*Antara saya dengan seseorang (alih-alih monolog :-))*
Seseorang: IA
Saya: RS
IA: Saya suka blog kamu.
RS: Terimakasih.
IA: Tapi....
RS: Ya...???
IA: Kamu kurang terbuka di situ.
RS: Kurang Terbuka? Maksudnya?
IA: Kamu tidak memberi-tahukan siapa diri kamu.
RS: Nama saya?
IA: Bukan... Kalau itu, ada...
RS: Jenis Kelamin? Identitas Jender?
IA: Bukan... Itu sudah jelas, bahkan dari tema blog kamu, semua orang bisa menduga dengan tepat...
RS: Ah! Ya! Status? Menikah, Tidak, atau Pernah???
IA: Itu salah satunya, meski tidak begitu penting, tapi kamu harus lebih banyak mengungkapkan status kamu. Apakah kamu tidak ingin orang lain tahu? Apabila kamu single, mestinya kamu lebih terbuka, menjelaskan kriteria pasangan yang kamu inginkan. Ataukah kemu memilih untuk tetap seperti ini? Mestinya kamu juga sampaikan pikiran-pikiran dan renungan kamu tentang hal itu.
RS: Ya, saya memang tidak menyatakannya secara eksplisit, tapi di dalam posting-posting saya ada banyak ungkapan implisit tentang kondisi status saya. Dengan demikian jelas saya tidak menutup-nutupinya. Namun soal penting atau tidak, saya justru menganggapnya tidak begitu penting saat ini, terutama untuk dibahas secara khusus. Karena saya belum memiliki rencana apa-apa, selain mengulang dongeng tentang puteri di pucuk tertinggi menara yang diselamatkan seorang ksatria berkuda, mengusung pedang dan membawa tiara untuk sang puteri.
IA: Hhhmmm, mungkin saya mengerti. Kamu merasa sepi?
RS: Justru hidup saya terlalu ramai. Saya bahkan seringkali merindukan suasana sangat sepi, sebuah oase untuk bersimpuh, mendalami seluruh isi batin, tanpa ada interupsi dari apa dan siapa pun.
IA: Seperti seorang kontemplator?
RS: Saya tidak tahu apa itu. Namun, saya juga berbahagia meski setiap saat hidup saya bukan untuk saya.
IA: Kamu sangat kompleks.
RS: Lebih tepat tanpa "sangat". Dan bukankah semua manusia kompleks adanya?
IA: Ya... (mengangguk-angguk), saya juga, tentu...
RS: Saya rasa begitu.
IA: Hal lain...
RS: Ya...???
IA: Kamu jarang sekali menulis sesuatu yang menggambarkan profesi kamu. Padahal, kamu harusnya lebih banyak menulis hal-hal yang bersifat ilmu. Banyak orang ingin belajar tentang ilmu yang terkait profesimu itu. Kenapa?
RS: Begitukah? Baik, saya ceritakan sedikit. Blog saya adalah tempat saya mencurahkan isi diri saya, bukan hanya pikiran, tetapi juga perasaan dan intensi saya. Blog, adalah salah satu oase saya, meski bukan tempat yang sepi. Saya membangunnya dan mengisi ruang-ruangnya sesuai yang saya mau. Saya menghapus dan merobohkan dinding-dinding pembatas, jika itu menghalangi pandangan saya. Blog saya adalah bagian dari perjalanan hidup saya, bukan bangunan ilmu yang disekat-sekat dan dibatasi, bukan tempat menggelar diri sebagai seseorang dengan profesinya atau apapun itu. Saya menulis tentang buku hidup saya.
IA: Baiklah, saya mengerti.
RS: Terimakasih.
IA: Ada lagi...
RS: Ya...???
IA: Adakalanya, tulisan kamu sangat simbolik, diplomatik, atau apapun istilahnya. Pilihan bahasa kamu sangat berkias, tidak dapat langsung dipahami. Seolah-olah kamu "berlindung" di baliknya.
RS: Saya menyadari hal yang satu itu... Namun saya punya jawabannya... Saya menulis dengan hati saya, meski pikiran saya tetap sebagai penunjuk arah. Saya memilih kata-kata berdasarkan perasaan, jiwa, dan spirit saya, diolah oleh pikiran, namun pengambil keputusan dilakukan bersama-sama oleh semua unsur itu. Saya baru menyadarinya (sadar pada frekuensi betha) ketika semua telah selesai.
