Monday, April 6, 2009

Perempuan Berbisik 27: Tanggung Jawab Menyongsong PEMILU

"saya mempersembahkan dengan damai penuh, apa yang menjadi milik negeriku, apapun yg terjadi & seperti apapun situasi di negeriku, saya bertumbuh di sini, saya mencintai Indonesia-ku, dan saya sadar, meski amat sangat kecil, saya adalah bagian dari proses demokrasi ini, saya pasti nyontreng tgl 9/4 berdasarkan suara hati..."

Kalimat di atas telah saya tulis pada "kolom status" halaman facebook saya. Setelah melalui berbagai pemikiran, tukar pikiran dan perasaan dengan cukup banyak rekan, perbincangan dan celotehan ringan di dalam lingkaran handai-taulan, saya yakin kalimat itulah yang ingin saya ucapkan dan telah saya ucapkan, bahkan tuliskan di suatu halaman publik yang dapat saya jangkau (baca: facebook saya).

Sebagai warga negara Indonesia, negeri yang sungguh-sungguh saya cintai ini, apakah yang dapat saya persembahkan selain melaksanakan amanat perjalanan masa depan negeri ini? Saya mengagumi dan sangat menghargai aktor-aktor sejarah bangsa ini, para pejuang dan pendahulu, saya menghormati semua presiden dan pejabat negara, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang dimiliki. Saya mengagumi pelaku demonstran, para mahasiswa, serta orang-orang muda yang berani berkonfrontasi, menyuarakan harapan dan cita-cita, berjuang di era pasca kemerdekaan, menggulirkan konsep reformasi, dan pada sebagian yang tetap setia mengupayakan reformasi itu.

Saya bangga pada para perempuan, kaum saya, yang terus bertambah-tambah dalam hal intelektual, keberanian menyerukan kesetaraan, berkiprah dalam berbagai bidang, di pemerintahan dan non-pemerintah. Tak kalah penting pada musim PEMILU, meraih suara dalam upaya memenuhi quota 30% di parlemen. Saya berharap dan berdoa, calon-calon legislatif perempuan tetap anggun di panggung politik, meski adu strategi begitu keras dan adakalanya meleset dari rel regulasi. Perempuan hendaknya tetap tunduk pada regulasi dan rambu-rambu strategi.

Perempuan mestinya memiliki hak-hak yang sama sebagai warga negara, namun perempuan Indonesia memperjuangkan hak-haknya, yang sebagian telah didengarkan dan coba dipenuhi, sebagian besar masih terus diperjuangkan. Ibu Kartini pasti tersenyum bahagia di "sana", gebrakannya tidak sia-sia. Saya rasa ia tidak terlalu mempedulikan perayaan ulangtahunnya pada setiap tanggal 21 bulan ke-empat, esensi nilai-nilai luhur dan konsep perjuangannya yang jauh lebih penting dan berharga. Ia sudah berbisik pada banyak perempuan, saya rasa, dan terus berbisik agar kaumnya terus unggul tanpa melupakan ikhwal kodrati perempuan sejati.

Kepedihan dan kesesakan pada proses penyelenggaraan negara yang sudah berlangsung, mungkin dirasakan sebagian besar warga negeri ini. Namun saya rasa kita juga perlu melihat secara "covered both side" (pinjam istilah insan pers), bahwa kita, aahhh... saya sajalah, tumbuh, kembang, belajar, makan, bahkan buang air, ya di negeri ini. Fasilitas negara yang dibangun dari upeti, uuupppsss... kewajiban pajak bagi rakyat, masih dapat saya nikmati, meski adakalanya jika sempat menghitung-hitung, belum seimbang dengan kewajiban yang sudah dilaksanakan rakyat. Saya anggap saja sebagai subsidi silang antar rakyat. Dalam hal ini, saya menerapkan azas, "Berikan pada Kaisar yang menjadi milik Kaisar (negara), berikan pada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan". Kalau sudah begini, saya sering terhenyak, karena pada dasarnya yang ada pada saya 100% adalah milik Tuhan. Perpuluhan, bahkan terlalu kecil dibanding 100% berkatNYA yang tiada berkesudahan.

Beberapa tahun lalu, saya pernah terlibat dalam suatu proyek penerbitan sebuah buku (terimakasih kepada Mas Wawan, Mas Aris, Mbak Mise, dan yang lainnya), yang mana saya berhadapan langsung dengan penulis, pelaku, dan melakukan riset kecil terkait thema utama yang diangkat dalam buku tersebut. Selain merangkai ulang kalimat-kalimat dan memeriksa diksi, ternyata saya juga perlu berperan secara quasi-partisipasi, terus-terang sangat mendebarkan. Pengalaman baru yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya dalam kehidupan saya yang nyaris mainstream sepanjang waktu. Dalam proses tersebut saya temukan, keikhlasan menerima berbagai kesakitan sebagai warga yang gerak-geriknya sangat terbatas, cukup ampuh untuk menjalani kehidupan dan tetap menyatakan kecintaan pada negeri.

Kebingungan sebagian warga negeri ini, utamanya saat membayangkan lembaran surat suara segede koran, belum lagi dengan 48 partai dan ratusan probabilitas nama caleg, mengguratkan rasa putus asa. Selama musim kampanye berbagai janji berkumandang, iklan-iklan di media (yang saya yakin hasil kerja kreatif insan advertising dan media) berjejalan silih berganti. Apa yang harus saya pilih? Haruskah saya memilih? Seberapa penting suara saya dalam penghintungan nanti? Dapatkah pemilih diyakinkan bahwa dalam penghitungan tidak akan ada kecurangan atau manipulasi surat suara?

