Tuesday, December 30, 2008

Perempuan Bicara 7: Penghujung 2008

SAMBUT TAHUN BARU 2009

Sebentar lagi tahun ini akan berakhir. Sebagai seseorang yang hidupnya sangat tergantung pada kemurahan dan kasih sayang Tuhan, saya hanya mampu mengucap syukur terus-menerus. Banyak hal kulalui di tahun 2008 ini, suka-duka, manis-pahit, cerah-mendung, ringan-berat, semua yang saling bertolak belakang, datang silih berganti, mengisi waktu-waktuku. Luar biasa, saya diizinkan oleh NYA, menghadapi dan melewati kehidupan seperti itu. Sekolah kehidupan adalah pengalaman luar biasa bagi setiap kita, saya rasa. Unik dan spesial, tak tergantikan, tak ada yang sama pada setiap insan yang disayangiNYA.

Pengalaman hidup kita masing-masing lah yang menjadi referensi bagi kita untuk melangkah. Pengalaman yang diisi dan terisi, pengalaman yang bersifat pribadi dan sosial, yang melibatkan hubungan antar pribadi kita dengan orang-orang yang kita kasihi dan mengasihi kita. Tahun 2008 ini, saya kehilangan seseorang yang sangat saya kasihi; IBU SAYA. Tuhan telah memanggilnya, telah memberikan tempat yang lebih indah baginya. Saya sangat meyakininya, namun tetap saja saya merasa sangat kehilangan.
So, lesson number #1: Cintailah IBU mu dengan segenap hatimu. Ibu tak kan pernah tergantikan, kasih sayangnya sangat dalam dan membekas.

Namun demikian, ekspresi cinta setiap orang dan setiap budaya memang sangat berbeda. Adakalanya saya masih saja agak sulit menguraikan peristiwa di depan mata saya. Bahasa-bahasa umum tentang cinta ternyata tidak pernah cukup untuk menggambarkan ekspresi dan makna cinta itu sendiri. Mungkin saja saudara-2ku pernah gemas dan geram, merasa bahwa apa yang dilakukan seseorang terhadap anaknya sungguh tidak tepat. Saya juga pernah merasa demikian. Lebih-lebih saat kabar berita anak-anak yang stres, bunuh diri, disiksa, dipukuli, menguak di media-media. Saya sangat terganggu dengan kabar-kabar semacam itu, bahkan saya pernah tidak bisa tidur memikirkan seorang anak yang tidak saya kenal sama sekali, telah melakukan usaha bunuh diri. Aaahhh...

Beberapa waktu lalu, saya hinggap di suatu daerah, dalam perjalanan kerja saya. Peristiwa-peristiwa yang saya jumpai, tentu saja tak luput dari lensa batin saya, potret yang melekat di benak saya. Salah satu sketsa yang ingin saya bagikan adalah saat seorang anak perempuan menangis sesenggukan menuntun sepedanya. Airmatanya berlinang, wajahnya merah, napasnya tersengal-sengal. Ingin sekali saya memeluk anak itu, menenangkan hatinya, tanpa perlu banyak berkata-kata. Namun di situ ada orangtuanya, yang dengan bahasa dan ekspresi cinta yang berbeda dengan yang saya bayangkan, malah menyecar berbagai pertanyaan keras pada anak mereka. Menurut saya, pertanyaan-2 itu tidak penting di saat si anak sedang tak menentu perasaannya, sedang butuh kekuatan dari orang-orang yang ada di dekatnya. Tapi saya tidak tahu apa yang ada di pikiran orangtua anak tersebut, mereka malah memarahi anak perempuan yang cantik itu, menyuruhnya diam, memerintahkannya untuk berhenti menangis.

Aaahhh... Menurut saya, menangis itu tidak apa-apa, apalagi pada anak-anak yang sedang meluapkan emosinya, batinnya yang sesak. Nanti dia pasti akan berhenti dengan sendirinya, lalu bisa menjelaskan apa yang terjadi. Namun, mungkin saja orangtua anak tersebut tidak ingin anaknya menjadi cengeng. Mungkin mereka ingin anak itu mandiri dan tidak menunjukkan ekspresi emosi dengan cara itu. Mungkin itulah ungkapan cinta mereka. Mungkin. Karena saya tidak tahu pasti, saya tidak mewawancari keluarga itu. Saya hanya melihat, dan berbicara sendiri di dalam hati saya.

