Friday, April 25, 2014

#210 - (Jangan Hanya) Sibuk Dan Ramai Bicara Seputar Kejahatan Seksual

Aku menulis,

Apa Menurutmu?

Perkosaan adalah suatu paksaan; hubungan seks (baca: aktivitas-aktivitas seksual) yang tidak diinginkan. Perkosaan juga disebut kekerasan seksual, bahkan kejahatan, yang dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan berbagai usia, dari anak-anak hingga orang dewasa/orang yang sudah tua.
Sesungguhnya, perkosaan merupakan bentuk kekuasaan, bukan seksual semata.

Pelaku memanfaatkan kekuatan atau kekerasaan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu, untuk mengendalikan hidup orang lain. Bahkan sebagian pelaku menyalah-gunakan obat-obatan dengan tujuan melemahkan korban agar tidak dapat melawannya. Pelaku perkosaan pada anak-anak memiliki peluang yang besar dalam menguasai korbannya, karena anak-anak tak dapat/ belum mampu melawannya.

Perkosaan adalah TINDAK KRIMINAL, baik itu dilakukan oleh orang asing, pasangan/pacar/kekasih, maupun anggota keluarga sendiri.
Tidak peduli bagaimana hal itu terjadi, perkosaan adalah peristiwa yang menakutkan dan sangat traumatik bagi korban(korban)nya.
Korban perkosaan membutuhkan perhatian, perasaan nyaman dan jalan keluar bagi penyembuhan dan pemulihan (psikis)nya. Bahkan berlalunya waktu yang panjang dengan penanganan intensif sekalipun bukan jaminan trauma perkosaan dapat terpulihkan tanpa sisa.

Apa Menurutmu?

Jika kamu tidak pernah mengalami kekerasan dalam bentuk yang paling ringan, apakah kamu mampu berempati pada perasaan korban?
Mungkin saja bisa, jika kamu membiarkan perasaanmu mengalami resonansi kesakitan dan kepedihan mendalam dari luka-luka mental korban.
Dengan demikian, kamu tidak akan berbicara sembarangan, tidak adu mulut seenaknya, tidak diskusi adu teori, tidak memposting kata-kata yang tampaknya indah dan seolah-olah sangat spiritual/agamis kendati di dalam hati kamu tengah bersyukur teramat sangat karena peristiwa itu bukan menimpamu dan keluargamu.
Hal teramat baik yang bisa kamu lakukan adalah mendengarkan dan mengamati dengan seksama terlebih dahulu.

Jika kamu tidak mampu berempati dengan baik, percayalah, kata-katamu hanya menambah kesakitan dan menggoreskan trauma demi trauma baru, pada korban dan penyintas-penyintas. Karena kamu tidak pernah tahu, meski korban yang kebetulan sedang diberitakan tidak mendengarkan langsung celotehan-celotehanmu, tapi ada penyintas-penyintas di sekelilingmu yang sedang ikut mendengarkan berbagai opini. Penyintas-penyintas yang seperti tengah diputarkan ulang rekaman penggalan kisah hidupnya yang sudah di-peti-es-kan.
Mereka diam? Sebagian besar lebih banyak diam (dalam geram).

Apa Menurutmu?

Perasaan korban adalah marah, takut, sedih, jijik, dan rasa bersalah.
Mungkin katamu, bentuk-bentuk perasaan itu bukankah hal yang biasa dalam dinamika kehidupan manusia pada umumnya?
Benar! Orang memang biasa merasakan amarah, sedih, takut, jijik dan rasa bersalah.
Seperti halnya biasa saja ketika kita memecahkan satu gelas beling yang relatif murah.
Tapi bagaimana jika yang pecah itu jambangan terbuat dari kristal yang sangat mahal? Masihkah dianggap biasa saja?
Marah itu adalah kemarahan. Sedih itu adalah kepedihan. Takut itu adalah ketakutan. Jijik itu adalah rasa muak. Rasa-rasa itu berlangsung dalam waktu yang tak singkat. Perasaan-perasaan yang sangat kuat itu dapat semakin kuat dan berputar-putar menjadi dendam, tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, sulit beradaptasi, dan sebagainya, bahkan dapat menjadi gangguan-gangguan.