IA: Saya punya pertanyaan...
RS: Ya...??? Yang tadi-tadi itu bukan?
IA: Oh, hahahaha... Pertanyaan selanjutnya...
RS: Okay...!
IA: Bisakah kamu menulis apabila secara fisik kamu dipenjarakan?
RS: Aha!!! Penjara yang mana 'nih? Dalam ruangan sejuk ber-AC? Ada TV flat dan perangkat karaoke? Bisa sambil 'facial' dan 'cream-bath'? Tentu saja tidak bisa. Saya akan banyak nonton 'termehek-mehek', 'insert!', 'bukan empat mata', dan lain-lain. Saya juga akan menikmati mani-padi(kur) yang selama ini jarang bisa saya lakukan... Hehehehe...
IA: Hahahahaha...
RS: Kalau dipenjarakan seperti Victor Frankle, mungkin bisa, tapi saya harap sih jangan aaahh... Hehehehe... Kehadiran fisik saya senantiasa dinantikan banyak orang lho... Hahahaha... *ge-er mode on*
IA: Okay deh, pertanyaan lain kapan-kapan saja...
RS: Tidak sekalian?
IA: Emangnya ada diskon?
RS: Bukan cuma diskon. Gratis!
IA: Bungkusin ya, 'take away'...
RS: Pake 'dry ice'???
*tutup warung, habis diborong*
*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/
Allow Our Spirit To Speak, Prophesy, and Act Through Our Soul, Heart, Mind, Body....... "The Human Spirit is The SPIRIT of CREATOR"
Tuesday, January 12, 2010
Perempuan Berbisik 54: Label, Rasio & Emosi
*Label, Rasio & Emosi*
(Sebuah Renungan Introspeksi)
Begitu panjang perjalanan suatu label yang memuat makna dari dan di dalam multi-makna. Mempengaruhi bentuk-bentuk perlakuan dan penilaian terhadapnya sepanjang sejarah kehidupan. Memupus label tersebut bagaikan bertempur di medan perang yang terus bersambung. Seperti ketika makhluk perempuan menyatakan eksistensi utuhnya dalam berbagai kesempatan. Berperang dari satu medan ke medan perang lainnya, berlangsung di seluruh permukaan dunia, hampir-hampir sesaat sejak penciptaan, dari waktu ke waktu, abad ke abad.
Ia dipuja, disayang, dikagumi, namun pada saat yang sama juga termarjinalkan, utamanya oleh label yang masih terus diperangi.
Ah! Barangkali saya salah. Bukan label itu tuntutan utama perempuan bertempur. Mungkin memang bukan. Lalu, apa?
Karena 'toh yang mengemuka tetaplah retorika, nama-nama perkumpulan berhiaskan identitas gender. Ikatan wanita ini, organisasi perempuan itu, arisan ibu-ibu sini, kumpulan istri-istri sana, gerakan perempuan pemerhati anu, dan sebagainya. Sementara, nyaris tak terdengar soal ikatan laki-laki ini dan itu. Pertempuran laki-laki tidak perlu mengangkat identitas gender.
Hingga saat ini label tersebut tetap manis dan lantang berkumandang. Frasa dan parafrasa yang sama. Label yang diamini dengan senyum empatik oleh semua. Perempuan adalah makhluk emosional (laki-laki makhluk rasional).
Sementara pertempuran terus berlangsung. Tuntutan-tuntutan akan persamaan bersahut-sahutan. Label itu masih kokoh bertahta. Sudut kerling yang rapuh bermain dan menari di tengah-tengah medan perang. Bergelayut sembari menikmati label sebagai makhluk emosional yang butuh empati dan anggukan mahfum.
Itulah kenyataannya. Bukan pada kelompok siapa mewakili yang mana. Itu semua adalah sisi-sisi berbeda dari suatu keutuhan, bukan hanya perempuan, tapi manusia.
Lantas mengapa terus bergema makhluk emosional hanyalah perempuan? Apabila kenyataannya semua makhluk memiliki sisi rasio dan emosi sebagai suatu keutuhan setiap individu?
Mungkinkah karena perempuan lebih sering mengumumkan isi emosinya ketimbang makhluk lain? Saya rasa tidak juga. Buktinya sebagian besar perkelahian, tawuran, debat panjang berapi-api, dilakukan laki-laki. Bukankah hal itu adalah pengumuman isi emosi yang marah, kecewa, selain takut, cemas, sedih, gusar?
