Tuesday, November 25, 2008

PEREMPUAN BICARA 5: Hari ini 25 November

Menurut kabar yang layak dipercaya, hari ini, 25 November (dan berlaku setiap tanggal 25 bulan ke sebelas), telah dideklarasikan sebagai Hari Internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan.

Ada begitu banyak bentuk kekerasan yang terjadi, selain kekerasan fisik seperti pukulan, tendangan, jambakan, dan aktivitas keras lainnya dengan akhiran -an. Kerap dilupakan orang, justru dampak kekerasan psikologis mampu melukai seseorang selama bertahun-tahun, bahkan dapat saja menjadi luka yang tak tersembuhkan.

Kekerasan bentuk ini seringkali di/ter-sampaikan secara verbal, melalui ucapan, kata-kata negatif, yang disertai ekspresi emosi negatif pula. Teringat pada Masaru Emoto, ilmuwan Jepang, yang meneliti dampak kata-kata terhadap bentuk kristalisasi air (mengandung unsur H2O), bahwa kata-kata yang diucapkan dengan penuh arti (you mean it deeply) dapat membentuk kristal yang sangat cantik dari kata-kata positif, dan kristal kacau balau dari kata-kata negatif. Kata-kata positif dapat berupa sapaan mesra: "Hello,"; "I love you,"; "How's your day?"; "Thank you,", dan seterusnya. Sedangkan kata-kata negatif seperti "Kamu ngga berguna,"; ataupun kata-kata yang tergolong makian. Masaru Emoto telah mempublikasikan hasil penelitiannya, cukup diterima oleh banyak kalangan.

Penjelasannya dapat dipahami bahwa 72% tubuh manusia adalah air, sisanya molekul padat lain. Sehingga, dampak kata-kata yang tertuju kepada seseorang diserap oleh sebagian besar bagian tubuhnya yang mampu membentuk kristal-kristal. Hubungannya, kristal yang indah dapat mencerahkan seseorang, sebaliknya kristal yang buruk dapat membunuh karakternya, memurukkan hidupnya.

STOP VIOLENCE AGAINST WOMAN!

Thursday, November 20, 2008

PEREMPUAN BICARA 4: PEREMPUAN BERINISIAL "R"

Berkesempatan menyaksikan infotainment kuanggap sebagai hiburan belaka, alat untuk menertawakan diri sendiri, sebagaimana sajian yang membuka bagian dalam hidup manusia. Ketika tayangan-2 tersebut menyibakkan satu per satu peristiwa sensitif dari alam kesadaran-ketaksadaran (consciousness-unconsciousness) subyek-nya, maka pikir-emosi-jiwa-laku-spirit manusia berbaur tanpa batas yang pasti.

Kali ini, infotainment mengambil bagian besar pikiranku, memaksaku mengolahnya berbekal intuisi, yang dengan impulsif kutulis di sini.

Ratna, berinisial "R"
istri seorang vokalis sebuah boysband yang tengah jadi ulat di atas daun. Perempuan ini menggugat cerai suaminya, merasa tak mendapatkan cintanya lagi. Berinisiatif mengikuti tes HIV demi berjaga-jaga dari kemungkinan-2 negatif yang terbawa oleh (atas dugaan sementara) sang suami.

Roxana, berinisial "R"
janda dari seorang penulis yang juga sedang menjadi ulat merayap di daunnya, yang atas gagasan luar biasa tertuang dalam bukunya, gagasan itu pun naik ke layar lebar, menyedot perhatian seantero publik negeri ini, bahkan sang Presiden. Ia memang sudah janda, sudah bercerai, namun dalam tayangan tersebut dikisahkan bahwa mantan suaminya menggugat untuk "meniadakan" perkawinan yang pernah mereka kecap dahulu.

Regina, berinisial "R"
istri seorang vokalis (juga), lagi-2 dari sebuah group band yang tengah mencari daun sebanyak-banyaknya untuk dinaiki. Perempuan cantik ini (dikabarkan) tak pernah diakui sebagai istri dalam karier sang suami yang lebih senang mengaku bujangan.

Rinny, diriku sendiri, berinisial "R" (yang ini berada di luar tayangan, adalah penonton yang ge-er, mentang-2 berinisial "R", hehehehe...)
bukan istri siapa-2, mencoba hidup dalam keberadaan dan ketakberadaan, mengais-ngais hidup dari setiap sudutnya, mencoba melihat tanpa menilai, mencoba menatap tanpa menghakimi (ngga mudah, selagi hidup dalam dunia manusia). Perempuan yang ini menyadari, begitu banyak cinta yang dimiliki, begitu banyak cinta yang harus terus dibagi, cinta itu tak pernah habis...

