Thursday, December 11, 2008

Perempuan Bicara 6: Apa itu sukses?

Benarkah setiap orang ingin sukses?

Tampaknya, tak seorang pun yang melewatkan kata "sukses" dalam perjalanan hidupnya. Bahkan sebagian di antaranya menjadikan "sukses" sebagai sebuah impian, bahkan sebuah hak (Kata Andri Wongso: Success is my right). Anak-anak mungkin belum mengenal makna sukses sebagaimana dimaksud orang dewasa, namun anak-anak sudah memahami perbedaan antara perasaan berhasil dan tidak berhasil. Perasaan berhasil berasosiasi dengan senang, perasaan tak berhasil berasosiasi dengan perasaan kurang senang.

Persoalannya, perasaan senang dan tak senang yang dialami anak-anak, tanpa sadar mengalami tindak manipulatif orangtua. Lihat saja, berapa banyak anak yang menangis ketika nilai pelajaran sekolahnya jelek, bukan karena dia tidak senang karena merasa tidak sukses dalam pelajaran itu, namun karena anak tersebut takut dimarahin orangtua. Ia membayangkan kata-kata tak enak (asosiasi perasaan negatif), seperti: "Kok dapat lima? anak temen mama bisa tuh dapat nilai delapan terus!", dan sebagainya.

Dalam perjalanan hidup seseorang terkait "sukses" dan "perasaan sukses" yang mengikutinya, sejak kanak-kanak hingga dewasa, terjadi berbagai perubahan yang juga mengikuti perubahan makna sukses bagi dirinya. Artinya, sukses sangat tergantung pada makna dan nilai-nilai sukses yang dianut oleh masing-masing pribadi. Apabila seorang dewasa memaknai sukses yang ditandai dengan suatu perilaku tertentu, misalnya "menang bersaing" dengan "siapa saja yang dianggap" lawan, maka jika yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan stres. Apakah ada orang yang merasa sukses dengan cara demikian? Banyak, dan tidak sadar. Kenapa bisa? Karena sejak kecil orangtuanya selalu menanamkan "menang dalam persaingan = sukses", setelah ia bisa merasakannya sendiri, ternyata ia tidak punya pilihan lain untuk "merasa senang" (asosiasi perasaan positif) kecuali menang bersaing.

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang "sering mengalah"? Karena penguatan positif diberikan padanya dan dimaknai sebagai perasaan senang karena dipuji oleh orangtua, apakah ia akan menjadi orang yang merasa sukses jika mengalah? Bisa saja begitu, bisa juga tidak. Karena pada saat ia menghadapi dunia "di luar" keluarga, dan mendapati bahwa "mengalah" itu baik pada saat yang tepat, tapi juga "bersaing" itu sehat dalam ajang yang semestinya, dengan perjuangan yang jujur, tulus dan ikhlas, bisa saja dia berubah. Mungkin saat anak-anak dulu, ia sering mengalami bullying (ditekan secara psikologis dan bahkan fisik oleh anak lain yang lebih kuat), tapi setelah dewasa mungkin dia yang menekan orang lain, di tempat kerja misalnya.

Sekarang balik lagi ke pertanyaan: Apa itu sukses? Benarkah setiap orang ingin sukses?
Jawaban saya: setiap orang ingin sukses, namun makna sukses bagi setiap orang tidak sama, tergantung perjalanan hidupnya, tergantung perubahan-perubahan yang dimaknainya, tergantung ketabahan menghadapi hambatan dan rintangan, tergantung pada.... dirinya sendiri.

Bolehkah kita berharap untuk sukses yang lebih besar setelah ini? Sangat boleh, tapi kalau untuk meraihnya kita harus mengorbankan orang lain, menekan orang, merugikan pihak-pihak yang tak paham, bahkan mengorbankan kebahagiaan kita sendiri, buat apa?

Mari kita merasa sukses dengan porsi sukses yang tepat. Yoook.

No comments:

Post a Comment