Tuesday, June 2, 2020

#245 - Maukah Hujan Menjadi Telinga Bagi Hati?

Maukah Hujan Menjadi Telinga Bagi Hati? 
#apoem 

Hujan terlalu singkat untuk menghapus gerah dan kering, 
Tak sampai airnya menitik di pelupuk bersama derai yang tak terbendung, 
Ia mengikuti desau angin yang berputar-putar menyesatkan, 
Serupa gerombolan lebah mengekor sang ratu yang belum hendak pulang... 

Tak kan kuambil peneduh di sepanjang jalanku, 
Bisakah hujan mengirim curahnya agar tenteram benakku? 
Bisakah ia mengolah rasa yang kuharap menjadi cermin bagi rasaku? 
Agar tak memerah padam rahangku menahan malu yang terlalu marah... 

Andai pena dan tinta tak luntur di lembar-lembar buku, 
Dan hujan cerdas menangkap kalimat-kalimat berkias di siang terik, 
Ada harapan dalam kesunyian yang tampak seperti lorong panjang, 
Karena pelita yang berpendar kan memberi hangat di dinding-dinding beku. 

#12052020_rs

#244 - Duh Gusti: Doa Sang Kelana

Duh Gusti: Doa Sang Kelana
#putiba 
#PuisiTigaBait 

Duh Gusti, 
Berjuta sapa melantun di ruang ruang doa yang tak berbatas, 
Sebagaimana timur merekahkan surya dan barat menelannya, 
Sebagaimana kemarau merekahkan bumi dan penghujan menyapunya, 
Demikian pula langkah langkah maju mematri jejak kembara, 
Yang bertahan susah payah agar tak tertelan pun tak tersapu. 
Berat, sungguh berat, penuh pinta penuh onak, penuh gelegar memekakkan. 

Duh Gusti, 
Nyuwun kawelasan, kendati amal dan dosa 
berkelindan dalam asam deoksiribonukleat, 
Turun temurun menyusuri garis darah yang tak pernah diminta. 

Duh Gusti, 
Panjenengan mboten sare? 
Lha teng pundi sakmenika? 

#12052020_rs  

#243 - Menghitung Dalam Waswas (Puisi)

Menghitung Dalam Waswas  
#putiba #rs #28052020 

Tak tik tuk jumlah helaan, hembusan, 
Setiap hari, setiap waktu, setiap saatnya, 
Tak tik tuk pastikan helaan, hembusan, 
Setiap hari, setiap waktu, setiap saatnya, 

Mengatup, sunyi 
Mengerut, sepi 
Meringis, lara 
Menangis, asa 

Berat sungguh pikulan di pundakmu, 
Kau kulum dalam tawa yang terluka, 
Terkoyak sekujur kulitmu, darah memercik, 
Namun tetap kau bungkus erat demi gading,
Bahkan dijunjung pun ia 'kan tergeletak, 
Kemana hati insan di barisan garis darah? 
Apakah asam deoksiribonukleat bermutasi sendirinya?

*Menghitung Dalam Waswas* 
#putiba #rs #28052020 

Catatan: Puisi ini ditulis dalam rasa yang ada, apa adanya. 

#242 - Fenomena Awan Caping

Awan Caping (Fenomena)

Fenomena alam adalah pertanda. Seperti halnya mendung yang bergelayut, pertanda akan hujan. 
Kemungkinan manusia bisa flu jika kehujanan, sudah lazim terjadi. 
Kemungkinan manusia diliputi emosi 'mellow', melankolik, cemas, sedih, sendu, pada saat mendung dan hujan turun, sudah sering diabadikan dalam puisi, lagu, prosa, lukisan, dan sebagainya. 

Kehidupan manusia sangat terhubung dengan alam semesta. Sebagaimana manusia adalah mikrokosmik, jagad cilik, dan alam semesta adalah makrokosmik, jagad ageng. 

Apakah pertanda yang disampaikan oleh munculnya awan caping (lenticular) di sekian banyak puncak gunung akhir-akhir ini? Apa menurutmu? 
Datangnya pagebluk telah diramalkan beberapa bulan sebelumnya berdasarkan tanda-tanda alam. 
Alam semesta sedang menata kembali dirinya, manusia dan kehidupannya adalah bagian dari proses itu. 

Sebagai jagad kecil, maka manusia kudu bersih-bersih juga, menata ulang jagad jiwanya. Menghilangkan angkara murka dengan welas asih.
Falsafah Jawa mengajarkan agar manusia hidup seperti irama gamelan... 
NENG.. NING.. NUNG.. NANG........ GOONGGGG........... 
(Silakan cari sendiri makna falsafah ini di berbagai kanal). 
.
.
.
.
.
Betapa pentingnya meningkatkan terus Kesadaran Spiritual (referensi dari akun SuryaKks)
Cinta kasih adalah kunci (kesimpulan saya).