok (slordeh), yakni: "keremos". Mungkin istilah ini lebih dikenal dan dipergunakan oleh masyarakat yang mukim di wilayah utara dan tengah Sulawesi.

Jadi, ketika saya dan teman-teman berkumpul, lalu di dalam kelompok itu ada anak keremos sebagai bagian atau anggota, maka kami akan menyebutnya "demoscratein". Hahaha... Keterlaluan saya ini.

Apapun kegiatan kami, permainan apapun yang kami lakukan saat itu, selalu saja ada anak (teman) yang "demoscratein". Karena tidak semua anak-anak sudah mampu membenahi dirinya sendiri, bukan? Misalnya memilih pakaian bermain yang bersih, atau membersihkan mulut dan wajah dari sisa makanan, atau membersihkan hidung yang berleleran ingus, ataupun memakai topi dan atribut permainan yang tepat (sesuai kesepakatan hasil musyawarah kelompok saat itu).

Namun, jika diingat-ingat, saya juga heran, betapa anak-anak yang datang berkumpul (di sebuah kebun atau di halaman rumah seseorang), tidak terbersit pikiran untuk mendiskreditkan anak/teman yang demoscratein. Ia atau mereka (tak jarang lebih dari satu yang seperti itu) tetap boleh ikut bermain, mendapatkan peran dalam permainan, meski ia/mereka tetap saja dijuluki demoscratein, namanya sendiri jarang disebut.

Lalu, bagaimanakah respon teman si demoscratein itu? Tentu saja ia atau mereka segera membenahi diri semampunya; cepat-cepat menyeka mulut dan hidung dengan lengan baju, atau pada pertemuan berikut sudah lebih bebenah tampil dengan pakaian yang lumayan bersih. Permainan tetap berlangsung dalam keceriaan anak-anak.

Itulah dukungan kelompok, menurut saya (sekarang). Pada masa itu terjadi di dalam kelompok anak-anak yang belajar berperan sesuai bagiannya. Jelas, tetap ada konformitas. Setiap anak berusaha menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok bermainnya. Namun kelompok selalu bisa menemukan jenis permainan yang melibatkan semua anggota. Peran masing-masing diatur bersama, disepakati dan dilaksanakan, sampai kemudian orangtua sebagian anak mulai memanggil anaknya untuk pulang.

Demos dan Cratein, bahasa Yunani Kuno yang berarti Rakyat dan Pemerintahan. Demikian kalau tidak salah. Demoscratein (demokrasi), berarti pemerintahan yang berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Kalau tidak salah juga.
Lha?!? Demoscratein yang dipergunakan dan dikembangkan secara sembarang dalam kelompok bermain anak-anak di atas itu, kok dalam keutuhan perguliran aktivitasnya, hampir-hampir mirip dengan demokrasi?

Bayangkan. Anak-anak itu berkelompok sebagai suatu kelompok rakyat. Menata peraturan berdasarkan kesepakatan bersama. Toleran dan tetap menerima anggota yang agak "di luar jalur", bahkan mengembangkannya sehingga menjadi lebih baik (dapat membenahi diri). Setiap anggota patuh dan "nrimo". Ketidak-sukaan yang suatu saat muncul di dalam hati (mungkin merasa diberi peran yang kurang pas), dapat ditutupi dengan kegembiraan dan sukacita yang diperoleh dari kelompok tersebut secara utuh. Tujuannya adalah bermain dengan lancar dari awal hingga akhir. Sukacita kelompok adalah juga sukacitaku.

Yang penting senang dan bisa bermain, menerima dan menghayati perannya meski hanya sebagai penunggu bola kasti yang melesat terlalu jauh, misalnya. Patuh pada aturan main, melakukan peran dan bagian masing-masing sebaik-baiknya. Sepakat dan menerima, berbagi dan saling mendukung, bahkan mengembangkan yang masih kurang. Semua adalah pemimpin pada perannya. Bahkan bagi si "demoscratein".

Salam buat "demos" dan "cratein", dalam cinta tanah air pusaka.

*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

Posts Archive


PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***