Rasa bersalah dalam diri korban tak cukup hanya dengan rayuan agar ia menghilangkan rasa itu sebab kesalahan ada pada pelaku.
Kamu pikir korban dan penyintas tidak pernah berpikir: "Ah, andai saja waktu itu aku tidak pergi ke sana..!"
Atau, "Coba waktu itu aku memakai celana panjang dan bukan rok seperti itu..!"
Lalu sekonyong-konyong kamu dengan lantang mengatakan bahwa perempuan (manusia) harusnya mengenakan pakaian yang begini dan begitu, bukan seperti yang dikenakan korban dan teman-temannya.
Bahkan dengan bangga kamu menyitir ayat-ayat kitab suci dan kata-kata berhawa religi yang terdengar menghibur, lalu menghimbau. Padahal kata-kata itu justru mendiskreditkan korban (yang berpotensi menjadi pelaku jika tidak mendapatkan penanganan tepat, atau mengalami ulang hal-hal yang pernah dialaminya).
Untuk apa kamu mengatakan itu semua?

Apa menurutmu?

Tingkatkan kepekaan, kepedulian dan empati. Jika belum dapat memberikan bantuan secara langsung, tidak apa-apa. Tapi setidaknya berempatilah. Jaga bicara kita.
(Jangan hanya) sibuk dan ramai bicara!

Bagaimana menurutmu?

Salam,

#RinnySoegiyoharto

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, April 23, 2014

#209 - Senja Datang Lebih Cepat

Selasa, 22 April 2014.
Ditulis tanpa konsep.
Penulisnya masih sama seperti yang lalu lalu: aku.

Hari ini hari Bumi,
Kemarin hari Kartini,
Kemarinnya lagi hari raya Paskah,
Dua hari sebelumnya hari Jumat Agung,

Catatan catatanku kini lebih banyak kumuat di media sosial. Tidak ada alasan khusus, aku hanya merasa jadi terdakwa yang didakwa oleh sang kala. Kewalahan menangani 25 satuan waktu yang ada untuk merambah akun akun maya dan akun akun nyata. Sementara 25 satuan waktu yang lain telah diberangus perjalanan berlingkar lingkar dan ingar bingar rasa yang tak jarang tampak bertele tele penuh tedeng aling aling.

Ada masa ketika aku berlangganan jarum jarum ramping dan jemari shinse perempuan keturunan Tiong Hoa. Jarum jarum yang merasuki kulit daging urat.
Juga masa ketika sungut sungut pekerja madu terlepas di dalam dagingku. Pekerja pekerja itu mati setelah menyengatku. Entahlah, apakah aku harus berduka atau bersuka.
Berlanjut masa tangan tangan perempuan Sunda berkostum kodratnya namun mengaku androgini kelaki lakian, yang memelintir sekujur urat urat arisan di bawah lapisan kulit dagingku.

Dalam ruang dan waktu, lorong lorong berkoloni. Bagi ruang dan waktuku selalu ada sembari, senyampang, seiring, sekonyong konyong ini itu berkelindan. Dan seterusnya.
Pembuluh pembuluh bergiliran menampakkan diri ke permukaan. Mereka merambah semua bilik, bahkan sebagian tak mau turun lagi dari peraduannya. Ketegangan menyergap di singgasana singgasana mereka.

Bagaikan hidangan soto yang hanya menyisakan ampas kulit limau, botol kecap kosong, cawan sambal hanya berteman biji biji cabai, mangkuk berlemak, serta kulit ayam berbulu (yang terakhir ini tak pernah masuk ke mulutku hampir sepanjang usiaku semenjak aku paham tentang makna makan dan makanan).