Berbicara di dalam hati selalu saya lakukan, dalam berbagai kesempatan. Berdialog dengan diri sendiri, membangun diskusi pribadi, atau mungkin lebih enak disebut "self talk". Saya terus akan melakukannya untuk membangun diri saya dan lingkungan saya, juga di masa-masa mendatang.

SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU 2009.
God bless us!

Thursday, December 11, 2008

Perempuan Bicara 6: Apa itu sukses?

Benarkah setiap orang ingin sukses?

Tampaknya, tak seorang pun yang melewatkan kata "sukses" dalam perjalanan hidupnya. Bahkan sebagian di antaranya menjadikan "sukses" sebagai sebuah impian, bahkan sebuah hak (Kata Andri Wongso: Success is my right). Anak-anak mungkin belum mengenal makna sukses sebagaimana dimaksud orang dewasa, namun anak-anak sudah memahami perbedaan antara perasaan berhasil dan tidak berhasil. Perasaan berhasil berasosiasi dengan senang, perasaan tak berhasil berasosiasi dengan perasaan kurang senang.

Persoalannya, perasaan senang dan tak senang yang dialami anak-anak, tanpa sadar mengalami tindak manipulatif orangtua. Lihat saja, berapa banyak anak yang menangis ketika nilai pelajaran sekolahnya jelek, bukan karena dia tidak senang karena merasa tidak sukses dalam pelajaran itu, namun karena anak tersebut takut dimarahin orangtua. Ia membayangkan kata-kata tak enak (asosiasi perasaan negatif), seperti: "Kok dapat lima? anak temen mama bisa tuh dapat nilai delapan terus!", dan sebagainya.

Dalam perjalanan hidup seseorang terkait "sukses" dan "perasaan sukses" yang mengikutinya, sejak kanak-kanak hingga dewasa, terjadi berbagai perubahan yang juga mengikuti perubahan makna sukses bagi dirinya. Artinya, sukses sangat tergantung pada makna dan nilai-nilai sukses yang dianut oleh masing-masing pribadi. Apabila seorang dewasa memaknai sukses yang ditandai dengan suatu perilaku tertentu, misalnya "menang bersaing" dengan "siapa saja yang dianggap" lawan, maka jika yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan stres. Apakah ada orang yang merasa sukses dengan cara demikian? Banyak, dan tidak sadar. Kenapa bisa? Karena sejak kecil orangtuanya selalu menanamkan "menang dalam persaingan = sukses", setelah ia bisa merasakannya sendiri, ternyata ia tidak punya pilihan lain untuk "merasa senang" (asosiasi perasaan positif) kecuali menang bersaing.

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang "sering mengalah"? Karena penguatan positif diberikan padanya dan dimaknai sebagai perasaan senang karena dipuji oleh orangtua, apakah ia akan menjadi orang yang merasa sukses jika mengalah? Bisa saja begitu, bisa juga tidak. Karena pada saat ia menghadapi dunia "di luar" keluarga, dan mendapati bahwa "mengalah" itu baik pada saat yang tepat, tapi juga "bersaing" itu sehat dalam ajang yang semestinya, dengan perjuangan yang jujur, tulus dan ikhlas, bisa saja dia berubah. Mungkin saat anak-anak dulu, ia sering mengalami bullying (ditekan secara psikologis dan bahkan fisik oleh anak lain yang lebih kuat), tapi setelah dewasa mungkin dia yang menekan orang lain, di tempat kerja misalnya.

Sekarang balik lagi ke pertanyaan: Apa itu sukses? Benarkah setiap orang ingin sukses?
Jawaban saya: setiap orang ingin sukses, namun makna sukses bagi setiap orang tidak sama, tergantung perjalanan hidupnya, tergantung perubahan-perubahan yang dimaknainya, tergantung ketabahan menghadapi hambatan dan rintangan, tergantung pada.... dirinya sendiri.

Bolehkah kita berharap untuk sukses yang lebih besar setelah ini? Sangat boleh, tapi kalau untuk meraihnya kita harus mengorbankan orang lain, menekan orang, merugikan pihak-pihak yang tak paham, bahkan mengorbankan kebahagiaan kita sendiri, buat apa?

Mari kita merasa sukses dengan porsi sukses yang tepat. Yoook.