Tidak ada yang pasti di dunia ini selama semua hal masih mungkin berubah, bahkan bermutasi. Bagaimana pilihan langkah kita menyikapi perubahan demi perubahan sepenuhnya bertumpu pada rasa tanggung jawab masing-masing pribadi. Demikian menurut saya. Penting tidaknya pendapat saya dalam hal ini tidak saya pusingkan. Saya hanya ingin menuliskan pemikiran dan perasaan saya saja. Karena waktu mencontreng tinggal menghitung hari, saya memiliki pilihan yang harus saya ambil dan bertanggungjawab penuh dalam damai terhadapnya. Kembali pada azas yang saya pegang, saya akan memberikan yang menjadi milik Kaisar (negara), yakni tanggung jawab saya sebagai warga negara yang meski sangat amat kecil, merupakan bagian dari proses bergulirnya demokrasi dan pembelajaran-pembelajaran penting di dalamnya.
Maka saya pasti mencontreng, berdasarkan suara hati dan doa, meski bukan yang terbaik atau yang akan jadi pemenang, semua harus tunduk pada Undang-undang penyelenggaraan negara yang bertujuan mulia ke masa depan. Masih ada langit di atas langit. Ada mata Tuhan yang mengawasi dari tempat luhurNYA.

Selamat mencontreng saudara-saudaraku, sebangsa-setanah-air.
RS for her own blog.
_____________________

Saturday, April 4, 2009

Perempuan Berbisik 26: A-L-A-S-A-N

Setiap tindakan, disadari atau tidak, pasti memiliki alasan. Betapapun itu hanyalah langkah kecil yang kita ambil, apalagi yang besar, disertai tanggung jawab yang besar pula, bahkan pertaruhan.

Terhampar beraneka pilihan dalam kehidupan kita. Senantiasa. Pilihan-pilihan itu seluruhnya menuntut kecerdasan kita untuk menentukan keputusan lalu bertanggungjawab terhadapnya. Pernahkah anda bingung memilih? Saya juga, bahkan sering. Beberapa jam yang lalu, misalnya, saya memiliki dua undangan, setidaknya saya anggap undangan agar alasan saya bertanggungjawab terhadap keduanya menjadi lebih ringan ketimbang saya menganggapnya kewajiban untuk menghadiri.

Setelah menimbang, saya memilih datang ke komunitas yang lebih saya kenali dan mengenal saya. Pilihan yang aman, alasannya pun memberikan rasa aman dan menjanjikan kenyamanan, saya tidak perlu menjadi orang asing di awal pertemuan. Saya cukup melambaikan tangan sesampai di tempat pertemuan, maka orang-orang yang sudah hadir akan menyambut saya dengan senyum dan memperlihatkan sikap penerimaan.

Dalam perjalanan menuju ke tempat itu, saya merenung. Betapa mudahnya saya menjatuhkan pilihan demi rasa aman dan nyaman. Bagaimanakah perasaan orang di tempat lain yang telah sungguh-sungguh mengundang saya? Apakah saya tidak terlihat egois (meski tak ada yang tahu alasan saya terhadap pilihan ini, kecuali Tuhan, yang ternyata justru makin membuat saya menggoreskan kemasygulan) dengan pilihan ini?
Terdorong perasaan malu dan gamang, saya mulai mencari-cari alasan yang dapat menenteramkan. Terjadi 'self talk' (seperti biasa) dalam pikiran saya. Tepatnya saya mulai menghibur diri.

Suara #1:
"Hey, bukankah orang-orang di sini (komunitas yang akan saya datangi) sangat mengharapkanmu? Tentu kedatanganmu membuat mereka gembira, dengan demikian kamu tidak egois karena bisa menyenangkan hati mereka,"
Suara #2:
"Kamu hanya menginginkan perasaan senang bagi dirimu sendiri karena merasa dibutuhkan!"
Suara #3:
"Jika kamu tidak datang ke sini, mereka akan mencarimu, mereka akan menganggapmu tidak bertanggungjawab,"
Suara #4:
"Kamu harus datang ke sini, itu sudah benar, bukankah kamu sudah mengatakan akan datang?"
Suara #5:
"Lebih baik kamu tidak datang jika hatimu tak ingin,"
Suara #6:
"Ya, untuk apa kamu datang jika kamu gamang seperti ini?"
Suara #7:
"Ingat, kamu sudah membuat pilihan, lakukanlah dengan penuh tanggung jawab,"

Saya teringat pada sebuah buku yang tengah saya baca. Membaca buku juga merupakan pilihan yang penuh tantangan, karena betapa hausnya saya pada berbagai bacaan, hingga kadang-kadang mengorbankan tugas yang mestinya saya tangani lebih dulu. Namun selalu ada alasan, bukan? ;-)

Buku ini tipis, hanya membutuhkan sedikit waktu melahapnya, namun saya telah menginvestasikan lebih banyak waktu untuk menelaahnya. Isi dan pembelajarannya tidak dapat saya lewatkan hanya sepintas. JR Briggs, sang penulis tentu bukan bermaksud mengobrak-abrik pikiran saya dalam menguji berbagai alasan yang seringkali mendatangkan kebimbangan. Saya merenung lebih banyak, membayangkan diri saya berada di tempat para tokohnya, dan juga di tempat sang penulis.

Suara #utama:
"What are you going to do, 'When God says: Jump!'?"

