by RinnySoegiyoharto
Petang terasa dekat
Menjauh ketika pagi
Tegang meraba pekat
Menabuh cerita hati
Wajah itu mengikuti
Di depan di belakang
Di samping kiri kanan
Tiada bayang-bayang
Sebab ada terasa ada
Tak terlihat sungguh tidak
Tapi ada pasti ada
Gelantung lepas satu lepas
Dua lepas tiga lepas
Sampai seribu pun lepas
Bahkan sejuta bisa lepas
Tapi rasa tetap ada
Merasuk lembut halus
Berjumlah sama tak kurang
Melalui tiap pori
Melewati tiap lubang
Menyusuri jalan tiada balik
Boleh untukmu,
Memang untukmu,
Selalu untukmu,
Ambillah
Karena sudah kuberi
tak kuminta kau bayar
Ambillah
Cuma-cuma
Dia tidak minta kubayar
Di depan di belakang
Di samping kiri kanan
Segala arah ada
Penjuru angin tak cukup
Belum sempat diberi nama
Dia sudah lama berdiri
Lama sebelum kutahu
Lebih lama tanpa kutahu
Bersinar tak silaukan
Berkata lembut
Menatap damai
Mengecup dalam
Bukan gairah akar
Tidak seperti kita
Tapi karena kita, kita
Dia,
Dia
Kita, kita
Dan kita tak jadi
Dia,
Tak akan,
Dia jadikan kita
Karena kita, kita
Dia,
Dia
Cuma karena cinta
Dia cinta terlalu amat
Keriput bergaris-garis
Berkerut di sudut-sudut
Telah diciduk habis keluar
Hingga tak sanggup lagi
Terkuras
Semua sudah basah
Lalu kering lagi
Tak cukup tak pernah
Keperihanku karena kamu
Terlalu kecil,
Kecil sungguh kecil
Dia perih karena aku
Dia perih karena kamu
Perih karena kita, kita
Dia tak teriak seperti kita
Kita, kita
Dia,
Dia
Karena kita
Rasa kita ada
Mungkin kamu hilang
Aku tidak
Dia selalu, tak kurang
Bahkan tambah, dan makin
Sejadi-jadinya kumenangis
Sejauh-jauhnya jatuhku simpuh
Sebab tak tahan aku
Dia terlalu perih
Dan terlalu cinta
Dia, kamu, aku,
Kita, kita
Dia,
Dia
12-08-2011 :: 02:00am
»
best regards,
Rinny Soegiyoharto
«
No comments:
Post a Comment