Pagi berlalu siang menjelang. Senja tak berdaya menahan diri. Ia datang lebih cepat. Secepat pagi dan siang meninggalkan ruangan.
Aku suka jingga, berpadu dengan hijau dan biru, berhias gradasi semua warna yang terlihat dari dan di bumi.
Tapi tak cocok jingga berpagut dengan senja yang datang lebih cepat.

Pejalan kaki pejalan kaki menepi satu satu, menaiki undakan rumah nyaman masing-masing. Mereka pergi semakin jauh, bahkan remah remah roti di perjalanan tiada bersisa.

Senja datang lebih cepat.
Bahkan lebih cepat dari menguapnya jingga.

/MKJ-22-04-14/

#RinnySoegiyoharto

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, February 4, 2014

#208 - Soe Tjen Marching: Chopin & Pemberontakannya.

**Konsisten dengan gaya penulisannya yang asertif, informatif dan tentunya inspiratif. Tidak semata-mata kolom feature. Saya menggemari tulisan-tulisan Soe Tjen Marching, sejak pertama kali saya temukan di kolom opini Harian Kompas bertahun-tahun lampau; terlepas dari setuju atau tidak setuju pada persepsi olahan kognitifnya.
Tulisan yang ini saya rekatkan di blog, sekelebatan menatap pemberontakan Chopin dan George di muka cermin. Sekaligus ungkapan salam dan kagum kepada sang penulis, Soe Tjen Marching. ~ RinnySoegiyoharto**
_________________________________
Soe Tjen Marching:
Chopin & Pemberontakannya.
(Versi yang lebih singkat dimuat
di Koran Tempo, 3 Febuari 2014)
_________________________________
 
Chopin, yang kelahirannya diperingati dengan gegap gempita setiap bulan Febuari, bukanlah komponis yang suka sorak sorai publik. Lahir di Polandia lalu pindah ke Paris, ia lebih memilih memberi konser di rumah pribadi beberapa teman, atau gedung-gedung kecil yang terkesan lebih intim daripada di sebuah hall yang megah dan besar.  Lalu, mendapat uang untuk kehidupannya dari mengajar. 

Memang, komponis Romantisme ditandai dengan memberontaknya mereka menjadi "peliharaan" para bangsawan.  Beethoven yang dianggap  sebagai komponis yang mengawali Romantisme, tidak lagi tergantung kepada sedekah para bangsawan atau raja-raja.  Dia mencari nafkah dengan mengajar dan mengadakan konser.   

Keberanian akan perbedaan dan keunikan, telah membuat para komponis ini menciptakan karya-karya yang mengagumkan.  Bunyi memang sesuatu yang abstrak, namun tak pernah terpisahkan dari ide (dan seringkali, kenekatan atau kegilaan) sang seniman.  Pemberontakan Beethoven tercermin dalam musiknya yang sering digambarkan dengan kata "emosional, personal dan menggebu-gebu".

Tidak semua perbedaan dan keunikan bisa diterima begitu saja.  Frederic Chopin yang dipuja hampir seantero jagad saat ini, sempat menghadapi terpaan kritik yang mengecam permainannya "terlalu lemah" dan kurang gairah.  Karena beberapa dari para kritik ini masih terpaku pada standard musik Beethoven yang seperti badai, mereka sempat memandang negatif Chopin.  Namun Franz Liszt, seorang komponis andal yang kemudian menjadi sahabat (sekaligus saingan) Chopin, menulis di majalah Gazette Musicale yang diterbitkan padatanggal 2 Mei 1841: "Chopin tidak memainkan concerto, sonata atau fantasy; melainkan prelude, nocturne dan mazurka. Ia menyajikan musiknya seperti seorang pujangga dan pemimpi kepada orang di sekelilingnya, bukan kepada publik. . .   Ia menawarkan simpati yang lembut, bukan antusiasme yang ribut. . .  Dari denting pertama, telah hadir komunikasi yang intim antara dia dan pendengarnya."      