Been written with love,
RS for her own blog.
---------------------

Thursday, April 2, 2009

Perempuan Berbisik 25: Kuingin "Hanya" Pelukan

Orangtua yang "mengenal" anaknya dengan baik segera terawas ketika sang anak berubah. Tentu saja anak bertambah tinggi, atau lebih gemuk, lebih langsing, lebih gondrong atau baru saja mengubah tatanan rambutnya, adalah perubahan yang cukup mudah terlihat segera. Tenggelam dalam berbagai kesibukan dan rutinitasnya, perubahan sifat, bahkan sikap dan perilaku anak adakalanya disadari justru saat orangtua menerima beberapa laporan dari pihak lain. Guru di sekolah anak, misalnya.

Pekerjaan dan kesibukan mengurus bayi, anggota baru dalam keluarga, membuat Ibu Yeyen (bukan nama sebenarnya) dan Bapak Gogon (juga bukan nama sebenarnya), terkejut menerima panggilan khusus via telefon dari Wali Kelas Sisi, anak perempuan pertama mereka yang duduk di kelas 3 SD.
Gurunya "menggugat" kedua orangtua Sisi ini pada kesempatan pertemuan pertama mereka. Wali kelas yang lemah lembut merasa kecewa atas diabaikannya 3 surat undangan atau panggilan orangtua yang telah dikirim sebelum ini. Bapak Gogon dan Ibu Yeyen tentu saja terkejut, mereka merasa selama ini tidak pernah menerima satu pun surat panggilan dari sekolah anaknya.
Terbukalah masalah yang sesungguhnya, ketiga surat tersebut telah dititipkan lewat Sisi selama tiga minggu berturut-turut. Merasa khawatir orangtua akan memarahi, bahkan menghukumnya apabila surat-surat tersebut sampai ke tangan mereka, Sisi menyembunyikan semua surat di bawah alas lemari pakaiannya yang ia tahu tak kan tersentuh siapapun dalam waktu lama.

Orangtua Sisi makin terkejut mengetahui telah lebih dari satu bulan Sisi lalai mengerjakan PR. Hasil ulangan harian selalu di bawah nilai 6 pada hampir semua mata pelajaran, kecuali Seni Tari yang memang sangat diminatinya. Ibu Yeyen merasa malu karena selama ini ia percaya saja pada pengakuan Sisi saat ditanya tentang sekolahnya ia selalu mengatakan tidak ada PR atau tidak ada ulangan. Bapak Gogon kecewa, merasa tertipu oleh anak sendiri. Lebih dari itu, sang Bapak tidak bisa terima jika nilai-nilai ulangan anaknya jelek, karena bukankah sang Bapak ketika sekolah dulu selalu juara kelas?

Upaya-upaya Bapak Gogon dan Ibu Yeyen untuk menggali masalah anaknya dan memotivasinya, tak membawa hasil. Bahkan belakangan Sisi mogok ke sekolah. Kemarahan kedua orangtuanya disikapi dengan berdiam diri. Sisi tidak mau bicara, tidak mau makan, bahkan pernah "melarikan diri" ke rumah teman baiknya.

Di hadapan saya, Ibu Yeyen menceritakan masalah tersebut dengan emosi tertahan. Ada rasa marah, kecewa, sedih, putus asa, di dalam suaranya saat menuturkan kejadian demi kejadian. Bapak Gogon menambahkan cerita sang istri dengan tak kalah kesal. Seolah-olah anak perempuan yang manis itu telah melakukan suatu kejahatan. Saya menanyakan beberapa hal untuk melengkapi data-data alloanamnesa saya. Setelah itu saya meminta kedua orangtua tersebut menunggu di luar ruangan sementara saya hanya berdua saja dengan Sisi.

Kami, Sisi dan saya mengobrol tentang topik-topik yang ringan. Saya memintanya menceritakan hobinya, musik kesukaan, obyek gambar yang paling sering dibuatnya, dan banyak hal-hal lain. Sambil meminta Sisi menggoreskan pinsil di atas kertas putih, saya mulai "menggalinya".
Sisi, pada awalnya sangat bahagia dan bangga atas kelahiran adik bayi. Ia memamerkan ke seluruh teman-temannya bahwa adiknya cantik dan lucu, ia juga senang sekali karena kini memiliki seorang adik perempuan yang dapat menjadi temannya di rumah. Sisi menyayangi sang adik, bahkan sangat menyayangi. Ia suka mencium pipi adik, bahkan mencoba menggendongnya, namun tidak diizinkan orangtua, khawatir ia akan menjatuhkannya.

Sisi mulai merasa terganggu. Mengapa semua orang boleh menyayangi adiknya, namun hak-haknya sebagai kaka dibatasi? Ia hanya ingin menggendongnya saja, ia yakin adik pasti tidak rewel jika digendongnya. Perhatian semua orang tertuju pada sang adik, termasuk dirinya juga, namun semua orang di dalam rumah seolah-olah tidak menghitung kehadirannya sebagai kakak yang juga ingin diberi hak menyayangi adik dengan caranya. Berkali-kali Sisi berlatih menggendong boneka besarnya di depan cermin, agar ia mampu menggendong adik dengan baik. Tak ada yang memperhatikan usahanya itu.

Lebih dari itu, Sisi merasa dirinya "tidak terpakai" lagi di rumah. Ia "hanya" disuruh belajar dan belajar, sesuatu yang membosankan dan melelahkan. Seharian ia sudah belajar di sekolah, bahkan masih ada les-les pelajaran tambahan di sebuah pusat pembelajaran. Ia lelah terus-menerus belajar. Ia ingin diam di rumah, bermain dengan adiknya, bersama papa dan mamanya. Tapi dia merasa tidak diterima. Setiap adik baru saja dimandikan pada sore hari, ia tidak boleh turut membedaki tubuh mungil adik. Kenapa tidak boleh? Hanya membedaki apa susahnya?

