Tuesday, May 10, 2011

Perempuan Berbisik 90: BELANGA NASI

*by RinnyS*
*** *** ***
"BELANGA NASI"
Rinny Soegiyoharto: untuk saudara-saudara dan sahabat-sahabat terkasih.

Saat santap malam tiba, goropa garo rica, kangkung cah bunga pepaya, dabu-dabu lilang, tude kuah terang, terasa kurang sempurna nikmatnya tanpa nasi putih panas mengepul. Meja makan yang berjejak di atas lantai papan oak pun lengkap dan semarak setelah semangkuk besar nasi terhidang. Hanya dua meter dari situ, dodika (tungku) masih menyisakan asap kecil di ujung-ujung kayu bakar. Belanga besi bulat besar berdiameter 30 senti kira-kira, dengan pantat melegam, tergeletak rapih di samping tungku. Dari belanga itu nasi putih diciduk, dan tus-tus-nya (kerak nasi, intep) dikelupas utuh, sebagian jadi hidangan, sebagian masuk ke dalam mug besar Opa. Air putih hangat dengan kerak nasi dibubuhi sedikit garam, konon dapat melegakan pernapasan dan memelihara metabolisme tubuh.
Kisah ini hanya secuplik ingatan kenangan saya pada sebuah desa di Sulawesi Utara, dalam sesusur garis waktu tengah 70-an, abad 20.

Hingga saat ini, bagi sebagian besar penduduk Indonesia, nasi yang mengasup karbohidrat kebutuhan tubuh, tetap primadona. Terbukti negeri kita masih juga mengimpor beras dari negara-negara tetangga untuk memenuhi kebutuhan lumbung-lumbung, bukankah demikian? Kendati areal persawahan yang terserak di seluruh penjuru nusantara, mestinya potensial. Ketrampilan penggarap tampaknya bisa 'outstanding' andai dikelola sistematik dan dengan perlengkapan memadai selaras teknologi yang katanya berkembang dan kian modern :-). Penggarap produktif mestinya bisa mendapatkan hak proporsional (pada posisi tawar yang tinggi) atas hasil garapannya. Dan harga beras (mestinya) terjangkau seluruh lapisan masyarakat. (*Sedih, di abad 21 ini tetap saja dijumpai kelompok-kelompok masyarakat yang tidak mampu beli beras :-(*)

Perangkat dan komponen teknis bukankah cukup tersedia sejak puluhan tahun lalu? Perguruan tinggi yang mengampu materi ajar dan praktik pertanian, misalnya, dengar-dengar sih mumpuni. Tapi bisa saja saya keliru dengar :-). Kemana alumni-alumninya ya? Tidak ada (alih-alih sangat segelintir) yang minat pada urusan sawah-padi-beras-nasi? Atau tidak masuk silabus ajar? Saya tidak banyak tahu, karena saya hanya pengkonsumsi nasi, bukan membuat beras (*sedikit sedih*). Mungkin seharusnya saya dulu belajar mengurus proses per-beras-nasi-an, ya? Supaya saya tidak 'menuding-nuding'. Nyatanya saya malah di-perajar-kan soal manusia dan konstruksi mental-sosialnya. Tahukah teman? Cita-cita masa kecil saya yang terus bertahan hingga lepas sekolah menengah sesungguhnya bidang konstruksi dan desain bangunan. Ha ha ha ha... (*belok* ;-))

Oleh-oleh yang dibawakan adik saya beberapa waktu lalu sepulangnya dari negeri jauh, masih bersisa dalam sebentuk catatan di benak saya. Mendengarkan kisah itu saya memang berdecak kagum, berpikir sambil merekamnya. Kisah nyata dari negeri jauh yang tak banyak memiliki lahan subur. Hasil observasi, percakapan dan bukti-bukti foto, cukup memetakan deskripsi bagi saya yang tidak melihat langsung.
Negara itu belum pernah kehabisan bahan makanan pokok berupa gandum dan kentang. Tidak impor. Upaya pemerintahnya sungguh-sungguh keras, fokus dan serius agar kebutuhan makanan pokok bagi seluruh masyarakatnya terpenuhi dengan sangat baik. Keterbatasan lahan bukan penghalang, justru dioptimalkan efektif dan efisien. Infrastruktur bidang pertanian untuk menjamin kelangsungan ketersediaan pangan, tidak tanggung-tanggung. Peralatan modern tentu saja jadi pilihan dan ditunjang sumber daya manusia yang 'outstanding' di bidang itu. Makna 'outstanding' bukan hanya soal latar belakang pendidikan dan kemampuan bersekolah, juga mencakup kompetensi dan komitmen yang berwawasan kenegaraan dan tertuju pada visi kesejahteraan penduduk.

