Allow Our Spirit To Speak, Prophesy, and Act Through Our Soul, Heart, Mind, Body....... "The Human Spirit is The SPIRIT of CREATOR"
Tuesday, February 24, 2015
#225 - To Consider Network Strategy
harus mempertimbangkan 3 (tiga) hal berikut:
1)Apakah Selaras Dengan Kebutuhan & Minat Kita?
Misalnya dapat digali dengan pertanyaan-pertanyaan:
Apa yang ingin kita pelajari melalui jejaring tersebut? Mengapa? Dimana kita dapat memperoleh pengetahuan & pemahaman yang kita butuhkan? Dari siapa?
2)Selaraskah Dengan Kepribadian Dan Bakat Kita?
Dapat digali dengan pertanyaan-pertanyaan:
Bentuk jejaring atau situasi pertemuan seperti apakah yang membuat kita lebih mudah & cepat menyesuaikan diri serta merasa nyaman? Dimanakah/situasi apa yang kita sukai untuk berbagi & mendengarkan hal-hal terbaik untuk kita?
3)Apakah Jejaring Itu Sesuai Dengan Waktu Yang Kita Miliki Dan Anggaran Finansial Kita?
Dalam hal ini diperlukan pemikiran & pertimbangan yang realistik.
#RSQ - dikutip dari artikel Allison Jones ::
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Monday, January 26, 2015
#224 - Pribadi, Trauma, Konflik, Keterampilan Sosial
Masih ingatkah yang terjadi saat kita masih kanak-kanak hingga remaja?
Ketika bergaul dengan teman-teman di sekitar rumah, dengan teman-teman sekolah, bahkan dengan sahabat-sahabat pena karena media sosial pada saat itu mungkin belum lahir.
Pelajaran pertama untuk menjalin pertemanan di luar lingkungan keluarga datangnya dari mana?
Adakah yang dengan sengaja diajarkan oleh orangtua masing-masing?
Sebelum kita melangkahkan kaki untuk pertama kalinya keluar pintu rumah, apakah ada pelajaran-pelajaran khusus yang orangtua berikan?
Mungkin sebagian dari kita menjawab: YA, ada.
Dan sebagian yang lain menjawab: TIDAK ada.
Lalu sisanya menjawab: TIDAK TAHU, karena tidak jelas bentuknya.
Saya pikir, sebagian besar kita sebenarnya tidak secara langsung diberi pelajaran tentang "melangkah keluar rumah" oleh orangtua masing-masing.
Hal umum yang dilakukan adalah memberikan nasihat-nasihat berupa nilai-nilai penting yang perlu diingat saat kita berhubungan dengan orang lain. Misalkan pada sisi spiritual: jangan lupa berdoa; ingat selalu berbuat baik; bertemanlah dengan orang baik; jauhi pergaulan yang buruk; jangan dekat-dekat dengan anak nakal; dan seterusnya.
Biasanya bahkan cenderung hal-hal standar terkait etika pergaulan.
TETAPI tidak dilatih keterampilan khusus untuk menghadapi berbagai kemungkinan reaksi dan respons orang-orang yang bakalan kita jumpai di luar sana.
Juga tidak dipenuhi pengetahuan dan informasi yang mendukung, kecuali informasi yang sifatnya: Hitam-Putih, Baik-Buruk, Patuh-Nakal, dan sebagainya.
PADAHAL,
Bukankah hidup ini cenderung didominasi ABU-ABU dimana-mana? Ketidak-jelasan dan kejelasan yang tidak punya ukuran.
Kita belum tahu hal-hal itu pada langkah pertama keluar rumah.
NANTI, setelah kita menemui masalah atau kagok atau apapun peristiwa yang menyenangkan, menyakitkan, menghebohkan, meragukan, lalu kita terlihat sedikit berubah, sebagian orangtua mulai menyampaikan pengetahuan-pengetahuan sosial tambahan. Ada yang obyektif, tapi rasanya sebagian besar bersifat subyektif.
