Mengamati fotoku itu. Berusaha memotret saat bercermin, sambil melirik. Bahkan bercermin pun tetap ada upaya memanis-maniskan penampakan. Ha ha ha ha ha... Dasar menungso...!
Hari ini, setelah sekian kali dia datang, aku memutuskan untuk menulis di sini. Jika keputusanku ini keliru, setidaknya aku punya kesempatan belajar. Andai pun benar, aku tetap punya kesempatan belajar untuk meningkatkannya, serta lebih melihat lagi jauh ke dalam.
Dia datang lagi, untuk ke sekian kali, yang membuatku hafal dengan gejala dan rasa yang harus kuhadapi.
Sepanjang tahun ini, bahkan sejak dia mulai hadir akhir tahun lalu, aku berusaha menahan, tentu menolak juga. Menafikan, dengan upaya menghibur diri, bahwa dia hanya mampir satu kali saja.
Tapi ternyata dia rajin. Aku dilatih menerima semua rasa dan pergolakan. Juga distimulasi hingga akhirnya aku pun rajin mencari berbagai sumber informasi tentangnya.
Bagaimanapun, segala upayaku tak kan mampu memprediksi. Toh, setiap dia datang, aku harus pasrah pada tubuhku. Merebah dan menahan rasa, sampai-sampai aku tidak bisa menilainya sakit atau tidak, enak atau tidak.
Hal yang kucatat, dia membawa serta kepenatan yang luar biasa, kraam, kaku, pegal, kebas, mual, pening, eneg, dan.....darah.
Terhuyung-huyung tiap kali merah segar itu membanjir bagaikan kraan kamar mandi. Seluruh perlengkapan harus segera dibersihkan, supaya aku tak terus mual dan terhuyung.
Seringnya dia datang, mengajariku coping dengannya. Merebah dan pasrah pada matras tidurku, sambil menulis di jejaring sosial, menulis di kotak-kotak blackberry, atau memejamkan mata dan tersenyum.
Terimakasih Oom Gusti. Aku masih mampu menahannya, pasti karena kekuatan dariMU. Aku sungguh bersyukur, karena ada hidup yang begitu berharga, bahkan banyak kehidupan yang bisa kupelajari. Hingga 'ku dipenuhi warna indah pelangi, anugerah kasih setiaMU.
Keputusanku menulis di sini, semata-mata karena aku suka menulis perasaanku yang lebay tak tertahan.
He he he he he....
by Rinny Soegiyoharto @RinnyLaPrincesa
No comments:
Post a Comment