Tahun ke tahun produksi bahan pokok tersebut selalu berjalan dengan lancar. Kendati penanggung jawab dan para penggarap harus secara cermat memperhitungkan datangnya musim gugur dan musim dingin yang membatasi kerja di tanah garapan, sekaligus harus tetap memenuhi kebutuhan pangan sepanjang musim tidak produktif tersebut. Tercatat, setiap musim dingin tiba, saat produktivitas pertanian istirahat total, lumbung-lumbung pangan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh kota dan area mukim masyarakatnya. Luar biasa, bukan? Dan yang lebih luar biasa lagi, tidak ada kenaikan harga bahan pangan di saat kondisi perekonomian sedang merosot! Hingga semua orang mampu beli bahan makanan, kebutuhan utama manusia menjalani hidup. Hhhhmmmm... Meskipun, hidup 'kan bukan dari roti saja... (*senyum*)

Secercah optimisme menyala di perasaan saya, bahwa negeri Nusantara negara Indonesia bukannya tak mampu mengupayakan ketahanan pangan masyarakat sebagai bagian dari ketahanan nasional. Ketahanan pangan sedikitnya dapat menjadi faktor pengurang terhadap angka kemiskinan. Bayangkan saja, semua orang bisa makan kenyang, karena mampu beli beras dan bahan pangan lainnya. Bukankah itu membuat hati manusia (masyarakat) merasa kaya? Mudah-mudahan saya punya teman-teman yang berpikiran sebangun dan similar mengenai isu ini.

Kembali ke paragraf pertama, deretan menu lengkap itu. Terpaksa pikiran saya berjalan-jalan lagi di garis waktu. Berhenti tidak jauh dari periode itu, yakni ketika ibu saya mulai mengajarkan cara mempersiapkan semua jenis menu tersebut, termasuk cara menanak nasi di belanga bulat tanpa dandang pengukus. Usia saya belum 10. Dorongan kuat untuk lebih suka bermain di halaman daripada mengurus tetek-bengek dapur, membuat saya bertanya gusar pada ibu saya,
"Kenapa saya harus memasak? Apakah karena saya perempuan???" Saya sangat tidak terima, merasa tidak adil jika karena perempuan saya harus bisa memasak!
Dengan tegas ibu saya menjawab,
"Memasak bukan pekerjaan perempuan ataupun laki-laki! Jika kamu bisa memasak makananmu sendiri, itu hanya satu bagian kecil saja dalam kamu belajar mandiri untuk kehidupanmu yang masih panjang."

Hidup Mamiku! I miss you, forever!

Ditulis bebas dan curcol, oleh:
Rinny Soegiyoharto.
Babe Jawa, Nyak Minahasa.
Kewarganegaraan Indonesia!
(8 Mei 2011)
___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Saturday, April 16, 2011

Perempuan Berbisik 89: CINTA DAN KEPENTINGAN

*by RinnyS*
*** *** ***
CINTA DAN KEPENTINGAN

Aneh? Saya 'kok getol menyoal CINTA? Tanpa tanya-tanya siapapun, saya memang ingin menyatakan bahwa topik CINTA tak pernah membosankan buat saya. (Eekkkhheeemmm...)

Pergolakan kehidupan sosial manusia yang pada dasarnya makhluk sosial (3/4 waktunya dihabiskan bersama-sama dengan orang lain dalam konteks sosial), mengkondisikan manusia sebagai individu senantiasa dan semestinya memiliki rasa. Kumpulan berbagai rasa atau perasaan, tercitra dan mewujud dalam kehidupan setiap kita, baik secara individual maupun (lebih-lebih lagi) sosial.

Lalu saya lihat, rasa dan perasaan menjadi kian dominan dalam berbagai konteks. Terutama CINTA sebagai suatu kluster perasaan, marak dalam berbagai situasi dan peristiwa. Meski tidak disebutkan eksplisit, namun tampak usaha pelaku peristiwa ingin mencuatkan 'cinta' sebagai dasar lakunya.