Sisi merasa tertolak, ia sedih, namun ia tidak atau tepatnya belum memahami apa yang terjadi pada perasaannya. Itu sebabnya saat orang-orang dewasa menanyakan "apa masalahmu, nak?" ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia betul-betul belum paham cara menggambarkan perasaan dan pikiran-pikirannya. Saya tahu, untuk inilah orangtua Sisi datang pada saya. Saya juga tahu, perlu sedikit lebih berusaha dan lebih sabar dalam "menggeledah perasaan anak-anak". Selain itu diperlukan teknik yang tepat dan sesuai dengan karakter anak-anak, jika ingin memahami mereka.

Setelah sesi dengan Sisi berakhir, saya meminta kembali Bapak Gogon dan Ibu Yeyen masuk ke ruangan, dan membujuk Sisi menunggu di luar. Keduanya berkaca-kaca, Ibu Yeyen terisak. Sebelum pertemuan kami berakhir, saya mengundang Sisi bergabung. Dengan penuh cinta bercampur rasa bersalah sekaligus kelegaan, Ibu Yeyen meraih Sisi ke dalam pelukannya. Dibenamkannya kepala sang anak ke dadanya, ia mulai terisak lagi saat tangan-tangan mungil Sisi membalas pelukan hangat itu dengan erat.

Satu kerinduan terdalam Sisi yang dirasakannya hilang selama beberapa bulan ini, adalah pelukan hangat Mama dan Papanya. "Hanya" pelukan Mama dan Papa yang membuat Sisi tenteram dan merasa dimiliki.

Laporan setelah ini, Sisi rajin membuat PR, nilai-nilai pelajarannya meningkat, "hanya" karena pelukan. Ah, bukan "hanya", pelukan itu sangat bermakna. I love you, Mom, Sisi whispered. So did I. ;-)

Saturday, March 28, 2009

Perempuan Berbisik 24: Situ Gintung Tragedy

Please safe our earth, keep the green space around us...
One of the way we can safe our people's life...
Prihatin yang dalam untuk korban Situ Gintung, 27 Maret 2009... My heart with you all...

before...


after...

Friday, March 27, 2009

Perempuan Berbisik 23: Laki-laki Yang Ingin Mati

Setiap hari kata-kata "ingin mati" mengalir dari bibir dan jemarinya, melalui ucapan verbal, juga pesan-pesan singkat yang diketiknya.
Saya tahu, tidak satu saja, ada sebagian besar orang yang menggemakan alternatif keinginan seperti ini pada keseharian hidupnya, atau pada musim-musim tertentu. Seribu satu masalah dijadikan alasan, namun sesungguhnya tidak cukup memadai untuk dapat dikategorikan sebagai motivasi.
Tentu saja, ide "ingin mati" bukan motivasi. Saya akan uraikan di bagian bawah posting ini nanti.

Sebelumnya, saya ingin menceritakan kisah terkait pemanfaatan manipulatif kata "mati" yang tertangkap langsung oleh indera pengintai saya.
Kisah ini nyata dalam kehidupan, melanjutkan sepenggal yang telah tercuplik pada headline.

Tersebutlah seorang laki-laki ganteng, berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan dan penghasilan, keluarga yang lengkap (anak-anak dan istri), rumah pribadi, kendaraan lebih dari satu, memiliki cukup banyak teman dan sahabat, rutin beribadah, serta mempunyai mimpi dan harapan masa depan (yang ternyata justru menjadi faktor utama tumbuhnya perasaan-perasaan negatif hingga melahirkan ide "ingin mati").
Saya yakin keadaan laki-laki ini mampu mengundang rasa iri pada yang lain, atau mematahkan hati perempuan yang berhasrat padanya.
Telah berbulan-bulan ia terkurung di dalam idenya yang selalu menyertakan kata "mati". Setiap hari tiada absen melontarkan ide "aku ingin mati saja, aku memintanya, tapi kenapa tak pernah diberi?" Dan seterusnya, semua mengalir dari satu ide tambahan ke alternatif lain, yang semua bersumber pada ide utama: “ingin mati saja”.

Luar biasa, bahkan ide-ide kontras, berupa ungkapan-ungkapan yang dapat disepakati bersama sebagai hal lebih popular (favorable) daripada ide ingin mati (unfavorable) tersebut, benar-benar tidak mempan menyentuh ambang lapisan-lapisan kesadarannya. Contoh, ajakan-ajakan berbisnis, undangan rapat sambil saling mengunggah ide alias brainstorming, tantangan pekerjaan, dan hal-hal serupa, semua mental (dipentalkan). Semua ditolak olehnya, hanya dengan satu alasan dari ide utama miliknya: “aku ingin mati saja”.

Siapapun orangnya, suatu saat bisa lelah dan menghentikan upaya memotivasi ataupun tindakan prososial lainnya, terhadap laki-laki yang ingin mati tersebut. Setiap orang, bagaimanapun, tetap membutuhkan penghargaan, meski sekadar menyepakati usul, saran atau ide yang coba disampaikan (dalam konteks menolong orang lain), ataupun pengurangan frekuensi aliran kabar “ingin mati” tersebut.

Masalah hidup ditengarai sebagai alasan utama ide “ingin mati”, kendati laki-laki yang ingin mati tak pula mampu menguraikan masalah hidup apa yang mendera dan memicunya. Bahkan ia sendiri pun tidak mengetahui isi kesadarannya, bagaimana orang lain (di sekelilingnya) bisa?

