Friday, March 27, 2009

Perempuan Berbisik 23: Laki-laki Yang Ingin Mati

Setiap hari kata-kata "ingin mati" mengalir dari bibir dan jemarinya, melalui ucapan verbal, juga pesan-pesan singkat yang diketiknya.
Saya tahu, tidak satu saja, ada sebagian besar orang yang menggemakan alternatif keinginan seperti ini pada keseharian hidupnya, atau pada musim-musim tertentu. Seribu satu masalah dijadikan alasan, namun sesungguhnya tidak cukup memadai untuk dapat dikategorikan sebagai motivasi.
Tentu saja, ide "ingin mati" bukan motivasi. Saya akan uraikan di bagian bawah posting ini nanti.

Sebelumnya, saya ingin menceritakan kisah terkait pemanfaatan manipulatif kata "mati" yang tertangkap langsung oleh indera pengintai saya.
Kisah ini nyata dalam kehidupan, melanjutkan sepenggal yang telah tercuplik pada headline.

Tersebutlah seorang laki-laki ganteng, berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan dan penghasilan, keluarga yang lengkap (anak-anak dan istri), rumah pribadi, kendaraan lebih dari satu, memiliki cukup banyak teman dan sahabat, rutin beribadah, serta mempunyai mimpi dan harapan masa depan (yang ternyata justru menjadi faktor utama tumbuhnya perasaan-perasaan negatif hingga melahirkan ide "ingin mati").
Saya yakin keadaan laki-laki ini mampu mengundang rasa iri pada yang lain, atau mematahkan hati perempuan yang berhasrat padanya.
Telah berbulan-bulan ia terkurung di dalam idenya yang selalu menyertakan kata "mati". Setiap hari tiada absen melontarkan ide "aku ingin mati saja, aku memintanya, tapi kenapa tak pernah diberi?" Dan seterusnya, semua mengalir dari satu ide tambahan ke alternatif lain, yang semua bersumber pada ide utama: “ingin mati saja”.

Luar biasa, bahkan ide-ide kontras, berupa ungkapan-ungkapan yang dapat disepakati bersama sebagai hal lebih popular (favorable) daripada ide ingin mati (unfavorable) tersebut, benar-benar tidak mempan menyentuh ambang lapisan-lapisan kesadarannya. Contoh, ajakan-ajakan berbisnis, undangan rapat sambil saling mengunggah ide alias brainstorming, tantangan pekerjaan, dan hal-hal serupa, semua mental (dipentalkan). Semua ditolak olehnya, hanya dengan satu alasan dari ide utama miliknya: “aku ingin mati saja”.

Siapapun orangnya, suatu saat bisa lelah dan menghentikan upaya memotivasi ataupun tindakan prososial lainnya, terhadap laki-laki yang ingin mati tersebut. Setiap orang, bagaimanapun, tetap membutuhkan penghargaan, meski sekadar menyepakati usul, saran atau ide yang coba disampaikan (dalam konteks menolong orang lain), ataupun pengurangan frekuensi aliran kabar “ingin mati” tersebut.

Masalah hidup ditengarai sebagai alasan utama ide “ingin mati”, kendati laki-laki yang ingin mati tak pula mampu menguraikan masalah hidup apa yang mendera dan memicunya. Bahkan ia sendiri pun tidak mengetahui isi kesadarannya, bagaimana orang lain (di sekelilingnya) bisa?

Kelelahan menghadapi masalah rutin, jauhnya jarak harapan masa depan, kondisi sekeliling yang dipindainya memiliki lebih banyak “keberuntungan” daripada dirinya, serta permintaan dan tuntutan hidup yang terus meningkat, menghiasi alam idenya. Demikian kira-kira sari yang dapat diperas sementara ini. Ide dalam ungkapan ironis berupa, “betapa lelah hidup ini, kenapa semua yang kuinginkan tak jua diberikan? Kenapa hal-hal sederhana yang kupinta tak pernah mampir di hadapanku?”, menjadi rutinitas lain selain rutinitas pekerjaan dan kehidupan yang dilewatinya.
Dan seterusnya, dan sebagainya.

Teringat saya pada adegan saat polisi Griggs menggagalkan percobaan bunuh diri seorang laki-laki yang memilih alternatif terjun dari lantai teratas gedung tinggi. Agen polisi Griggs yang juga memiliki ide ingin mati (Dalam “Lethal Weaponpart one of its sequel), mengajak si laki-laki ini terjun bersama setelah memborgol tangan mereka berdua. Di bawah, sepasukan tim penyelamat, tim medis, polisi dan masyarakat telah siap menanti. Tak lama melompatlah kedua sosok ini atas desakan polisi Griggs. Apa yang terjadi kemudian? Setelah mereka mendarat mulus di atas bantalan penyelamat, laki-laki yang tadinya begitu gagah mengusung ide bunuh diri terjun sendirian itu malah menuduh Griggs berusaha membunuhnya dengan penerjunan itu.

Oh la la… Terbalik jadinya deh…
Semacam ini yang saya katakan tadi, bahwa ide “ingin mati” disertai langkah “ingin bunuh diri”, berbeda dengan motivasi tindakan mengakhiri hidup. Sangat berbeda. Bahkan banyak juga kekasih yang mengungkapkan “lebih baik aku mati saja daripada...” untuk mengancam kekasihnya agar diberikan apa yang ia minta. Hassyaahh...
Mengancam Tuhan dengan “ingin mati saja”, tentu juga berbeda. Sebagian besar kita memiliki keyakinan bahwa kehidupan dan kematian hanya milik Sang Khalik, bukan? Pemilik, saya yakini, memiliki kedaulatan penuh untuk membuat keputusan terhadap seluruh milik dan kekayaannya.

Dalam berbagai kasus bunuh diri, saya rasa tidak didorong oleh motivasi. Lebih banyak terjadi karena “kecelakaan”, persiapan-persiapan dilakukan, maut diundang, namun jika ditanyakan kepadanya saat itu, “Benarkah kamu siap mati?” Jawabannya pasti,”Tidak sih...tapi aku ingin banget, aku ngga tahan lagi terhadap cobaan ini, alat-alatnya sudah kusiapkan, lihat... lalu... braaakkk,” pelaku kepleset, Sang Khalik berduka, IA nestapa, IA marah... terpelesetlah dia, berubahlah alam kehidupannya.
Jika pun ada yang memiliki motivasi sebesar keinginannya, dalam kurve normal paling-paling hanya menempati ujung tersudut atau bahkan saya rasa adalah data outliers.

Ibu-ibu, istri-istri... pernahkah anak pertama Anda (sang misua) mengadu atau berbagi rasa tentang kekusutan hatinya? Pasti pernah, kalau tidak bukan rumah tangga namanya. Adakah yang pernah mendengar lontaran kata “ingin mati” dari kekasih hati? Jika ya, yakinkah Anda bahwa ia benar-benar menginginkannya? Tidak, bukan? Kebutuhan mendasar setiap orang saat sedang kusut rasa, adalah (menurut saya lho) tersedianya sebuah HATI penuh CINTA yang mendengarkannya.

I LOVE YOU...
---------------------

No comments:

Post a Comment