CONTOH, waktu kita sedih karena kehilangan setip (penghapus pinsil) di sekolah, lalu ternyata teman sebangku kita yang 'meminjamnya' untuk seterusnya. Apa yang terjadi pada reaksi orangtua? Mungkin ada yang berusaha memberi rasa tenang dengan membujuk dan membelikan yang baru. Tapi banyak juga yang kemudian melarang kita bergaul dengan teman itu. Itulah subyektivitas dalam pelajaran sikap dan perilaku.
Kita bingung?
Ya. Kita menghadapi konflik luar biasa. Tidak boleh berteman dengannya lalu dengan siapa? Kalau dia nanti berkumpul dengan teman-teman lain apakah aku tidak boleh ikut berkumpul dengan mereka?
Cerita sedikit di atas itu hanya contoh. Salah satu yang kecil sekali yang terjadi pada masa-masa kita belajar menjalin hubungan dengan orang lain di luar anggota keluarga.
TAPI, contoh kecil itu bermakna BESAR. Karena dari situlah kepribadian dan keterampilan sosial kita mulai dibentuk. Cara berpikir kita tentang orang lain, tentang situasi, tentang cara berhadapan, tentang coping (cara mengatasi rasa yang tidak nyaman), tentang kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain, dan banyak hal lagi terkait proses pembentukan diri kita sebagai pribadi yang kelak menjadi orang dewasa, dipengaruhinya.
Ya, dipengaruhi oleh hal-hal kecil yang terjadi dalam proses itu.
TRAUMA dalam kehidupan sosial, tidak saja yang berukuran besar dan kuat seperti pelecehan seksual dan kekerasan. Namun peristiwa-peristiwa yang menciptakan rasa nyaman / tidak nyaman yang merangsang kemampuan kita beradaptasi, juga bisa menjadi peristiwa TRAUMATIK.
Sampai di sini,
Sekarang mari kita masing-masing mengajak pikiran kita pada berbagai hal yang kita alami saat ini. Pada waktu kita sudah dewasa, memiliki beragam lingkungan: pekerjaan, pergaulan, komunitas, organisasi, dan lain-lain.
Lihat salah satu cara kita menghadapi konflik, misalnya dengan teman sekerja di tim (pekerjaan apa saja). Teman yang menurut kita sangat keras dan dominan. Apa yang kita lakukan?
Coba ingat-ingat, pernahkah di masa kanak-kanak dahulu, atau masa remaja (usia 11-19 tahun) kita pernah mengalami pengalaman yang mirip?
Tapi karena kita tidak tahu bagaimana harus menyikapinya, maka kita lalu "trial & error". Mencoba dengan cara sendiri yang menghasilkan sesuatu, entah itu baik atau buruk; menyenangkan atau menyakitkan; atau kita abaikan saja semua rasa yang ada.
Naaahhh... Apakah hal itu terjadi sekarang? Cara kita menghadapi situasi yang dulu itu juga cara yang sama yang kita pakai saat ini?
Itulah pengalaman sosial yang membentuk kepribadian kita dan menentukan perilaku yang kita pilih.
Apabila ternyata tidak sama, berarti kita keliru dalam memetakan pengalaman sekarang dengan pengalaman masa lalu.
Coba cari lagi.
Bagaimana selanjutnya?
Ada yang bisa dijelaskan dan ada yang tidak perlu dijelaskan.
Ada yang sifatnya sangat pribadi sehingga perlu penanganan secara pribadi juga, ada yang dapat didiskusikan di dalam kelompok.
Mari kita bicarakan hal ini melalui forum-forum.
Atau melalui KONSELING dan atau PELATIHAN.
Silakan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saturday, January 17, 2015
#223 - MYSTERY
namun tak teridentifikasi.
Ia menciptakan banyak gelombang,
lalu dibiarkan berarak tak tentu.