Ataukah perempuan dianggap lebih mudah menangis? Ah, itu 'kan juga akibat dari label yang terlanjur dipatrikan, hingga laki-laki harus berupaya menyembunyikan air mata untuk tetap tampil sebagai makhluk rasional (menangis = emosional?).
Artinya, label tersebut memarginalkan semua makhluk hingga terpaksa tampil dengan hanya sebagian dari keutuhan dirinya.
Ya. Barangkali begitu. Untuk sementara, begitu saja dulu introspeksi ini. Saya (perempuan yang dari venus, katanya), pun bisa masuk gua dan kembali berpikir. Menyelami kedalaman batin yang tak pernah kering, namun senantiasa haus.
*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/
(Sebuah Renungan Introspeksi)
Begitu panjang perjalanan suatu label yang memuat makna dari dan di dalam multi-makna. Mempengaruhi bentuk-bentuk perlakuan dan penilaian terhadapnya sepanjang sejarah kehidupan. Memupus label tersebut bagaikan bertempur di medan perang yang terus bersambung. Seperti ketika makhluk perempuan menyatakan eksistensi utuhnya dalam berbagai kesempatan. Berperang dari satu medan ke medan perang lainnya, berlangsung di seluruh permukaan dunia, hampir-hampir sesaat sejak penciptaan, dari waktu ke waktu, abad ke abad.
Ia dipuja, disayang, dikagumi, namun pada saat yang sama juga termarjinalkan, utamanya oleh label yang masih terus diperangi.
Ah! Barangkali saya salah. Bukan label itu tuntutan utama perempuan bertempur. Mungkin memang bukan. Lalu, apa?
Karena 'toh yang mengemuka tetaplah retorika, nama-nama perkumpulan berhiaskan identitas gender. Ikatan wanita ini, organisasi perempuan itu, arisan ibu-ibu sini, kumpulan istri-istri sana, gerakan perempuan pemerhati anu, dan sebagainya. Sementara, nyaris tak terdengar soal ikatan laki-laki ini dan itu. Pertempuran laki-laki tidak perlu mengangkat identitas gender.
Hingga saat ini label tersebut tetap manis dan lantang berkumandang. Frasa dan parafrasa yang sama. Label yang diamini dengan senyum empatik oleh semua. Perempuan adalah makhluk emosional (laki-laki makhluk rasional).
Sementara pertempuran terus berlangsung. Tuntutan-tuntutan akan persamaan bersahut-sahutan. Label itu masih kokoh bertahta. Sudut kerling yang rapuh bermain dan menari di tengah-tengah medan perang. Bergelayut sembari menikmati label sebagai makhluk emosional yang butuh empati dan anggukan mahfum.
Itulah kenyataannya. Bukan pada kelompok siapa mewakili yang mana. Itu semua adalah sisi-sisi berbeda dari suatu keutuhan, bukan hanya perempuan, tapi manusia.
Lantas mengapa terus bergema makhluk emosional hanyalah perempuan? Apabila kenyataannya semua makhluk memiliki sisi rasio dan emosi sebagai suatu keutuhan setiap individu?
Mungkinkah karena perempuan lebih sering mengumumkan isi emosinya ketimbang makhluk lain? Saya rasa tidak juga. Buktinya sebagian besar perkelahian, tawuran, debat panjang berapi-api, dilakukan laki-laki. Bukankah hal itu adalah pengumuman isi emosi yang marah, kecewa, selain takut, cemas, sedih, gusar?
Ataukah perempuan dianggap lebih mudah menangis? Ah, itu 'kan juga akibat dari label yang terlanjur dipatrikan, hingga laki-laki harus berupaya menyembunyikan air mata untuk tetap tampil sebagai makhluk rasional (menangis = emosional?).
Artinya, label tersebut memarginalkan semua makhluk hingga terpaksa tampil dengan hanya sebagian dari keutuhan dirinya.
Ya. Barangkali begitu. Untuk sementara, begitu saja dulu introspeksi ini. Saya (perempuan yang dari venus, katanya), pun bisa masuk gua dan kembali berpikir. Menyelami kedalaman batin yang tak pernah kering, namun senantiasa haus.
*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/