Saturday, April 4, 2009

Perempuan Berbisik 26: A-L-A-S-A-N

Setiap tindakan, disadari atau tidak, pasti memiliki alasan. Betapapun itu hanyalah langkah kecil yang kita ambil, apalagi yang besar, disertai tanggung jawab yang besar pula, bahkan pertaruhan.

Terhampar beraneka pilihan dalam kehidupan kita. Senantiasa. Pilihan-pilihan itu seluruhnya menuntut kecerdasan kita untuk menentukan keputusan lalu bertanggungjawab terhadapnya. Pernahkah anda bingung memilih? Saya juga, bahkan sering. Beberapa jam yang lalu, misalnya, saya memiliki dua undangan, setidaknya saya anggap undangan agar alasan saya bertanggungjawab terhadap keduanya menjadi lebih ringan ketimbang saya menganggapnya kewajiban untuk menghadiri.

Setelah menimbang, saya memilih datang ke komunitas yang lebih saya kenali dan mengenal saya. Pilihan yang aman, alasannya pun memberikan rasa aman dan menjanjikan kenyamanan, saya tidak perlu menjadi orang asing di awal pertemuan. Saya cukup melambaikan tangan sesampai di tempat pertemuan, maka orang-orang yang sudah hadir akan menyambut saya dengan senyum dan memperlihatkan sikap penerimaan.

Dalam perjalanan menuju ke tempat itu, saya merenung. Betapa mudahnya saya menjatuhkan pilihan demi rasa aman dan nyaman. Bagaimanakah perasaan orang di tempat lain yang telah sungguh-sungguh mengundang saya? Apakah saya tidak terlihat egois (meski tak ada yang tahu alasan saya terhadap pilihan ini, kecuali Tuhan, yang ternyata justru makin membuat saya menggoreskan kemasygulan) dengan pilihan ini?
Terdorong perasaan malu dan gamang, saya mulai mencari-cari alasan yang dapat menenteramkan. Terjadi 'self talk' (seperti biasa) dalam pikiran saya. Tepatnya saya mulai menghibur diri.

Suara #1:
"Hey, bukankah orang-orang di sini (komunitas yang akan saya datangi) sangat mengharapkanmu? Tentu kedatanganmu membuat mereka gembira, dengan demikian kamu tidak egois karena bisa menyenangkan hati mereka,"
Suara #2:
"Kamu hanya menginginkan perasaan senang bagi dirimu sendiri karena merasa dibutuhkan!"
Suara #3:
"Jika kamu tidak datang ke sini, mereka akan mencarimu, mereka akan menganggapmu tidak bertanggungjawab,"
Suara #4:
"Kamu harus datang ke sini, itu sudah benar, bukankah kamu sudah mengatakan akan datang?"
Suara #5:
"Lebih baik kamu tidak datang jika hatimu tak ingin,"
Suara #6:
"Ya, untuk apa kamu datang jika kamu gamang seperti ini?"
Suara #7:
"Ingat, kamu sudah membuat pilihan, lakukanlah dengan penuh tanggung jawab,"

Saya teringat pada sebuah buku yang tengah saya baca. Membaca buku juga merupakan pilihan yang penuh tantangan, karena betapa hausnya saya pada berbagai bacaan, hingga kadang-kadang mengorbankan tugas yang mestinya saya tangani lebih dulu. Namun selalu ada alasan, bukan? ;-)

Buku ini tipis, hanya membutuhkan sedikit waktu melahapnya, namun saya telah menginvestasikan lebih banyak waktu untuk menelaahnya. Isi dan pembelajarannya tidak dapat saya lewatkan hanya sepintas. JR Briggs, sang penulis tentu bukan bermaksud mengobrak-abrik pikiran saya dalam menguji berbagai alasan yang seringkali mendatangkan kebimbangan. Saya merenung lebih banyak, membayangkan diri saya berada di tempat para tokohnya, dan juga di tempat sang penulis.

Suara #utama:
"What are you going to do, 'When God says: Jump!'?"

Been written with love,
RS for her own blog.
---------------------

No comments:

Post a Comment