Ribet ya kata-kata saya? He he he... Memang agak ribet mengungkapkan maksud dalam kata-kata yang terbatas. (Atau memang vokabulari saya yang terbatas. Halah!)
Supaya (terkesan) asertif, baiklah saya katakan saja sekarang, yang saya maksud 'atas nama cinta' banyak orang melaksanakan berbagai aktivitasnya dengan bertolak pada niat (intensi), tujuan dan coraknya masing-masing.

Oleh sebab itu saya (lagi-lagi) 'ngobrol CINTA saat ini.
Apa sebenarnya CINTA?
Apakah jika saya katakan "aku cinta kamu" itu sudah cukup untuk memperlihatkan saya benar-benar cinta?
Ada banyak teori dan definisi mengenai 'cinta' sesuai cara pandang dan hasil penelitian. Sudah ada beberapa yang pernah saya posting di sini (blog).
Namun sekarang saya sedang malas bicara teori.

Akan tetapi lagi, mestinya memang ada suatu kesepakatan bersama supaya bahasa dan bahasan CINTA kita tidak 'ngelantur. Tapi ternyata saya memang sedang ingin 'ngelantur, sebab saya cinta kamu. Enak betul saya buat pernyataan demikian ya...
Jadi kalau saya 'ngelantur berarti saya cinta? Kalau ada orang bilang "saya pukul kamu karena saya cinta", apakah itu benar dan dapat dibenarkan sebagai wujud cinta?

Ada juga sekelompok orang menyatakan cinta pada keilahian, sehingga atas nama cinta mereka membunuh orang lain yang (dianggap) tidak cinta keilahian. Sebagian (besar) orang juga berucap lantang betapa cintanya pada negeri dan negara, dan pada jelata serta kesejahteraan jelata, lalu berlomba-lomba menduduki kursi kekuasaan demi cinta tersebut.

Cinta juga kerap menjadi kendaraan yang permisif hingga orang-orang memiliki lebih dari satu pasangan romantik dalam episod-episod hidupnya (kawin ataupun tidak, lawan jenis ataupun sejenis). Bukankah cinta yang telah mempertemukan dan menyatukan?
Bahkan, juga karena cinta katanya, ada orang yang membatasi pergaulan pasangannya agar tidak dicintai orang lain. Meski dirinya sendiri tak jauh-jauh dari kesibukan berbagi rasa dan waktunya dengan lebih dari satu pasangan.

Berbagai pelatihan motivasi dan pengembangan diri yang subur saat-saat ini, saya lihat hampir 100% bermain di wilayah rasa dan kluster-kluster perasaan, utamanya mengangkat cinta sebagai nilai (value). Tentu saja tidak ada yang salah. Bahkan baik adanya. Sebab rasa, perasaan dan cinta sebagai bagiannya, pasti ada dalam diri manusia. Barangkali kecuali amigdala dan hipocampus sudah hancur. Begitu pun tidak ada jaminan orang tersebut benar-benar telah kehilangan rasa sama sekali.

"Cintailah semua orang dengan tulus tanpa syarat, maka segala sesuatu akan berjalan indah dan penuh cinta dalam hidup Anda". Demikian kira-kira hantaran banyak fasilitator yang menghela audiens agar selalu punya dan selalu menjaga rasa yang disebut cinta. Pada apapun akan terasa mudah dan lancar, apabila cinta mewujud dari rasa menjadi laku. Termasuk untuk berjualan dan mengumpulkan materi.

Itu sebab saat ini saya 'ngobrolin cinta yang dikaitkan dengan kepentingan. Bahwa apapun terasa bermakna dan segera mencapai tujuan apabila cinta terus penuh terisi.
Salahkah?
Tidak salah. Apabila cinta itu benar-benar tanpa syarat, memang demikian mestinya cinta itu.
Adakah cinta yang seperti itu?

Kalau cinta berkaitan dengan kepentingan, maka syarat-syarat terbangun di dalamnya. Maka mestinya hakikat cinta tidak lagi berakar pada yang luhur dan yang sejatinya cinta.

Teman saya bilang: ketika kita cinta pada sesama atau sesuatu "meskipun" ia begini dan begitu, itulah cinta sejati.
Maka, apabila cinta itu bertujuan, atau disebabkan oleh, atau demi untuk, dan sebagainya, yang bermuara pada kepentingan, tampaknya perlu kita pertanyakan ke dalam diri masing-masing. Ada atau tiada kah keluhuran cinta sejati di sana?

"Ajarilah kami bahasa CINTA-MU..."