Di tangan Chopin, yang lebih banyak mengarang untuk piano daripada instrumen lainnya, alat ini menjadi seolah bernyanyi. Berbeda dengan mereka yang memperlakukan piano sebagai alat yang dipukul(terkadang mirip perkusi). Chopin juga gemar mencantumkan tempo Rubato (arti literalnya, tempo yang dicuri) yang memberi kebebasan bagi pemain untukmenentukan kecepatan dan juga artikulasi nada-nada yang tertulis.  Dan ini juga sempat mengejutkan beberapa musisi yang biasa dengan tempo yang serba tepat.  Kebebasan seperti Rubato ini bisa diartikan sebagai seenaknya sendiri oleh beberapa orang. Namun, bagi pianis yang andal, justru kebebasan adalah tanggung jawab untuk memilih, dan ini bisa menjadi beban yang cukup besar. Karena tanggung jawab seperti ini membutuhkan ketepatan dan kepekaan yang luar biasa.

Reputasi Chopin sebagai pianis dan komponis semakin menanjak di Perancis, namun kesehatannya juga bertambah turun.  Saat itu, ia bertemu dengan penulis George Sand (seorang perempuan yang dilahirkan dengan nama Armandine Aurore Dupin).  George gemar memakai baju lelaki dan menghisap pipa tembakau – kebiasaan yang dianggap tidak lazim bagi perempuan dan seringkali dicela oleh masyarakat waktu itu. Ketika bertemu Chopin, ia telah bercerai dengan dua anak dari perkawinan sebelumnya. 

Berbeda dengan Chopin yang lembut dan sempat digambarkan sebagai pria yang bertangan lentik dan gemulai, George adalah perempuan yang maskulin. Baik disadari maupun tidak, hubungan mereka adalah bentuk pemberontakan terhadap dualisme gender.  Lelaki tidak harus selalu maskulin dan perempuan feminin.  Sebaliknya, Chopin terkadang bisa dianggap lebih feminin daripada George Sand yang kemudian juga menopangnya secara finansial saat kesehatan Chopin bertambah buruk.
George dan Chopin tidak pernah menikah (sekali lagi, bentuk pemberontakan mereka terhadap tuntutan standard).  Dan karena hubungan ini pula, keduanya sempat diasingkan ketika tinggal di Majorca – Spanyol. 

Namun, pemberontakan Chopin inilah yang ada di balik nada-nada yang sekarang dialunkan dan dikagumi berbagai pianis di Indonesia dan seluruh dunia; dan ironisnya menjadi konservatisme tersendiri bagi banyak pianis yang mengalunkannya di gedung-gedung megah. 

#RinnySoegiyoharto

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, December 17, 2013

#207 - Brief Anthology Today

"The Lord never too late, as well as never too hectic. God always deliver the best on the right time."
~ RATTORI ~

"Welcome To Third Years Anniversary of Us. Well Begun is Half Done."
~ AYBUN ALEO~

"Life without love is like a tree without blossoms or fruit."
"Love has no other desire but to fulfill itself. To melt and be like a running brook that sings its melody to the night. To wake at dawn with a winged heart and give thanks for another day of loving"
~ KAHLIL GIBRAN ~

sincerelly yours,
rinny soegiyoharto
081380952248

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, October 4, 2013

#206 - KIROM: Maukah Kamu Jadi Kekasihku?

*Maukah Kamu Jadi Kekasihku?*

KIsah & ROMantika (KIROM) -alih-alih CERBUNG (cerita bersambung)-.
Penulis: LaPrincesa

Elegi#1: Pernyataan

Peranti yang orang-orang bilang pintar ini, tidak cukup pintar ketika aku mulai bosan menjelajah aplikasi terpilih.
Puluhan lagu dan musik berbagai genre yang telah terunduh, seolah-olah bergaung sendirian dari gramapon tua. Mulai terdengar usang dan sumbang. Lagu-lagu, irama musik, lirik, bahkan melodinya, hanya menghadirkan nuansa sendu yang tak lagi mampu membuai sukma.

Penat. Tinggal olahan media sosial yang masih cukup cerdas membantu koneksiku dengan beberapa jaringan. Sengaja kujaga. Meski sebagian besar bahkan hanya pekerjaan rutin.