Kelelahan menghadapi masalah rutin, jauhnya jarak harapan masa depan, kondisi sekeliling yang dipindainya memiliki lebih banyak “keberuntungan” daripada dirinya, serta permintaan dan tuntutan hidup yang terus meningkat, menghiasi alam idenya. Demikian kira-kira sari yang dapat diperas sementara ini. Ide dalam ungkapan ironis berupa, “betapa lelah hidup ini, kenapa semua yang kuinginkan tak jua diberikan? Kenapa hal-hal sederhana yang kupinta tak pernah mampir di hadapanku?”, menjadi rutinitas lain selain rutinitas pekerjaan dan kehidupan yang dilewatinya.
Dan seterusnya, dan sebagainya.

Teringat saya pada adegan saat polisi Griggs menggagalkan percobaan bunuh diri seorang laki-laki yang memilih alternatif terjun dari lantai teratas gedung tinggi. Agen polisi Griggs yang juga memiliki ide ingin mati (Dalam “Lethal Weapon” part one of its sequel), mengajak si laki-laki ini terjun bersama setelah memborgol tangan mereka berdua. Di bawah, sepasukan tim penyelamat, tim medis, polisi dan masyarakat telah siap menanti. Tak lama melompatlah kedua sosok ini atas desakan polisi Griggs. Apa yang terjadi kemudian? Setelah mereka mendarat mulus di atas bantalan penyelamat, laki-laki yang tadinya begitu gagah mengusung ide bunuh diri terjun sendirian itu malah menuduh Griggs berusaha membunuhnya dengan penerjunan itu.

Oh la la… Terbalik jadinya deh…
Semacam ini yang saya katakan tadi, bahwa ide “ingin mati” disertai langkah “ingin bunuh diri”, berbeda dengan motivasi tindakan mengakhiri hidup. Sangat berbeda. Bahkan banyak juga kekasih yang mengungkapkan “lebih baik aku mati saja daripada...” untuk mengancam kekasihnya agar diberikan apa yang ia minta. Hassyaahh...
Mengancam Tuhan dengan “ingin mati saja”, tentu juga berbeda. Sebagian besar kita memiliki keyakinan bahwa kehidupan dan kematian hanya milik Sang Khalik, bukan? Pemilik, saya yakini, memiliki kedaulatan penuh untuk membuat keputusan terhadap seluruh milik dan kekayaannya.

Dalam berbagai kasus bunuh diri, saya rasa tidak didorong oleh motivasi. Lebih banyak terjadi karena “kecelakaan”, persiapan-persiapan dilakukan, maut diundang, namun jika ditanyakan kepadanya saat itu, “Benarkah kamu siap mati?” Jawabannya pasti,”Tidak sih...tapi aku ingin banget, aku ngga tahan lagi terhadap cobaan ini, alat-alatnya sudah kusiapkan, lihat... lalu... braaakkk,” pelaku kepleset, Sang Khalik berduka, IA nestapa, IA marah... terpelesetlah dia, berubahlah alam kehidupannya.
Jika pun ada yang memiliki motivasi sebesar keinginannya, dalam kurve normal paling-paling hanya menempati ujung tersudut atau bahkan saya rasa adalah data outliers.

Ibu-ibu, istri-istri... pernahkah anak pertama Anda (sang misua) mengadu atau berbagi rasa tentang kekusutan hatinya? Pasti pernah, kalau tidak bukan rumah tangga namanya. Adakah yang pernah mendengar lontaran kata “ingin mati” dari kekasih hati? Jika ya, yakinkah Anda bahwa ia benar-benar menginginkannya? Tidak, bukan? Kebutuhan mendasar setiap orang saat sedang kusut rasa, adalah (menurut saya lho) tersedianya sebuah HATI penuh CINTA yang mendengarkannya.

I LOVE YOU...
---------------------

Monday, March 23, 2009

Perempuan Berbisik 22: Curhat & Obrolan Seputar CALEG

Satu bukti kepedulian komunitas Psikologi terhadap fenomena musim pesta demokrasi negeri ini tampak pada obrolan mendalam yang tergelar di kotak bicara kelompok, alias mailing list. Saya memuatnya dalam posting ini sekadar berbagi di antara kita semua yang peduli, tanpa batasan apapun.

Terimakasih Kepada Ibu Tiwin Herman, perempuan luar biasa yang memprakarsai obrolan curhat caleg, telah mengalir bersama tanggapan-tanggapan luar biasa biasa juga dari insan Psikologi pada milis Psikologi.
Atas izin dan perkenan beliau, saya memuat obrolan-obrolan inspiratif tersebut untuk apapun yang dapat dimaknai dan ditindaklanjuti pembacanya, ke dalam blog ini. Obrolan tidak melulu diisi oleh perempuan, yang diantaranya terdapat Ibu Dyah dan perempuan muda penuh semangat seperti Mbak Mixa, namun juga laki-laki hebat seperti Bapak Lukman, Bapak Bekti, Bapak Heni Prim dan Mas Mario.

Saya mengutip obrolan apa adanya tanpa pengeditan berarti, kecuali menyembunyikan alamat email dan menyamarkan nama-nama tempat.