___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Thursday, February 24, 2011

Perempuan Berbisik 88: Selembar Bulu Sepotong Gabus

*by RinnyS*
*** *** ***
Shuttle-cock dalam permainan olahraga badminton, adalah sepotong gabus lembut dan berlembar-lembar bulu halus menancap padanya.
Betapa semua perhatian dan konsentrasi tertuju pada benda itu. Benda yang sesungguhnya sederhana, namun rapi dan penuh makna. Pemain, penonton, wasit, hakim garis, kamera...semuaaaanya tertuju pada sepotong gabus dan berlembar-lembar bulu itu....

Sedangkan aku....

Aku bagaikan selembar bulu,
Aku ringan dan rapuh,
Aku halus dan pucat,
Aku mudah cemar meski hanya sedikit noda,

Celupkan aku pada merah kesumba,
Aku akan sama merah dengannya,
Tiupkan aku dengan hembusan melesat,
Aku akan melayang ikuti arahnya,

Aku bagaikan sepotong gabus,
Aku ringan dan rapuh,
Aku bertekstur dan renyah,
Aku mudah hancur meski tak meleleh,

Tusukkan jarum atau ujung peniti ke tubuhku,
Aku akan berlubang dan makin rapuh,
Hanyutkan aku ke dalam riak kali kecil,
Aku akan melenggang ikuti gelombangnya,

Apalah aku apalah aku?
Selembar bulu sepotong gabus,
Kemanakah kemanakah?
Selembar bulu sepotong gabus,

'Kan kucari tubuh itu,
'Kan kucabuti bulu-bulu itu,
'Kan kurangkai dalam gemulai benang sutera,
Biarkan meronce terus dan terus...

Kemanakah kemanakah?
Selembar bulu sepotong gabus,
Terlalu ringan untuk di sini,
Juga terlalu untuk di sana,

Lebih baik mereka pergi,
Ke arah angin dan ke arah air,
Ke penjuru-penjuru yang tak memandang rupa,

Sebab,
Sesungguhnya,
Selembar bulu sepotong gabus,
Muak sudah pada semua ini,
Semua yang hanya memandang rupa,
Yang tak pandang selembar bulu dan sepotong gabus,
Yang tidak punya rupa apa-apa,

"Walau dunia melihat rupa, namun KAU memandangku, sampai kedalaman hatiku..."

___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Friday, December 31, 2010

Perempuan Berbisik 87: Poetryleidoscope/Puisileidoskop 2010

*by RinnyS*
*** *** ***
Poetryleidoscope/Puisileidoskop 2010

*tak perlu hiraukan, ini istilah semata, yang sekonyong-konyong hadir di ambang pra-sadar*
-Rinny La Princesa-

***
Menikmati geletar waktu,
Ia hampir sampai,
Lalu mengulangi awal,
Menapak, merayap,
Berlari lambat dan cepat,
Tapi tak pernah berhenti,
Setidaknya sepanjang ini.

***
Garis-garis masa berbekas di belakang,
Terbenam tinggalkan jejak-jejak.

Tak terasa garis batas segera dipinta,
Semacam garis Pauli yang takhluk pada sang masa,
Namun tetap ada harap pada sang pena,
Ada harap jua pada sang tabula,

Cepatlah selesaikan,
dan segera tambah lembar baru,
Atau tak habis lembar lama,
Lalu masa mengambil alih,
Segalanya dapat jua berakhir,
sebelum ada sempat membalik lembar.

Tiada yang 'kan sungguh mengeluhkan,
selain diri kita,
selain aku selain kamu,

***
Jejak-jejak itu mampukah kuhitung?
Jejak-jejak itu dapatkah kuhapus?
Jejak-jejak itu mungkinkah kutukar?

Sedangkan tebalnya rupa-rupa,
Bahkan juga berbercak warna,
Warna dasar, warna kedua, warna komplementer,
Ada merah tertumpah basah,
Mengaliri sukma bagai nila tak berpenawar,

Tigaratus enampuluh lima,
Sudahkah semua?
Setiapnya terisikah penuh?
Dengan warna dan dengan jejak tebal?
Atau dengan pinsil keras abu-abu,
yang tak mampu torehkan jejak,
tanpa peras peluh keras,
tanpa pegas nafas lepas,
tanpa getas luka pedas?