Misteri adalah teka-teki, yang
boleh diselami digerigiti dicari,
sampai ke ujung-ujung selasar,
tapi seringkali menawan masygul menyisakan gusar.
Suatu ketika, ada cahaya terang menyilaukan mataku,
dengan tubuh mungil terseok kuberanjak mengikutinya
setelah sempat membalas manis senyum sosok dalam cahaya itu.
Jasad terbujur berbalut setelan putih kaus kaki putih kaus tangan putih
yang bersidekap di atas dipan kayu di tengah-tengah ruangan penuh orang dewasa itu
ternyata tidak mampu tersenyum seperti tadi.
...Misteri...
Pada sekian masa kemudian,
saat kukira aku tak terlelap, kudengar suara-suara memanggilku,
ada yang coba menahan dan menarik-narik tanganku.
Aku terus melangkah dengan mata terbuka,
menerabas melalui ruang demi ruang,
melewati sumur pompa yang berderik saat gagangnya disentuh angin.
Aku mendapati pintu gudang terbuka,
menatap lurus ke atas atap yang tak berbatas dengan udara langit,
dan di sana bertengger sosok lelaki berjubah abu-abu,
ia jongkok sambil tertawa mengejekku,
tawanya membahana nyaring seperti tawa perempuan tua yang gemetar.
Aku menghardik mengusirnya.
Kulemparkan bintang kecil di genggamanku ke arahnya.
Sejenak ia melengking menangis ketakutan,
lalu berlari melompat ke ranting jamblang di balik tembok gudang.
Ia berteriak menyebutku ratu. (Apakah maksudnya? Hingga kini ku tak pernah tahu).
Lalu kulihat ibu-bapakku mendapatiku.
Seseorang memberiku minum.
Ibu-bapakku menuntunku ke kamar, melewati ruang demi ruang.
...Misteri...
Juga misteri, ketika rasa tak terkatakan, bercampur baur segala rupa warna dan bentuk,
Ketika aku meraba-raba dalam gelap, belajar dari rasa yang hanya bisa dijamah oleh ujung saraf.
Rasa yang tak dihantar kemana pun, hanya berputar memenuhi wadah tak berbentuk,
ia yang tak ingin didefinisikan, hanya bersedia diikuti lalu dilepaskan...
Juga misteri, ketika taufan dan badai mengamuk di samudra lepas,
dan aku berayun-ayun di dalam bahtera mungil tanpa pendayung tanpa sauh tanpa jangkar tanpa kemudi,
Kemanakah Nakhodaku pergi?
Aku diajari memercayainya tanpa syarat,
aku diyakinkan senantiasa berserah sepanjang hidup,
aku dipateri menyerahkan nyawaku tiap saat,
Walau,
Ngeri aku pada tiang-tiang kapal, bahkan di pelabuhan kutepiskan pandangku dari mereka,
...Misteri...
Tak 'kan kuselesaikan rangkaian kata-kata ini,
Lebih baik kubiarkan menjadi misteri,
Sampai waktuku tiba...
#RSSH
#MKJ_Jan2015_Rinny
_________________
#RinnySoegiyoharto
_________________
Monday, December 29, 2014
#222 - Manusia, Kehidupan, Suka-duka, Bencana
Pas untuk renungan akhir tahun. Dengan banyak peristiwa; suka dan duka, perorangan maupun kelompok. Dengan berbagai musibah di penghujung tahun ini yang mewarnai negeriku.
***
Kita rapuh. Kita semua pernah terluka.
Kita harus belajar hal-hal yang menyakitkan. Kita semua pulih dari beberapa kesalahan, kehilangan, pengkhianatan, penyalahgunaan, ketidakadilan atau kemalangan. Kehidupan adalah proses pemulihan yang tidak pernah berakhir. Kita masing-masing harus menemukan cara untuk menerima dan bergerak melewati rasa sakit, lalu bangkit sendiri kembali. Untuk setiap bersit kesedihan, depresi, keraguan atau keputusasaan, membawa pembaruan bagi kita yang datang pada waktunya. Setiap tragedi adalah tanda bahwa hal-hal baik akan datang pada waktunya. Bersabarlah.