Berikut kutipannya:

----- Original Message -----
From: tiwin herman
To: milist psikologi
Sent: Saturday, March 21, 2009 7:56 AM
Subject: Curhat istri caleg

Pagiiiiiii……………..
Mumpung libur gini, boleh ya…aku ‘curhat’ sedikit untuk ‘melepas’ keprihatinanku. Rasanya aku lg butuh teman nih…untuk mengeluarkan kegundahanku.
Ceritanya kemarin aku dari B, dan mampir di sebuah lembaga yang menangani perempuan. Tuz, ada seorang ibu datang yg ingin bertemu dg ‘siapa saja’. Berhubung beliau dtngnya belum jam kerja, maka kuajak ngobrol di ruang tamu. Baru sebentar ngobrol, dia langsung curhat mengenai suaminya yang ‘nyaleg’ (suatu sebutan untuk mereka yg sedang mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif, dan karena perilakunya yg jd rada ‘aneh’ maka kata tersebut digunakan dg menggunakan analogi orang ‘nyandu’ or ‘nyabu’).
Si ibu ini punya usaha bahan bangunan, dan dengan fasih di bercerita bahwa dia beli pasir (misalnya) satu truk 400 rb lalu dijual per meter kubik 150 rb, kmudian batu kali juga dmkn shg dia merasa dg usahanya ini cukuplah untuk membiayai 2 org anaknya. Yg besar sdh sarjana (sekolah di BJB) dan sdng menjd dosen honorer disatu universitas ternama di kotanya. Yg bungsu kls 3 SMU dan sdh menuntut ingin jg sekolah di BJB.
Nah sejak tahun lalu si suami, stlh pensiun (kini 56 th) menjd caleg sbh partai yg blm bergaung. Bnyk dana yg sdh dikeluarkan, skrng mobil satu2 yg buat usaha sdh 3 bln dipakai kampanye didaerah pemilihannya pdhl disamping utk usaha, mobil itupun msh kredit sebulan 12 jt. Uang pesangon pensiun (yg mestinya dibayarkan bulanan, sdh diambil dimuka, SEMUA !!). Suami pergi selama 3 – 5 hari menggarap konstituen didapilnya dan setiap pulang selalu minta uang. Anaknya yg no 2 sdh mengingatkan bhw uang jgn dipake kampanye terus krn dia ingin kuliah di BJB dan si bapak menjanjikan bahwa semua akan terpenuhi kalo nanti dia sudah ada di Senayan !. (Eduun tenaan...! panteeeeesssss di Senayan..... ??? )
Si ibu sudah tidak tahan lagi karena kalo suami tidak diberi uang, maka dia dipukul, dijambak dan KDRT lainnya. Sekarng setiap suami pulang, dia menyingkir karena dia sdng ’diburu’ utk diminta menandatangi utang baru dan pihak bank memerlukan tanda tangannya jg. Semakin mendekati tgl 9 april ini, semakin banyak uang yg diperlukan suaminya, sementara uang sdh tidak ada, barang sdh banyak dilego (termasuk perhiasan si ibu) dan mobil sdh 3 bln tidak dibayar kreditnya. Si ibu prihatin dan ingin menyudahi pernikahannya krn tidak terbayang masa depannya nanti setelah pemilu ini berakhir atau dlm bahasa si sibu ( masa tua yg aman dan tentram musnah sdh krn suami sdh berubah dan yg tersisa skrng adala suami yg sudah tua, keras kepala, sering menyakiti dan bangkrut !!).
Temans.
Cerita begini tidak satu dua kudengar, tapi inilah cerita yg aku dengar langsung dari dukanya seorang istri yg ’nyaleg’. Padahal, dlm kenyataannya sekarang, seorang caleg utk bisa tembus Senayan itu kalo tidak salah perbandingannya adalah 1 : 98 (cmiiw). Sementara, meski caleg tersebut mendapatkan suara paling banyak seluruh Indonesiapun, tetapi kalo partainya tidak mencapai 2,5% suara, maka diapun tidak akan bisa melenggang ke Senayan.
Dalam kasus si ibu diatas, (tanpa bermaksud mengecilkan) , rasaku kecil kemungkinan partainya bisa masuk karena ketika disebutpun aku gak tahu partai apa itu apalagi nomernya?? Tuz gimana ya...? Agaknya memang patut diantisipasi ’ramalan’ yang menyatakan bahwa kemungkinan penderita stress berat or depressi akan semakin banyak setelah Pemilu ini berlalu. Kasus seorang bupati gagal yg akhirnya menjd penghuni RS Jiwa mungkin bisa menjadi indikatornya. Pertanyaanku, apakah hal ini disadari oleh para caleg tersebut ? Duuuh Gusti....... paringono sabaar......

Salam prihatin,
Tiwin H

From: lukspsi
To: milist psikologi
Sent: Saturday, March 21, 2009 8:24:36 AM
Subject: Re : Curhat istri caleg

Menarik....dan karena itulah aku gak mau "nyaleg"..ha ha.
Gak punya banyak bondo ne euy.

Nyaleg macam begini nurut.ku ya dah gak jaman, mosok
jor2-an pasang iklan, pasang tampang di pohon2 macam
penyalur PRT yg beken itu.
Nurut.ku harusnya ya dg kerja nyata, KERJA NYATA
jauh2 hari sebelumnya sehingga orang banyak tahu apa
si prestasi ybs!!!
Dg kerja nyata saja ybs belum tentru bisa melenggang
ke Senayan karena partainya gak nembus angka untuk
bisa ke Senayan.
Jadi sadarlah.... .gak usah nyaleg, kalau memang mau
memberikan sesuatu untuk nusa dan bangsa TIDAK
HARUS ada di Senayan kan???

Menang repot karena kudu bayar utang/pinjaman dan
kalah juga lebih repot karena lebih susah cari tambahan
untuk bayar hutang (makanya RSJ di Surakarta buka
ruang VIP; siapa yg bakal masuk duluan?).

Yuk kita sadarkan sebelum lebih banyak yg akan jadi
korban. Mbak Tiwin siap gak? Yg lain juga siap gak?