***
Ada keindahan bahagia,
ukir senyum dan tawa,
Ada kepiluan derita,
ukir ngilu dan tangis,

Ada keberhasilan bangga,
ukir puas dan semangat,
Ada kegagalan prahara,
ukir sesal dan jatuh,

Ada cinta ada benci,
Ada suka ada duka,
Ada kasih ada marah,
Ada tangguh ada jatuh,

Ada janji ada harapan,
Ada ingkar ada kecewa,
Ada cembung ada datar,
Ada sunyi ada eforia,

***
Yang tetap,
Ada yakin kuat sangat,
Tak goyah tak berubah,
Bahkan kian mantap,
hingga akhir dari awal,
dan awal dari akhir,
jujur dalam aksi,
jelas tegas dengan bukti,
Rasa yakin pun terpateri erat,
tiada yang dapat memungkiri,
sekalipun dalam hati yang tak diketahui.

Yang tetap,
Ada roh ada jiwa,
Ada akal ada pikir,
Ada hati ada rasa,
Ada jejak-jejak,
untuk dikenang,
untuk diteladan,
untuk dipelajari,
untuk dicintai,
sebab ia bagian dari hidup dan kehidupan kita...

***
Dengan pikiranku,
kembaraku tak kan pernah berujung,
Ciptaku pasti selalu hadir,
dalam irama permainan alam,
dalam musik kebebasan lepas,
Tiada sekat di ruang imajinasi,
Yang ada hanya benih,
Yang tak henti disemai dengan cinta Illahi.

Datanglah datanglah warsa berikut,
Sebab kau datang tak kuundang,
Kau pulang tak kuantar,
*Kok kayak tagline-nya Paman Jae-(langkung), ya? Ha ha ha...*

"Selamat ulang tahun, mengulang tahun, yang sama-sama punya senin selasa rabu kamis jum'at sabtu minggu, yang sama-sama punya januari februari maret april mei juni juli agustus september oktober november desember. Sudahkah punya kalender baru? :-)))))..."
___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Monday, December 27, 2010

Perempuan Berbisik 86: Anak, Boneka dan Bola

*by RinnyS*
*** *** ***
Anak, Boneka dan Bola

Messy-ku yang cantik,

Sejak sore Mama sudah sibuk di depan meja riasnya, setelah pagi hingga siang 'nguplek' di dapur dengan Si Mbok. Padahal aku tahu Mama ngga akan kemana-mana. Sebentar lagi Papa pulang dengan serombongan teman-temannya, begitu kata Mama.

Selepas Mahgrib rumah ini gegap-gempita. Kulihat raut wajah Mama bersemu merah jambu, tersipu-sipu dengar pujian sana-sini pada hasil karyanya seharian ini. Memang betul sih, makaroni panggang, pastel tutup, salad mangga, sup jagung krim, rolade ayam, steak tuna, kentang pure, puding caramel, punch buah, yang dibuat Mama bersama Si Mbok, luaaarrr biasa lezatnya. Sayang sekali perut mungilku ini ngga sanggup menyantap semua jenis makanan itu.

Messy-ku yang cantik,

Apakah kamu mau makan juga? Tapi hati-hati ya, rambutmu kan baru kusikat rapi, jangan sampai kecipratan saus steak, terlalu coklat dan lengket, he he he...

(Messy, adalah boneka besar milikku. Dia cantik sekali. Warna rambutnya pirang, panjang dan mengkilap. Aku rajin menyikat rambutnya yang ikal itu, lalu mengikatnya dengan pita berwarna emas. Duh, makin cantik dia. Messy sudah 17 tahun, aku sendiri masih 5 tahun, tapi rasanya aku sudah seumuran dengan Messy-ku.)

Messy-ku yang cantik,

Kamu dengar ngga itu, sorak-sorai, gerutuan, teriakan, komentar-komentar, di ruang tengah? Mama, Papa, dan teman-teman mereka riuh banget ya, lebih riuh dari aku dan teman-teman sekolahku saat kami menyoraki Bu Guru yang cantik dan menyenangkan itu.

Mereka semua di ruang tengah cuma nonton televisi, lho... Di layar TV ada 22 orang rebutan bola kuning. Tapi ribuan orang bersorak-sorai ramai di sekelilingnya. Lalu, ada suara yang cerewet betul ngga berhenti-berhenti. Kok bisa ya Messy, suara cerewet itu tahu persis siapa yang kakinya sedang menempel di bola kuning. Nanti aku tanya ke Papa deh, mudah-mudahan Papa mau menjelaskannya padaku.