-Bryant McGill
# #PrayFor #
#Keluarga
#Sahabat_Kerabat
#Umat_Manusia
#Penyintas_Bencana
#BanjarNegara
#Banjir_Jakarta_Bandung_dll
#Kebakaran_Klewer_dll
#AirAsia_QZ8501
#Tuhan_Kasihanilah_Kami
#RinnySoegiyoharto
Thursday, December 25, 2014
#221 - Peringatan Kelahiran Kristus
Dari tahun ke tahun selalu dibahas mengenai "halal-haram" ucapan Natal ini.
Apa ngga bosen ya?
Sebagai pengikut Kristus (umat Kristiani), jika ada yang mengucapkan "Selamat Natal" kepada saya, maka saya akan mengucapkan terimakasih dengan sukacita dan mengamini doa-doa yang disampaikan bersama ucapannya tersebut.
Namun jika ada teman atau kerabat atau bahkan keluarga yang tidak mau mengucapkannya karena pertimbangan dalil-dalil dan hukum agama yang dianutnya, maka saya tidak akan pernah mempersoalkannya.
Diucapkan, disalami, didoakan, bahkan dikunjungi pada saat Natal, bagi saya adalah bentuk sikap hangat dan menghargai sebagai sesama anggota masyarakat dalam konteks hidup bersama secara sosial.
Hal tentang iman, penghayatan, ucapan syukur, terkait Natal dan rangkaian ibadah serta jamuan syukur, tidak dipengaruhi oleh ucapan selamat yang berduyun-duyun.
Begitu pula hal perdebatan mengenai tanggal kelahiran Yesus Kristus (yang hingga kini diperingati setiap 25 Desember oleh sebagian besar umat Kristiani), bagi saya bukan suatu masalah yang berpengaruh terhadap kadar keimanan.
Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Allah, dan mengimani Tuhan Yesus Kristus adalah Anak Allah, dan kepada Roh Kudus yang diturunkanNYA untuk menolong manusia ketika Tuhan Yesus telah naik ke Sorga, yang dapat saya lakukan adalah mengucap syukur dalam segala perkara.
Seraya mengingat kata Alkitab:
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan anakNYA yang tunggal. Supaya setiap orang yang percaya kepadaNYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16).
DIA lah Yesus Kristus. Yang kelahiranNYA diperingati setiap 25 Desember dengan Hari Natal. Sebagai bukti KASIH ALLAH yang luar biasa bagi manusia.
"Selamat Natal"
"Selamat memperingati hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus, untuk mengingatkan kepada orang-orang percaya bahwa DIA lahir untuk kita, DIA datang untuk kita..."
Immanuel...!
_________________
#RinnySoegiyoharto
_________________
Monday, December 22, 2014
#220 - Hari Perempuan (22-12-2014)
22 Desember,
Hari Perempuan Indonesia.
Mengingatkan pada senyum kasih perempuan utama
yang di rahimnya aku meringkuk hangat sembilan purnama lamanya.
Sang Maha Kasih meniupkan roh ajaran tak usang melaluinya,
untuk kukenang dan ejawantahkan dalam perjalanan hidupku,
pun setelah ia tak lagi menempati raga fana yang kuakrabi 64 tahun 10 bulan 28 hari.
Ajaran kasih tak bersyarat,
Asah asih asuh yang terpatri melalui raga, pikir, jiwa dan roh.
Hari perempuan bagiku adalah hari ibu, hariku, hari segenap perempuan.
Selamat menghayati hari perempuan,
Untuk perempuan dan laki-laki.
sincerely yours,
Rinny Soegiyoharto Psy
Http://suara-hati-rinny.blogspot.com
PEREMPUAN = SRIKANDI ?
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

