Friday, October 14, 2011

#117 - Berpeluh Dengan Rasa, Senantiasa Sediakala

by @RinnyLaPrincesa

Peluhku menggumpal di setiap lipatan, mengiringi aneka rasa di sudut-sudut sukma. Meski peluh itu tetap asin, seperti yang kerap kau laporkan. Aku tak suka mencicipinya sendiri, kecuali milikmu.

Kau tahu? Aku berpeluh dingin bukan karena penat ataupun sakit. Saat usapan-usapan menyeka lembut, dinginnya menyublim. Lihat parasku, adakah penat atau letih? Pasti kau harus menggeleng.

Peluhku kali ini, bercampur racun-racun yang telanjur berizin menari dalam kalbuku. Terlambat aku membatalkan izin itu, sebab aku sangat perempuan (bah! Aku tak suka frase itu). Pengkarakteran yang tidak sensitif, membunuh kesadaran gender sebelum terbangun.

Mereka suka bermain-main dengan ide yang salah tempat. Mereka pikir itu sudah paling benar. Padahal mereka juga sama berpeluh, hanya saja yang dihasilkan dari perasan-perasan sisa.
Kasihan sungguh!
Sampai kapanpun mereka tak kan sadar, jika indera rasa tak diizinkan mewujud dalam laku. Sayang sungguh!
Malang sungguh!

Aku bangga pada peluh rasa yang kumiliki. Kau juga sama. Karena kita sama-sama mengizinkan rasa memilih peluh yang terbagikan di antara kita. Berpeluh kita sungguh. Berjerih dalam rasa dan menjaganya senantiasa sediakala. Walau adakalanya kita menyerah pada izin yang tak kita sadari. Tapi... Itulah rasa. Kita sepakat, bukan?

Peluhku bergumpal-gumpal dan tetap asin, senantiasa sediakala.

•••
best regards,
Rinny Soegiyoharto
•••

No comments:

Post a Comment