Messy-ku yang cantik,

Bola kuningnya mirip banget dengan bola kita, ya. Itu yang di dalam kotak hijau. Tapi kalau kita yang bermain dengan bola kuning itu, pasti Mama ngga akan masak heboh, ngga akan dandan cantik kayak malam ini. Papa juga ngga akan pulang ke rumah dengan serombongan teman-temannya. Mungkin Papa malah pulang seperti biasa, waktu aku sudah tidur pules, pasti sudah di atas jam 10 malam tuh.

Messy-ku yang cantik,

Mereka di ruang tengah makin heboh saja ya. Coba dengar tuh, suara Oom dan Tante yang sangat keras, seperti sedang ngomel-ngomel. Ooooo... Mereka kayaknya kesal, karena jagoannya ngga main bagus. Mungkin mereka memang pintar bermain bola, ya, jadi bisa ngomel-ngomelin pemain jagoannya yang kurang pintar menurut mereka. Sssstttt... Aku dengar juga, mereka bilang wasitnya curang. Wah, kalau curang mestinya dikeluarkan saja dari lapangan, ya. Kayak waktu Bu Guru menyetrap teman kita di sekolah, karena curang bermain. Kata Bu Guru, yang curang berarti berbohong, berbuat salah. Itu sangat tidak baik buat banyak orang.

Lho? Aku dengar juga, mereka bilang penontonnya curang. Aduh, gawat ya kalau penonton saja bisa curang. Tapi bagaimana caranya? Penonton kan ngga main. Mestinya pemain ngga usah peduli sama penonton. Kata Bu Guru, kalau kita sedang bermain, apalagi sedang belajar, kita harus konsentrasi, jangan boleh terganggu macam-macam.

Hhhhmmmm, aku dengar juga ada suara Oom yang bilang pemain jagoan mereka 'keblinger'. Apa ya maksudnya? Oooo... Itu coba dengar, katanya pemain ngga usah jadi selebritis, apalagi sering diwawancara dan dipuji-puji, sampai keluarganya pun diwawancarai. Aduh, kok ruwet banget ya permainan bola itu!

Messy-ku yang cantik,

Bu Guru bilang, dalam pertandingan, dalam perlombaan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Jadi kita harus selalu gembira, kalau menang gembira, kalau kalah jangan sedih. Aduh, kalau aku kalah lomba menggambar, terus dimarahin Mama Papa, aku pasti sedih dan menangis. Kata Bu Guru, yang penting kita harus semangat terus, berusaha terus, harus berbuat yang paling baik. Bu Guru bilang, kalau kita berbuat yang paling baik dan terus semangat berusaha, itu pasti berhasil. Menang atau kalah kan ada di pertandingan. Kalau berhasil, itu ada dimana-mana.

Mereka di ruang tengah makin ramai saja. Sampai-sampai Papa Mama lupa padaku. Untung ada kamu, Messy-ku. Yuk kita cari bola kuning, kita main di ranjangku ya. Mumpung Mama ngga lihat, karena biasanya Mama melarang bola kuning kita ada di tempat tidur. Ayo, kamu jadi lawanku ya Messy. Goooolll... Kamu menang Messy, tapi aku ngga sedih, aku pasti bisa memasukkan bola ke gawangmu.... Naaahhh betul kan??? Horrreeee... Satu sama...!

Messy-ku yang cantik,

Aku sudah lelah, kamu pasti lelah juga. Sekarang kita istirahat saja ya. Ayo cuci kaki dan tangan dulu, terus ganti baju, lalu kita bobok. Biar saja deh Papa Mama dan teman-teman mereka masih riuh di ruang tengah. Biarkan mereka puas teriak-teriak dan sibuk jadi komentator.
Asalkan besok pagi Papa Mama tetap cium aku seperti biasa. Malam ini mungkin mereka akan cium aku larut malam, setelah teman-temannya pulang. Bola kuning hebat betul. Semoga jagoan mereka menang dan terus semangat.

Selamat bobok, Messy. Selamat malam. Sini aku cium pipi kamu. Mmmmuuaaahhh buat Messy.

