by Rinny Soegiyoharto
Tadi malam ibuku tampak sangat cantik. Sehat dan kuat, tidak menyanggah tongkat kaki empat sebagaimana terakhir aku melihatnya, tiga setengah tahun lampau.
Ekspresinya anggun dan bagaikan seorang ratu, tetapi dingin menatapku.
"Ayo, kita berangkat sebentar lagi. Jangan sampai ketinggalan pesawat." ujarnya datar. Tanpa senyum.
"Sudah beli tiket, Mam? Naik apa?" Tanyaku.
"Ada tiga tiket, kita berangkat bertiga. Pesawat apa saja tidak akan pernah mau menunggu," kata ibuku, masih tanpa senyum. Namun wajahnya cerah, anggun, berwibawa, bercahaya, tegas, juga lembut.
Aku harus melangkah dulu. Ada lorong-lorong yang belum kumasuki, aku harus ke sana.
Pada sebuah ujung lorong, kulihat kekasihku. Ia tidak melihat aku, karena ada seseorang bersamanya. Seseorang yang kukenal.
Berpacu dengan waktu dan hari yang hampir gelap, bergegas aku ke pelataran, tempat ibuku menunggu.
"Pesawatnya sudah datang?" Tanyaku tersengal-sengal.
Tiada jawaban. Hanya tatapan haru dan iba, penuh kasih-sayang, penerimaan dan penyertaan, tanpa menyentuhku.
Perasaanku dipenuhi kehangatan, kemudian dialiri rasa dingin yang membekukan seluruh tulang hingga kaku. Aku hanya menatap ke ruangan tak berhingga.
Aku terjaga. Mimpiku tadi malam terekam di sini.
Thank you, Lord.
No comments:
Post a Comment