*Label, Rasio & Emosi*
(Sebuah Renungan Introspeksi)
Begitu panjang perjalanan suatu label yang memuat makna dari dan di dalam multi-makna. Mempengaruhi bentuk-bentuk perlakuan dan penilaian terhadapnya sepanjang sejarah kehidupan. Memupus label tersebut bagaikan bertempur di medan perang yang terus bersambung. Seperti ketika makhluk perempuan menyatakan eksistensi utuhnya dalam berbagai kesempatan. Berperang dari satu medan ke medan perang lainnya, berlangsung di seluruh permukaan dunia, hampir-hampir sesaat sejak penciptaan, dari waktu ke waktu, abad ke abad.
Ia dipuja, disayang, dikagumi, namun pada saat yang sama juga termarjinalkan, utamanya oleh label yang masih terus diperangi.
Ah! Barangkali saya salah. Bukan label itu tuntutan utama perempuan bertempur. Mungkin memang bukan. Lalu, apa?
Karena 'toh yang mengemuka tetaplah retorika, nama-nama perkumpulan berhiaskan identitas gender. Ikatan wanita ini, organisasi perempuan itu, arisan ibu-ibu sini, kumpulan istri-istri sana, gerakan perempuan pemerhati anu, dan sebagainya. Sementara, nyaris tak terdengar soal ikatan laki-laki ini dan itu. Pertempuran laki-laki tidak perlu mengangkat identitas gender.
Hingga saat ini label tersebut tetap manis dan lantang berkumandang. Frasa dan parafrasa yang sama. Label yang diamini dengan senyum empatik oleh semua. Perempuan adalah makhluk emosional (laki-laki makhluk rasional).
Sementara pertempuran terus berlangsung. Tuntutan-tuntutan akan persamaan bersahut-sahutan. Label itu masih kokoh bertahta. Sudut kerling yang rapuh bermain dan menari di tengah-tengah medan perang. Bergelayut sembari menikmati label sebagai makhluk emosional yang butuh empati dan anggukan mahfum.
Itulah kenyataannya. Bukan pada kelompok siapa mewakili yang mana. Itu semua adalah sisi-sisi berbeda dari suatu keutuhan, bukan hanya perempuan, tapi manusia.
Lantas mengapa terus bergema makhluk emosional hanyalah perempuan? Apabila kenyataannya semua makhluk memiliki sisi rasio dan emosi sebagai suatu keutuhan setiap individu?
Mungkinkah karena perempuan lebih sering mengumumkan isi emosinya ketimbang makhluk lain? Saya rasa tidak juga. Buktinya sebagian besar perkelahian, tawuran, debat panjang berapi-api, dilakukan laki-laki. Bukankah hal itu adalah pengumuman isi emosi yang marah, kecewa, selain takut, cemas, sedih, gusar?
Ataukah perempuan dianggap lebih mudah menangis? Ah, itu 'kan juga akibat dari label yang terlanjur dipatrikan, hingga laki-laki harus berupaya menyembunyikan air mata untuk tetap tampil sebagai makhluk rasional (menangis = emosional?).
Artinya, label tersebut memarginalkan semua makhluk hingga terpaksa tampil dengan hanya sebagian dari keutuhan dirinya.
Ya. Barangkali begitu. Untuk sementara, begitu saja dulu introspeksi ini. Saya (perempuan yang dari venus, katanya), pun bisa masuk gua dan kembali berpikir. Menyelami kedalaman batin yang tak pernah kering, namun senantiasa haus.
*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment