(dari ketinggian tertentu)
Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk mencintai seseorang yang telah saya kenal. Pertimbangan saya semata-mata bahwa saya belum pernah memberikan kesempatan pada hati saya untuk mencintainya sebagaimana bentuk-bentuk gambaran tentang cinta yang saya miliki. Dalam hal ini saya tidak peduli apakah ia tahu, atau ia merasakannya, atau bahkan memiliki perasaan cinta yang sama dengan saya. Intinya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Tanpa paksaan tanpa tekanan.
Tiba-tiba seseorang yang lain berkelebat di ruang benak saya. Ia hadir sungguh sekonyong-konyong, membawa sinyal cinta (tanpa sepengetahuannya) dan memaksa hati saya untuk setuju bahwa saya mencintainya. Lalu saya memaksa hati saya lebih keras untuk mengirimkan kabar terbaik kepadanya, yakni bisikan-bisikan cinta tanpa kata. Saya tetap tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, atau bahkan memiliki perasaan cinta melebihi yang ada pada saya. Pokoknya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Dipaksa oleh hati namun rela.
Saat merenung dalam keheningan doa, saya mendapati sebuah hati terbungkus wajah yang saya kenal. Ya, saya mencintainya. Membayangkan dekapan erat tanpa kata yang sempat teralami, melambungkan saya pada kehangatan cinta yang tak kan mungkin menjadi dingin. Saya masih saja tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, bahkan juga mencintai saya dalam kenangan-kenangan terbarui yang tak pupus. Sejatinya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Tanpa bertatap tanpa berpagut.
Sepenggal syair menghentak dalam frekuensi berirama, meleburkan sumbat aliran mikrokosmik yang mengitari tubuh. Sesosok bayangan menyelinap di balik lensa mata yang tak terselami ruang dan waktu. Benar, saya mencintainya. Betapa kuatnya cinta itu bergeletar dan menggemparkan jiwa saya, sampai-sampai saya lupa bernafas dan tersedak. Bibir saya mengucapkan kata-kata cinta penuh emosi, namun lembut dan menyesap. Saya lagi-lagi tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, bahkan juga mencintai saya sama dengan cinta saya atau lebih. Sejelasnya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Penuh emosi tapi tetap lembut.
Maka otak sadar saya pun mulai berhitung, menjumlah dan terus menjumlah. Semakin banyak dan bertambah tak henti, tiada ada satu pun berkurang. Saya mencintai semuanya dengan cara yang berbeda. Namun semua itu cinta, hati saya menyetujuinya, batin saya berseru yakin. Tidak satu pun kesalahan ada di sana.
Saya menyerang ungkapan-ungkapan banyak ahli mengenai cinta dan pengukuhan. Saya katakan saat ini di sini, CINTA TIDAK DIKUKUHKAN. Stop mencoba mengukuhkan cinta, karena tak ’kan berjalan dengan baik. Stop mencoba mengukuhkan cinta, percayalah pada saya.
Bahkan dalam perkawinan yang disepakati sebagai lembaga, cinta tidak dikukuhkan di sana. Sebab lembaga mengukuhkan komitmen. Temukan, apakah cinta juga dikukuhkan dalam lembaga itu? Jika ada, bawa kemari.
Bunda Teresa yang agung dalam sinar cintanya, berkata:
”Cinta tidak mempunyai arti jika tidak dibagikan. Cinta harus diwujudkan. Anda harus mencintai tanpa berharap apapun, lakukan segala sesuatu untuk cinta itu sendiri, tidak untuk sesuatu yang mungkin akan anda terima. Jika anda berharap sesuatu sebagai balasan, maka ini bukan cinta, karena cinta sejati adalah mencintai tanpa mengharapkan sesuatu.”
Kutipan singkat dari Sang Bunda penuh cinta menutup tulisan ini,
”Setiap tindakan cinta merupakan doa.”
RS @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/
cinta platonis ?...
ReplyDeletemenarik..
ReplyDelete"cinta sejati adalah mencintai tanpa mengharapkan sesuatu".
sulittttt sekali ya. cinta memang tidak perlu dikukuhkan. Namun tidak berarti usaha mengukuhkan cinta oleh manusia biasa (minus bunda teresa?) juga hal yang jelek.
paralel dengan ini adalah pengungkapan cinta. cinta berusaha dikukuhkan dengan diungkapkan: perhatian, kasih sayang, rasa cemburu, rasa merindu, rasa ingin memiliki (pernikahan, persetubuhan).
Kalau saya, melihat cinta seperti ini juga (mungkin karena super romantis):
Love is poetry. A poem that you wrote for me; As you sat and watched me sleep; To then slowly recite, that poem back to me. Amore.
---dari unknown di facebook ad.
wooohoooo =D
menarik blognya, saya harap terus menulis =)
Hello...
ReplyDeleteTerimakasih atas comments-nya, sangat berharga buat saya... Dan menggugah saya untuk menyetujui juga... Bahwa cinta platonis itu mmg ada, tp yang ini bukan itu... Dan juga bahwa romantic love benar membuai, pengukuhannya pd komitmen, bukan pd seluruh cinta... Saya ingin bilang: I love "romance d'amore" too... (Salam dari "whisper of woman")