Semua perempuan itu... berinisial "R"
Coincidence???
No coincedence in this universe

Friday, November 14, 2008

Perempuan Bicara 3: "Wanita Super"

WANITA SUPER

Composed by Dewiq
Singer: Nafa Urbach

I.
Pernahkah kau pikirkan aku
Pernahkah kau anggap ku penting
Pernahkah kau tanyakan aku
yang kumau yang kurasa yang kuinginkan

Kau mencariku, aku ada
Kau ingin cinta, kuberikan
Kulakukan semua maumu
Penuhi permintaanmu, terus dan terus

Reff:
Aku bukan WANITA SUPER
Aku ingin juga kau sayang
Aku ingin juga cintamu, lebih dan lebih

Aku bukan WANITA SUPER
S'lalu ada saat kau butuh
Terus sempurna di depanmu, terus dan terus

Jangankan aku, (jangankan aku)
Tak kan ada yang bisa

II.
Pernahkah kau mencintaiku
Pernahkah kau menerima
Kelemahan yang kupunya
Karena s'lama ini untukmu ku begitu

Ahaaa... Ahaaa...
Ahaaa... Ahaaa...

Reff:
aku bukan WANITA SUPER
..................

Sunday, November 9, 2008

Perempuan Bicara 2

First lady-atau saya terjemahkan saja sebagai perempuan bernomor satu negeri ini, Ny Ani Yudhoyono mengatakan:"Perempuan memiliki sifat yang lebih baik dari laki-laki, seperti ulet, hemat, jujur, teliti, mengasuh, mendidik, memelihara, dan takut korupsi,"
Ungkapan ini saya kutip dari Harian Kompas 8 November 2008, ditulis dalam salah satu kolom berita desk Politik & Hukum. Konteksnya silaturahmi dengan peserta Halaqoh Pelajar dan Konferensi Besar Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama di Istana Negara.

Seraya menyampaikan salam dari sang suami, orang nomor satu Indonesia saat ini, Bu Ani juga mengutip kata-kata Pak SBY, burung garuda dapat terbang tinggi hanya jika didukung oleh kedua sayapnya, perempuan dan laki-laki. Selanjutnya saya membayangkan senyum di wajah Ibu Meutia Hatta Swasono, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang hadir di sana, masih menurut berita Kompas tersebut.

Belum lama ini saya menyaksikan melalui tayangan televisi ketika Bu Meutia mengungkapkan keprihatinan soal remaja putri bernama Ulfa di Ungaran yang tidak punya pilihan hingga dik Ulfa menyatakan rasa bahagia menjadi istri ke sekian dari sang guru di usia belianya. Saya sepakat dengan Bu Meutia, orangtuanya lah yang perlu memberikan keleluasaan memilih yang sesuai dengan kematangan dan kesiapan dik Ulfa. Selain UU Perkawinan RI tahun 74 yang jelas-jelas telah memberi batasan usia minimal menikahnya seorang perempuan Indonesia. Begitu banyak pilihan menjadi perempuan, apalagi Bu Ani tadi mengatakan perempuan memiliki sifat-sifat baik yang lebih. Namun pilihan dan memilih pun memiliki konsekuensi, sehingga tak lain dan tak bukan betapa perlunya mengasah rasa tanggung jawab sebagai wujud kecerdasan perempuan. Tanggung jawab menyadari dan menimbang konsekuensi, tanggung jawab menjalankan tugas-tugas perkembangannya, memastikan kematangan yang pas untuk suatu tindakan yang menuntut tanggung jawab lebih tinggi.

Perempuan harus cerdas dengan belajar bertanggung jawab dalam setiap situasi, ini menurut saya. Apakah kedua sayap garuda cukup kuat jika salah satunya belum tumbuh bulu lengkap? Ah... saya prihatin, namun saya juga belum tahu yang sesungguhnya, jangan-jangan dik Ulfa memang sudah matang, meski usia menikahnya ditolak oleh UU. Ah... kok terasa kurang alami ya... Satu hal saya percaya, perempuan tetap harus mengikuti tahap-tahapnya, serta membiarkan alam mengajarinya secara alami.

Mohon maaf pada pihak-pihak terkait yang sempat membaca. Senang sekali jika ada yang sedia berkomentar.

ditulis dengan cinta dan keprihatinan

Saturday, November 8, 2008

Perempuan Bicara

Kupersembahkan untuk ibunda tercinta yang telah damai di tempat Allah Sang Maha Kasih sejak 22 Juli 2008. I love you Mom...
Artikel ini telah dipublikasikan oleh Harian Umum "Suara Pembaruan" Minggu, 23 April 2006, dalam rubrik Psikologi, setelah melalui proses pengeditan Redaksi. Artikel pembuka blog-ku ini adalah tulisan asli sebelum diedit, dibuat pada tanggal 17 April 2006. Kuluncurkan sebagai posting pertama blog "perempuan bernama rinny", blog ketigaku setelah dua yang lain. Selamat menikmati... terimakasih atas kunjungan Anda semua...
Perempuan Dan Jiwanya
Rinny Soegiyoharto