:-)))))))


___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Monday, December 13, 2010

Perempuan Berbisik 85: Komunikasi Politik

*by RinnyS*
*** *** ***
Komunikasi Politik

Beberapa tahun lampau, saya pernah mengajar di sebuah perguruan tinggi, untuk satu mata kuliah 'unik' di PT tersebut, yakni: MK Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communication). Unik, sebab ini satu-satunya mata kuliah di luar ilmu-ilmu teknik dan komputer. Berbeda dari apa yang mahasiswa di sana pelajari sehari-hari. Saya pun menggunakan metode yang berbeda dari sistem pengajaran yang ada. Lebih banyak praktik dan berlatih, jadi seperti training atau workshop. Sekali waktu saya sakit dan harus dirawat di rumah sakit, hingga terpaksa bolos mengajar. Mahasiswa 'memarahi' saya saat saya masuk lagi. Rupanya mata kuliah ini jadi favorit yang mereka tunggu-tunggu. Harus saya akui, kendala melaksanakan isi mata kuliah ini jauh lebih besar daripada mengajarkannya.

Well, inti dari mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi, sesungguhnya adalah membahas komunikasi yang merupakan bagian dari perilaku (behavior) dan informasi (information). Mencakup pengertian dan pemahaman, aspek-aspek, dinamika, keterlibatan, sikap, intensi, motif, kognitif, afektif, konatif, persepsi, self concept, self awareness, self image, ability, dan sebagainya. Terpenting dari semua teori itu, adalah praktik. Bagaimana berlatih dan luwes, menjadi kebiasaan yang mengendap di bawah sadar sebagai bagian dari diri seseorang. Sekali lagi, harus saya akui, mengajarkannya (bahkan dalam latihan-latihan) jauh lebih mudah daripada mempraktikkan. Namun saya rasa masih lebih baik ada yang mengajarkannya dan bersedia mengubah diri bersama-sama di dalam proses tersebut, daripada tidak sama sekali, bukan? 

Berbicara soal komunikasi, suatu istilah yang kerap diangkat adalah Komunikasi Politik. Kini, Komunikasi Politik menjadi penting dalam perubahan-perubahan negara dan bangsa yang luar biasa, juga penyelenggaraannya. Secara kasat mata perubahan-perubahan tersebut dipengaruhi oleh komunikasi, antara lain diwakili oleh ungkapan-ungkapan verbal lisan tokok-tokoh politik bangsa ini.

Apakah Komunikasi Politik?

Dari situs shvoong.com, ASMRomli (2010) dalam ringkasannya tentang Pengertian Komunikasi Politik, menulis:
Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”.

Selanjutnya:
Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang konkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Tak heran jika ada yang menjuluki Komunikasi Politik sebagai neologisme, yakni ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka.

Dalam praktiknya, komunikasi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik.
Mengutip Gabriel Almond (1960), ASMRamli 2010) juga menulis: komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik.

Selanjutnya dituliskan bahwa kegiatan komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensinya, baik aktual maupun potensial, yakni yang mengatur perbuatan manusia dalam kondisi konflik, mencakup: komunikator (politisi, profesional, aktivis), pesan, persuasi, media, khalayak dan akibat-akibatnya.

Latihan dan Media

Keberhasilan dan kegagalan aktor politik menyampaikan pesan kepada masyarakat, akhirnya menjadi penilaian tersendiri soal kepiawaian mereka melancarkan komunikasi politik. Masyarakat, yang dalam hal ini menempati posisi sebagai ”yang diperintah” makin kritis menerima pesan dari ”yang memerintah”. Oleh sebab itu, rasa-rasanya format komunikasi politik sendiri perlu diperkuat dengan berbagai pelatihan, lokakarya dan pengukuhan diri.

Terlibat dalam program penguatan politik bagi perempuan, yang antara lain juga merealisasikan lokakarya Komunikasi Politik, sedikit banyak mulai membimbing saya pada pemahaman yang lebih nyata dan implementatif. Antara lain dengan mengizinkan emosi saya terlibat dalam penyusunan nilai-nilai (value), agar komunikasi politik tidak berhenti sebagai sebuah neologisme. Setidaknya, penetapan nilai-nilai yang kemudian dikembangkan dalam silabus dan kompetensi yang terukur, lokakarya yang digelar mampu mewariskan jejak-jejak ilmu dan rasa pada partisipan, yang diharapkan benar-benar dapat diimplementasikan dalam percaturan politik negeri ini. Partisipan adalah aktor, baik yang sudah duduk di posisi ”yang memerintah” maupun yang sedang dalam perjalanan ke sana.

