#213 - Meniup Angin
(a poem; mine)
Arah angin datang dari segenap penjuru,
Menuju ke berbagai penjuru,
Manusia, terkadang hanyut menikmati tari-tarian angin,
Tak peduli arahnya, kita terlalu sibuk menata gaya,
Aku menyesal segera setelah keluar dari lantai dansa,
Tapi godaan sepoi-sepoi itu memang magnet berbisa,
Ia membius menembus saraf,
Tanda bahaya tak lagi jelas, tak dikehendaki, hanya samar-samar..
--sela--
Berlari di selasar panjang menyaksikan tari-tarian di tepi-tepinya,
Aku telah dibiarkan karena aku berbeda,
Berbeda dari yang banyak di sekelilingku,
Tegur dan tulus seolah-olah menari bersama angin, lalu lenyap,
Apakah aku merindukannya?
Jika pilihanku harus mengikuti keseragaman tarian tanpa musik,
Maka rinduku biar saja terpendam,
Mungkin meniup angin bagimu adalah kesia-siaan,
Tapi mabuk dalam tari-tarian angin penjuru melukai musik semesta..
Dan aku memilih meniup angin,
daripada musik semesta menjadi letusan meriam..
By Rinny
#RSP
Thanks to eNHa for the lovely romantic sunset picture.
#RinnySoegiyoharto [NNC®]
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
No comments:
Post a Comment