LSS

--- Pada Sab, 21/3/09, mixa suprapto menulis:

Dari: mixa suprapto
Topik: Re: Curhat istri caleg
Kepada: milist psikologi
Tanggal: Sabtu, 21 Maret, 2009, 8:42 AM
Yang menyedihkan, ternyata motivasi untuk menjadi caleg, banyak sekali unsur materialistisnya ya (e.g., mendapatkan uang lebih banyak waktu menjabat di senayan). Harapan kita terhadap anggota legislatif (untuk melayani dengan menyalurkan aspirasi masyarakat) jadi harapan yang hampir kosong, karena utamanya dari awal adalah motivasi untuk mendapatkan materi. Apalagi bagi yang bangkrut karena kampanye.

Terus jadi kaya berjudi gitu ya... Peluangnya nyaris 1:100 pula. Lalu ada eliminasi 2.5% suara partai (100% gagal kalo partai gagal). Mungkin penanganan terhadap orang2 yang nyaleg yang kemungkinan mengalami gangguan jiwa akan rada mirip dengan penanganan terhadap orang yang kalah berjudi habis2an. Hehe.

Kerja keras dan berdoa adalah masih cara yang saya pilih untuk mendapatkan kecukupan materi. No shortcuts. Di luar itu, konsekuensinya ada masuk rumah sakit jiwa euy.

Mikha

2009/3/21 EMA Subekti wrote:

Bagi saya, merasa tambah bingung dengan...urusan caleg-mencaleg untuk era ini.
Partai tambah buanyak, seperti sedang kompetisi buka "Bimbang Tes" masuk Perguruan Tinggi...
Masing-masing Lembaga Bimbingan Belajar menawar icon-nya masing, ada yang menjanjikan bisaa masuk ke Harvard University, ada yang cukup lokal-lokal masuk ke Universitas Blambangan.. ..Nah si peserta bimbingan, bingung mana yang harus dipilih.
Ujung-ujungnya, masing-masing lembaga tsb, setelah musim pendaftaran usia, itung-itungan bagi keuntungan,. .masa bodoh, lu..mao keterima kek ya syukur karena kamu sedang mujur, lu gak..keterima, yah..tunggu episode berikutnya.
Jadi, si rakyat ini, (yang nota bene : si peserta bimbel), yah..hanya diperah, pada musimnya. Setelah itu gak ada apa-apa, n a s i b ya n a s i b.

Nah, jadi masalah caleg jaman sekarang itu, menurut kesan saya, mudah-mudahan keliru, dan t o l o n g diluruskan.. ..sebetulnya hanya antri melakukan lamaran kerja..., bukan antre untuk memperjuangkan nasib rakyat.
Hitung-hitungan modal awal, mulai ngitung, beaya foto copy, tetek-bengek dari a sampai z, nah..nanti kalau sudah bisa masuk di bioskop senayan, mulai tolah-teleh, cari incaran buat ngebaliin modal dasar, dan "kalo bisa" cari bekel buat lima keturunan..he. .he.

Kan..bisa dilihat, iklan-iklan yang dipampang di sepanjang jalan-jalan besar, sampai lorong-lorong "gang kelinci", selama musin kampanye ini, tuh lihat wajahnya pada kenal gak.

Malah di tempatku (kelahiran asal), ee.ee, ada pencari kerja (baca caleg), yang sehari-harinya hanya makelar rombeng barang bekas, yang tentunya...maaf tidak mengecilkan arti... modal pengalaman organisasi minin, nekad ikut pasang badan dengan menempelkan wajah di jalan-jalan, ...katanya setelah kutanya mengapa ikut nyaleg, jawab-nya singkat dan pasti,..."rubah nasib ah..ah". Lalu pertanyaan lanjut, apa yang akan anda lakukan kalau bisa diterima (terpilih) menjadi wakil rakyat, jawabnya singkat pula, lho ..aku kan lama menjadi 'rakyat' (maksudnya pekerja makelaran rombeng barang bekas), kan ingin naik statusku, supaya badan tidak bau "apeg" ( maksudnya, bau tidak enak campur-campur antara keringat yang sudah mengering di baju tidak pernah dicuci,dengan bau asap pembakaran barang-2 loak), naah..itu, yang harus saya perjuangkan mati-matian sebagai tahap awal, ya perubahan nasib-ku dulu..ha.ha, ngapain mikirin orang lain, kelakarnya lebih lanjut...!!
Potret semacam ini yang banyak dijumpai,... sebagai gambaran wakil-wakil- ku mendatang di Lembaga Legislatif.
Ceritera tadi, saya petik sebagai bentuk kelakar, karena yang di-interview adalah temen sendiri sewaktu saya kecil, yang kebetulan dia bernasib tidak sempat meneruskan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Jadi sependapat juga dengan pendapat sdr Mixa Suprapto, bahwa motif nyaleg, semata-mata hanya berbasis material belaka. Visi maupun misinya tercampur-adukkan secara carut-marut.

Nah...begitulah, profile mendatang dari legislator kita.

Maaf, hanya lontaran wacana, sekedar curhat...