Hanya nilai-nilai sederhana yang akhirnya diputuskan untuk diangkat dalam pengembangan modul, kemudian menjadi bahan evaluasi setelah program terselenggara. Dari pergumulan pikiran dan rasa dalam kelompok kecil yang memiliki visi dan misi yang sama, ketika itu kami mengangkat nilai-nilai lokal negeri ini, yakni ”asih, asah, asuh”. Selanjutnya dibangun dalam 15 (lima belas) kompetensi yang menjadi bahan ajar dan latihan dalam 15 sesi pertemuan. Meski tampaknya belum bagus benar, tapi hasil evaluasi cukup membuktikan bahwa program tersebut efektif. Dan hingga saat ini masih terus digali dan dikembangkan, dievaluasi dan direvisi, dan terbuka untuk terus berkembang mengikuti perubahan yang mengiringi zaman, situasi dan kondisi. Namun, nilai-nilai yang berpijak pada kekuatan kearifan lokal negeri ini, terus dipertahankan, karena dari sana lah semua berangkat, dan akan kembali ke sana saat implementasiyang dilakukan oleh para aktor sudah nyata dan teruji.

Sebagai elemen masyarakat yang tak lepas dari jebakan analisis dan kajian komunikasi politik, suguhan media (cetak dan elektronik) merupakan paparan sehari-hari yang tak terhindarkan. Debat politik sebagai sebuah tontonan di media televisi misalnya, menggerakkan pemirsa hanyut dalam analisis dan gejolak emosi. Saya tidak berbicara soal benar atau salah. Justru media merupakan suatu alat yang menjembatani komunikasi politik terjadi. Berbicara tentang media, berarti mencakup seluruh sumber daya yang menjadi kekuatan media itu sendiri. Seorang atau sekelompok aktor politik mestinya memiliki kemampuan media handling.

Seorang sahabat terbaik saya, Almarhum Yuniawan Wahyu Nugroho, insan pers/media yang memiliki komitmen dan dedikasi tinggi terhadap profesi hingga akhir hayatnya, pernah berbagi tips dalam suatu event yang saya selenggarakan. Menurutnya, saat menjalin hubungan dengan media, aktor politik, kelompok/partai, bahkan perusahaan, sesungguhnya bertujuan untuk membangun citra (image building) dan menggaet jubir alias juru bicara dari pihak indipenden (media, yang diwakili oleh wartawan).

Ia juga menyatakan bahwa setiap aktor (politik) harus mau dan mampu memahami media dan kinerja wartawan, serta berhubungan dengan wartawan. Sebab wartawan menyukai relationship dan eksklusivitas, maka para aktor perlu memfasilitasi hal-hal tersebut. Selanjutnya ia juga secara terbuka dan dengan semangat berbaginya yang tinggi, memaparkan soal aktivitas media handling. Dikatakannya ada 2 (dua) jenis aktivitas, yakni: Media Direct dan Media Indirect.

Media Direct meliputi: Press Conference, Media Gathering, Press Release, Product Launching, Test Drive.
Media Indirect meliputi: Jurubicara tidak resmi, Penulisan artikel opini, Penulisan artikel features, Feeding information, Focus Group Discussion (FGD), Seminar pihak ketiga, Event pihak ketiga.

Selain itu ditekankannya pula mengenai pentingnya memanfaatkan media online, dengan mengoptimalkan keunggulan press release online, e-mail yang efektif dan komunitas maya. Hal ini mengingatkan saya pada aktivitas tim sukses Presiden Barrack Obama pada masa-masa kampanyenya, bahkan sebelum itu, dalam memanfaatkan media online dan internet untuk berkomunikasi dengan khalayak, hingga harus diakui keberhasilan yang luar biasa menjaring pendukung dari berbagai penjuru negara bagian.

Jelas-jelas saya bukan ahli dalam bidang ini, sesungguhnya saya tertarik saja dan mencoba memahami dengan berbagai cara, termasuk melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas yang dapat memberikan jawaban terhadap keingin-tahuan saya mengenai politik secara umum. Pelibatan diri artinya membuka pintu pikiran, perasaan dan dorongan bertindak, hingga dapat mengakses seluas-luasnya sumber yang ada. Apabila saya menulis (seperti ini), artinya saya sedang belajar dari sumber-sumber yang pernah saya serap dan dituangkan kembali dengan cara tutur saya. Latar belakang pendidikan saya sendiri Psikologi, barangkali itu salah satu sebabnya saya tertarik pada banyak hal, bahkan saya sadar umur hidup saya tidak akan cukup untuk menjawab dorongan-dorongan saya.
Semoga bermanfaat. Kalau bagi diri saya ’sih pasti bermanfaat .

Rinny Soegiyoharto
___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

Posts Archive


PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***