Saya ingin menyebutkan beberapa nama perempuan. Lalu bertutur tentang mereka, kendati sebagian besar di antaranya tak pernah saya kenal dari dekat. Mulai dengan Dani, seorang perempuan berjabatan tinggi pada sebuah perusahaan telekomunikasi di negeri ini. Saya tak mengenalnya secara antarpribadi, bisa jadi karena -sekali lagi- ia adalah seorang vice president di perusahaan telekomunikasi yang besar ternama. Tapi saya merasa akrab dan seolah-olah begitu dekat dengan pribadi perempuan itu. Dipastikan bukan dari portofolio ataupun biografi ’Bu Dani. Kedekatan yang menghangat terasa justru saat saya mulai menyimak sajak demi sajak yang ditulisnya dan makin tenggelam di relung kedalaman jiwa sang penulis. Antologi puisi perempuan androgini (berperan ganda, karir dan menjadi ibu) itu telah menguakkan rahasia jiwa dan kedalaman batinnya.

Jiwa Perempuan yang Khas
Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono menelaah untaian puisi-puisi tersebut, mengungkapkan bahwa rangkaian kata-kata Dani membawa emosi pembaca ke suasana melankolik. Barangkali buah torehan Dani didiagnosis sebagai proyeksi kepribadiannya, yakni seorang yang bertipe melankolik. Bukan, hal ini jangan lantas dipahami sebagai dua kepribadian berbeda. Ketika berperan sebagai perempuan karir sambil menduduki jabatan penting, ia tampil bak sang kolerik perkasa. Sebaliknya saat mengekspresikan bahasa jiwa lewat puisi-puisinya maka ia menjadi melankolik. Sekali lagi, bukan begitu. (Saya sarankan anda membaca referensi lain untuk memahami tipologi kepribadian manusia). Menurut saya, Dani sungguh-sungguh perempuan dengan jiwanya yang khas.

Mumpung sedang membahas perempuan, izinkan saya mendaftarkan nama Osin -yang ini memang bukan Oshin di telenovela Jepang itu. Ia kurang mengenal perjuangan emansipasi bagi perempuan dan hanya tahu sebatas sejarah dan peristiwa. Karena ia tidak berdiam di tanah Jawa pada masa mudanya. Jangan dibalik, saya tidak mengatakan perempuan yang berjuang untuk emansipasi hanya ada di Jawa (meski mungkin saja memang begitu adanya). Yang saya maksud, emansipasi lebih ’ngetren’ di pulau Jawa (bagian tengah) ketimbang pulau-pulau lain. Osin ini berasal dari Minahasa, yang meski titik berat pelaksanaan hak-hak masih berpihak pada laki-laki (juga), perempuan tidak pernah diletakkan sebagai ”teman di belakang”nya laki-laki. Perempuan-perempuan Minahasa bahkan cenderung ’ge-er’ menempatkan dirinya senantiasa sebagai ”teman di samping”, mitra sejajar, seiring-sejalan dengan laki-laki membangun kampung, menyukseskan mapalus (gotong-royong).

Namun tetap ada barier yang menghadang perempuan, adakalanya berwujud rambu-rambu kaku. Pada masa Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta), saat banyak tentara Jawa beredar di seantero Minahasa, berdengung petitah dari para tetua untuk gadis-gadis di sana. ”Jangan sampai dinikahi mereka, sebab kebanyakan sudah punya istri.” Perempuan Minahasa yang dinikahi tentu akan jadi istri ke sekian. Dari cerita Osin, memang tidak banyak gadis Minahasa di kampungnya menikah dengan pemuda Jawa. Ke’ge-er’an mereka untuk selalu menjadi ”teman di samping” laki-laki, membuat mereka ketakutan dijadikan istri ke sekian yang nantinya menjadi ”teman di belakang”. Terkecuali Osin. Ia sungguh-sungguh perempuan dengan ciri khas jiwanya. Ia menikahi pemuda Jawa tanpa kehadiran calon mertua dalam proses pernikahan itu. Sekian tahun setelah menikah barulah ia berjumpa dengan mertuanya di Jawa. Baru setelah 20 tahun menikah, kedua pasang besan berjumpa dan berakrab-ria dalam uniknya komunikasi dan bahasa yang saling dipaham-pahamkan. Osin adalah ibu saya, jadi ceritanya saya yakini sungguh-sungguh benar.

