First lady-atau saya terjemahkan saja sebagai perempuan bernomor satu negeri ini, Ny Ani Yudhoyono mengatakan:"Perempuan memiliki sifat yang lebih baik dari laki-laki, seperti ulet, hemat, jujur, teliti, mengasuh, mendidik, memelihara, dan takut korupsi,"
Ungkapan ini saya kutip dari Harian Kompas 8 November 2008, ditulis dalam salah satu kolom berita desk Politik & Hukum. Konteksnya silaturahmi dengan peserta Halaqoh Pelajar dan Konferensi Besar Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama di Istana Negara.
Seraya menyampaikan salam dari sang suami, orang nomor satu Indonesia saat ini, Bu Ani juga mengutip kata-kata Pak SBY, burung garuda dapat terbang tinggi hanya jika didukung oleh kedua sayapnya, perempuan dan laki-laki. Selanjutnya saya membayangkan senyum di wajah Ibu Meutia Hatta Swasono, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang hadir di sana, masih menurut berita Kompas tersebut.
Belum lama ini saya menyaksikan melalui tayangan televisi ketika Bu Meutia mengungkapkan keprihatinan soal remaja putri bernama Ulfa di Ungaran yang tidak punya pilihan hingga dik Ulfa menyatakan rasa bahagia menjadi istri ke sekian dari sang guru di usia belianya. Saya sepakat dengan Bu Meutia, orangtuanya lah yang perlu memberikan keleluasaan memilih yang sesuai dengan kematangan dan kesiapan dik Ulfa. Selain UU Perkawinan RI tahun 74 yang jelas-jelas telah memberi batasan usia minimal menikahnya seorang perempuan Indonesia. Begitu banyak pilihan menjadi perempuan, apalagi Bu Ani tadi mengatakan perempuan memiliki sifat-sifat baik yang lebih. Namun pilihan dan memilih pun memiliki konsekuensi, sehingga tak lain dan tak bukan betapa perlunya mengasah rasa tanggung jawab sebagai wujud kecerdasan perempuan. Tanggung jawab menyadari dan menimbang konsekuensi, tanggung jawab menjalankan tugas-tugas perkembangannya, memastikan kematangan yang pas untuk suatu tindakan yang menuntut tanggung jawab lebih tinggi.
Perempuan harus cerdas dengan belajar bertanggung jawab dalam setiap situasi, ini menurut saya. Apakah kedua sayap garuda cukup kuat jika salah satunya belum tumbuh bulu lengkap? Ah... saya prihatin, namun saya juga belum tahu yang sesungguhnya, jangan-jangan dik Ulfa memang sudah matang, meski usia menikahnya ditolak oleh UU. Ah... kok terasa kurang alami ya... Satu hal saya percaya, perempuan tetap harus mengikuti tahap-tahapnya, serta membiarkan alam mengajarinya secara alami.
Mohon maaf pada pihak-pihak terkait yang sempat membaca. Senang sekali jika ada yang sedia berkomentar.
ditulis dengan cinta dan keprihatinan
No comments:
Post a Comment