Salam,

EMAS

--- On Sat, 3/21/09, Rinny Soegiyoharto wrote:

From: Rinny Soegiyoharto
Subject: Re: Curhat istri caleg
To: milist psikologi
Date: Saturday, March 21, 2009, 10:10 AM

Caleg oh... caleg...
Mbak Tiwin, terimakasih sudah berbagi pengalaman yg berharga ini...
Ingin nimbrung, malah terpana-pana dg obrolan di topik ini, thx to all.
Mhn izin, bolehkah saya memuatnya di dlm blog terbuka saya? Mode kutipan asli dg menyembunyikan email add?
Pleassseee.. .
maturnuwun.. .
salam demokrasi,
RS

yoetzche manuhutu wrote:

From: yoetzche manuhutu
Date: 2009/3/22
Subject: Re : Curhat istri caleg
To: milist psikologi
Selamat pagi, rekan-rekan.
Nama saya mario, angkatan 98 psikologi ui.
saya juga mau share ke rekan-rekan pengalaman ibu saya yang dicurhatin istri caleg.

Ketika itu saya sedang mengunjungi ibu saya yang ikut ayah dinas di PBR, tahun 2006.
Ibu saya kedatangan seorang tamu, sebut saja namanya ibu A. mereka sudah saling mengenal sebelum saya datang ke PB. Sementara ibu saya dan ibu A berbicara di ruang tengah, saya sedang menikmati secangkir kopi dan pisang goreng kuantan yang enak sekali.

Tiba-tiba, di tengah pembicaraan mereka, si ibu A menangis tersedu-sedu. ia menceritakan pada ibu saya betapa suaminya yang jadi caleg dari partai yang -- sudah sangat bergaung namanya -- justru akhirnya disingkirkan (menjadi kecil kemungkinannya terpilih) karena ada caleg lain yang bisa menawarkan uang lebih banyak ke partai tersebut. alhasil, suaminya ibu A tidak bisa melenggang ke senayan. waktu itu pencalonannya untuk pemilu 2004.

Untuk keperluan pencalegan itu, ibu A sudah merelakan tanahnya yang sekian hektar untuk dijual, rumah pun digadai, mobil dijual, harta-harta yang lain dijual.
sambil masih tersedu-sedu ia menceritakan kondisinya yang sekarang: tinggal di rumah kontrakan, berusaha kerja lebih keras karena anaknya hampir lulus kuliah agar jangan sampai putus kuliah karena kondisi yang mereka alami.

Partai besar dan terkenal pun, menurut saya, lebih 'kejam' dalam urusan siapa yang bisa menyumbang lebih banyak dan dapat nomor urut yang lebih diprioritaskan oleh partainya, sehingga berlaku: "siapa yang lebih kaya, dia yang menang".
aneh, menurut saya. wakil rakyat adalah perpanjangan tangan Tuhan, yang seharusnya bisa memberikan yang terbaik buat rakyat, bukan justru semakin menyengsarakan rakyat.

saya melihat bahwa kesemuanya itu adalah sistem yang diciptakan oleh mereka yang membuat UU. maaf kalau saya tidak begitu paham soal UU itu, namun jelas dalam praktiknya yang terjadi adalah bukan kompetensi dan hati nurani yang berbicara, tapi kantong yang berbicara.

Selain curhat dari istri caleg di atas, saya juga dapat info dari milis lainnya bahwa total gaji seorang anggota legislatif setahunnya sudah mencapai 1 Miliar rupiah. 5 tahun berarti 5 miliar rupiah.

beberapa anggota legislatif yang dikeluarkan dari badan legislatif negara karena kasus korupsi pun masih menikmati gaji dan fasilitas dari badan legislatif tersebut. berarti hukuman tidak membuat mereka jadi kapok dan bertobat, karena toh masih dapat gaji plus tunjangan lain-lain.

terima kasih sudah bisa share.

salam,
Mario Manuhutu

Original Message from Tiwin Herman (Mon, Mar 23, 2009, 1:34 PM)

Temans,
Terimakasih banyak atas responsnya ya….. apalagi ada cerita yg mirip dari mas Mario Manuhutu. Kenapa aku cerita di milis ini ya...karena aku merasa ‘aman’ hehehe....skaligus ini buat menjwb mas Agus. Kalo pake nulis di surat pembaca...walah..repot mas..surat pembaca sekarang ini pake model konfirmasi segala. Kepengen sih seperti sarannya mas Revo, dimuat di fesbuk, tapi...lha wong aku jg baru di fesbuk jd msh gaptek gitu.., gimana uploadnya ya blum ngerti hehehe...Ntar deh, kalo anakku datang aku coba follow up idenya mas Revo (dg catatatan nek aku wani yo huehahaha...) Jadi mbak Rinny, monggo aja kalo mau dimuat dalam blognya nggih.....

Untuk mbak Heni Prim, mbak Mikha dan mbak Dyah parameshwary, ternyata memang sebagian dari nyaleg motivasinya ya...untuk ‘balik modal’ plus untungnya tentunya. Kalkulasinya kan udah disampaikan mbak Endah Triwijati, yaitu : ... 2 tahun di dpr(d) semua duit yang keluar pasti sudah susuk (alias balik dan plus ada tambahannya). Bahkan td pagi di radio dengar ada joke bahwa minimal jd anggota dewan 5 th bs dapat minimal 5 M bersih !!. Jadi.... Mau ? Mau ? Mau ?

Dengan model demokrasi yg kita miliki sekarang ini ya memang memungkinkan penjual kaleng rombeng seperti ceritanya mas Bekti bs nyaleg. Siapapun jg bs nyaleg, cuman...apa nggak mikir gitu lho...ada mekanisme pemilihan yg harus difahami biar nggak babak belur atau bangkrut atau depressi. Ini sebetulnya euphoria demokrasi atau udah masuk suatu zaman ’nek ora edan..ora keduman’ (kalo gak ikut gila nggak kebagian) ??
Ada yang bisa membantu menjawab ?

Salam hangat,
Tiwin H

Posts Archive


PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***