Ada seorang perempuan lain bernama Mistin. Ia tengah mengandung tujuh bulan ketika saya mendengar berita tentang dia baru-baru ini. Sedikit sekali informasi yang saya peroleh, sebab dia tidak menulis dan bercerita apa-apa. Hanya sepenggal kata-katanya yang masih terus terngiang dalam benak saya. Mistin yang asli Malang, Jawa Timur, didakwa melakukan tindak kekerasan terhadap suaminya, Dadang. Ia menyiram wajah sang suami dan sebagian tubuh bagian atas dengan minyak panas, hingga saluran napas Dadang tersumbat, seluruh kulitnya melepuh.

Diungkapkan dalam Emosi
Usia kandungan Mistin tujuh bulan, mestinya ia sangat membutuhkan kehadiran suami menantikan saat-saat kelahiran. Tapi mengapa justru “mengirim” suaminya ke rumah sakit, bahkan nyaris menghilangkan nyawa bapak dari anaknya itu. Kata-kata Mistin lugas menjawab pertanyaan apakah dirinya menyesal telah mencelakakan suami sendiri. “Saya tidak menyesal sama sekali,” ujarnya dalam emosi datar dan ekspresi yang sulit ditebak. Mistin yakin betul bahwa tindakannya disertai motivasi kuat dan benar, meski cara yang dipilih tergolong kekerasan.

Dalam kutipan tak langsung, diberitakan betapa Mistin seringkali mengalami tindak kekerasan dari sang suami. Kandungan Mistin yang jelas-jelas berisi buah cinta mereka berdua sempat ditendang berkali-kali oleh suaminya itu, hingga ia mengalami perdarahan hebat. Ekspresi Mistin seolah tidak mencerminkan suasana emosi tertentu itu bahkan terkesan dingin dan ‘tega’. Bercampur pula dengan kegetiran dan ketakutan. Ia bukannya takut suaminya mati, yang ditakutinya adalah pembalasan yang bakal ia terima saat suaminya pulih nanti. Pantulan jiwa Mistin pada segala tindak-tanduknya khas milik perempuan.

Semasa hidupnya Kartini juga demikian. Ia yang lahir pada 21 April 1879, merupakan putri Raden Mas Ario Sosrodiningrat, asisten wedana Mayong, Jepara, tentu saja tergolong priyayi. Sayangnya, Kartini tidak menikmati fasilitas kewedanaan yang dimiliki ayahnya, karena ia anak seorang selir. Saya tak mungkin berceloteh soal perempuan tanpa memasukkan nama Kartini dalam daftar, bukan?

Keberanian dan Cinta
Sampai pada Kartini, ada benang merah yang merajut nama-nama perempuan dalam daftar saya ini. Dalam surat-suratnya kepada mevrouw de Booij Boissevain, Kartini meletupkan kepedihan hati atas pembedaan fasilitas antara ibunya beserta anak-anak, dan yang diperoleh istri utama ayahnya. Demikian pula yang terungkap dalam banyak surat-surat Kartini, menyiratkan kegigihan menyelimuti ketak-terimaan nasib dan perlakuan terhadap kaumnya.

Semangat Kartini memperjuangkan emansipasi bagi nasib perempuan sudah barang tentu dilatari perangkat budaya dan lingkungan kehidupannya. Ia lahir dan dibesarkan dalam adat-istiadat Jawa priyayi yang feodal. Meski secara kognitif ayahnya dan lingkungan priyayi Jawa bergaul dengan budaya Barat yang dibawa kerabat Belanda mereka, semua itu tidak cukup kuat mengubah paradigma yang menyentuh intensi perilaku menempatkan perempuan di luar lingkaran yang telah berlangsung berabad-abad.

Di sinilah benang merah itu. Kartini memiliki keberanian yang tinggi mengungkapkan gejolak jiwanya ke dalam surat-surat yang terkirim, sehingga orang lain dapat membaca dan turut merasakan (berempati) apa yang tengah dialaminya. Itulah jiwa perempuan, berbagi pikiran dan perasaan merupakan kerinduan jiwanya. Dengan berani perempuan mengungkapkan letupan jiwanya dalam berbagai cara.

Dani rela berbagi episode hidupnya dengan orang lain dalam sajak-sajak yang dipublikasikan. Juga dilakukan dengan berani dan dalam dorongan kebutuhan untuk berbagi pengalaman jiwa. Osin berani menerobos petitah dan memenangi tantangannya sendiri. Menikahi pemuda Jawa tidak beda dengan pemuda-pemuda lainnya. Halnya Mistin, andai saja ia tidak punya keberanian lebih untuk memutuskan derita kekerasan yang dilakukan suaminya selama ini, mungkin orang lain tak ‘kan pernah tahu.

Mereka semua perempuan yang punya keberanian mengungkapkan kebutuhan jiwanya untuk berbagi dan didengar. Namun tak semata itu, keberanian perempuan justru didorong oleh cinta dan kelembutan yang terpelihara alami di dalam jiwanya. Coba nikmati ungkapan-ungkapan jiwa perempuan, pasti ciri khasnya akan terasa.

Penulis adalah Psikolog