CERITA DARI SEBUAH SALON
Sudah lebih dari 6 bulan saya tidak datang ke tempat itu. Sebelumnya saya pasti akan mampir minimal sebulan satu kali. Apalagi kah yang dilakukan perempuan saat mengunjungi salon kecantikan (rambut) jika bukan mencoba usaha pengawetan? Hehehe... merawat sesuatu di tubuh adalah bagian dari proses pengawetan, bukan? Creambath, salah satu usaha mengawetkan rambut agar dapat bertahan dari akibat-akibat alami kerusakan (polusi udara terpaksa menjadi bagian alami, meski tingkat polusi yang makin tinggi, kerusakan alam dan efek perubahan iklim adalah notabene disebabkan ulah manusia yang tak memelihara alam. Ah... sakit hati berbicara masalah ini ya...).
Well, sebab-musabab saya tidak mampir-mampir setengah tahun lebih ke tempat itu, bukan karena usaha pengawetan saya berhenti, namun saya menghindari tempat itu, saya mencari tempat lain yang menjauhkan ingatan-ingatan kenangan yang masih sulit bagi saya untuk coping.
Salon itu, selain tempat untuk melakukan usaha pengawetan, tempat memanjakan diri sejenak, tempat untuk tidur dalam sentuhan capster, lebih dari itu semua, salon tersebut adalah tempat saya menghabiskan waktu dengan ibu saya. Sebulan sekali saya mengantarkan ibu saya ke tempat itu. Ia (ibu saya) yang pada masa-masa masih sehat dan kuat beraktivitas secara mandiri, rutin melakukan perawatan rambut dan kulitnya, baik oleh diri sendiri (inilah yang paling sering dilakukannya), maupun meminta bantuan pusat perawatan seperti salon. Ibu saya lah yang mengajarkan saya bagaimana "menjadi perempuan", tidak hanya "perempuan di luar" dengan usaha pengawetan non-alami, namun juga "perempuan di dalam" yang harus terus selalu menjaga kebersihan hati dan kejernihan pikiran.
Setelah terguncang stroke pertama kali sekitar 12 tahun yang lalu, ibu saya banyak kehilangan fungsi anggota tubuhnya, termasuk kehilangan kemandirian untuk melakukan berbagai hal yang digemarinya. Episode ke salon bersama-sama kemudian menjadi acara rutin kami setiap bulan. Setelah menuntunnya ke tempat dimana ia bisa mendapatkan perawatan ataupun treatment yang diinginkannya, tentu saja saya juga mengambil kesempatan yang sama. Hampir semua capster di salon itu sudah mengenal ibu saya yang selalu datang dengan tongkat, dituntun anak perempuannya.
Selang 2 minggu saja sejak usaha pengawetan terakhir yang dilakukan terhadap ibu (di salon itu tentu saja, dan berdua dengan saya), ia (ibu) pergi menghadap Sang Khalik, Sang Empunya Hidup Yang Juga Maha Memiliki apapun di jagad raya ini. Penyebab medis adalah serangan stroke kedua kali, namun selebihnya adalah mutlak Rahasia Illahi. Meski demikian, ternyata saya tetap memerlukan cukup banyak waktu untuk berani dan siap kembali datang ke salon tersebut (tanpa ibu dalam tuntunan tangan saya).
Kemarin, akhirnya saya datang lagi ke salon itu. Seperti biasa meminta perawatan standar saja, lalu mencoba menikmati dalam pejaman mata. Saya dapat menikmatinya, selama 2 jam kepala saya di-unyel-unyel, digodog dengan steamer... hehehe mau-maunya ya direbus begitu. Tapi enak kok.
Selesailah seluruh proses, lalu saya menghampiri meja kasir, pemilik salon (kami sudah saling kenal) ada di sana. Ia menyapa saya dengan ramah dan senyum pedagang (maaf, sekadar untuk pembeda saja dengan ekspresinya setelah ini),
"Halo Mbak, sudah lama sekali tidak ke sini..."
"Iya ya," jawab saya.
"Saya tadi tanya sama anak-anak (para capsternya), mereka bilang mbak sendirian saja. Bagaimana kabar ibu?"
"Iya, saya sendiri saja. Ibu saya sudah meninggal dunia," suara saya sih normal-normal saja rasanya.
Namun pemilik salon yang ramah itu telah berubah ekspresi. Tak berapa lama ia meneteskan airmata (sudah pasti ini bukan airmata pedagang, saya berani jamin itu). Tanpa perlu saya ceritakan secara detail di sini, pemilik salon tersebut mulai bercerita tentang beberapa kenangan silam, tentu saja terkait ibu saya, saya dan penilaian dia soal hubungan kami yang dipujanya. Ia terlihat sedih, terlihat merasa ikut kehilangan. Mau tak mau saya turut juga membayangkan kenangan-kenangan itu. Cukup lama ia berbagi rasa. Dan seperti biasa, terjadi pembicaraan di dalam pikiran saya. Pembicaraan antar berbagai pikiran saya yang terjadi di otak saya dan hanya diketahui saya sendiri (Wah, ribet memang kalau apa-apa dipikirin ya...).
Sepulang dari salon itu, saya lega, akhirnya saya sudah bisa datang ke sana lagi. Setidaknya usaha pengawetan sudah dapat berjalan normal. Akan tetapi, lebih dari itu, pelajaran berharga yang saya dapatkan adalah bahwa senyuman dan tangisan pedagang yang ini, bukan semata-mata bernilai jual-beli. Saat manusia memberi hati dan hidupnya terhadap pekerjaan yang dicintainya dan usaha yang digelutinya, ia juga menciptakan suatu tali silaturahmi yang bermakna sangat dalam bagi kehidupan manusia. Tali ini tidak hanya tersimpul erat dalam hubungan antar pribadi, namun juga sekaligus mengikat rapih hubungan jual-beli antara penjual dan pelanggan. Dalam hal ini saya yakin, letak trik marketing ampuh ada di sini (maaf kalau saya keliru, ya Pak Hermawan).
Semoga bermanfaat untuk seluruh pedagang yang membaca. BTW... sssttttt... jangan dikira saya bukan pedagang... hehehehe...