Ketika mataku tertumbuk profil sesosok kenalan lama yang tak terlalu jelas. Sepintas ingatan-ingatan kabur mengawang, dengan sedikit usaha kucoba memutar ulang film lama dari penggalan hidupku. Samar-samar. Lalu kuabaikan, dan dengan keengganan beralih pada rutinitas. Fokus dan konsentrasi. Waktuku pun bergulir.

Saat tak terduga, peranti pintar menampilkan pesan singkat dari seseorang. Pesan biasa. Kujawab dengan cara yang biasa juga.
Hingga...
Pesan demi pesan yang tak lagi singkat, masuk dan terkirim.
Hal-hal umum, kisah lalu, kisah pedih, kisah kocak, canda-canda, juga ekspresi-ekspresi yang diwakili emotikon pun bergulir.
Kali ini sangat lancar, dan terus-menerus.

Peranti pintarku tergenggam tiada lepas. Kerinduan berlontar kisah mulai terbangun. Kecuali satu hal yang tak pernah disinggung. Saat-saat awal penuh emosi, keasyikan, kedekatan, keterikatan yang mulai menguat, tak mampu berbuat apa-apa pada kalbu kami; aku dan dia. Tiada satu pun pada dua hati yang bergegas memerintah jari untuk menyampaikan suatu informasi. Keterikatan itu terbangun, sekaligus membangun kekhawatiran akan kehilangannya.
Tidak hanya pesan tulisan. Obrolan verbal yang bersahut, masih tetap menjaga suasana.

Sampai...
Suatu saat ia menulis,
"Sudah punya pacar?"
Kujawab,
"Belum."
Ia melanjutkan, dan seterusnya,
"Kenapa? Masih teringat yang dulu?"
"Tidak juga. Belum saja."
---banyak obrolan setelahnya---

Lalu...
Seolah-olah aku mendengar suaranya yang lirih, sarat emosi, kendati yang kutatap pada layar peranti adalah kata-kata ketikannya,
"Maukah kamu jadi kekasihku?"
Aku menghela nafas berat. Sungguh berat. Karena emosi dan pikiran berkecamuk dalam monolog demi monolog.
Agak lama, waktu berlalu seiring detak jam dinding berdentang nyaring, meski tak ada satu pun jam tergantung pada sisi-sisi dinding ruangan itu.

Lampu kecil berkedip mengiringi panggilan. Layar itu bertambah baris,
"PING!"
Ah! Ia tak sabar menanti bungkamku.
Tapi hatiku pun tak sabar memerintahkan huruf-huruf tertulis di baris terbawah. Hanya tiga huruf,
"Iya."

End of Elegi#1
For next Elegi#2: Pengakuan


sincerelly yours,
rinny soegiyoharto

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, August 22, 2013

#205 - Aku Mengasuh Aku

(Rinny Soegiyoharto)

Aku telah mengasuh aku
Segalanya tertulis
Pada lembar-lembar hari

Aku belum berjiwa
Hanya nanar tatapan mencoba
Memindai remah-remah sukma

Aku memunguti serpihan raga
Menyambungkannya satu per satu
Dengan perekat butir nasi dingin

Aku tidak melihat jiwa
Dalam kolase serpihan raga
Yang hampir utuh seluruh

Aku juga tidak meraba roh
Pada bayang-bayang raga
Yang bergerak dihembus halimun

Aku tidak kehilangan
Meski tak melihat jiwa
Meski tak meraba roh

Karena tidak dibentuk
Tentu tidak ada, tidak pernah
Tidak ada kehilangan

Aku telah mengasuh aku
Kupintal gumpalan rasa
Kutenun helaian pikir

Untuk suatu akhir...
Aku telah mengasuh aku
Demi memutuskan rantai
Dan
Aku tetap mengasuh aku

20/08/13 to 21/08/13
-rs-

Notes:
Thank you very much for all whose appreciated this poem on Facebook.
Be blessed dear all.

sincerelly yours,
rinny soegiyoharto

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Posts Archive


PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***