Bahasa Indonesianya 'guruh', kan? Makanya ada kata bentukan 'gemuruh' dari kata dasar 'guruh' tadi itu, yang mendapat sisipan '-em'. Arti sederhananya, banyak guruh, sehingga terdengar mengg(-el)egar, bahkan mencekam apabila bunyi guruh yang riuh itu tidak jua berhenti. Kini disertai hujan, setelah tadi guruh bersahut-sahutan dari kejauhan, lalu makin mendekat.
Pada dasarnya saya tidak takut pada suara guruh atau 'geludug'. Sejak masih anak-anak pun saya tidak pernah punya pengalaman menangis, atau ketakutan lalu mencari perlindungan, juga tidak pernah bersembunyi di balik bantal dan selimut. Setiap kali mendengar bunyi guruh, saya akan menunggu. Itu selalu, terjadi sejak saya mengenal kata guruh, guntur, geludug, geledeg, petir, kilat, mungkin baru 3 tahun umur saya (hampir 40 tahun yang lalu).
Saya menunggu bunyi guruh berikutnya. Saya menghitung bunyi itu (yang kemudian saya bandingkan dengan jumlah hitungan sebelumnya, padahal bisa saja saya sudah lupa berapa bunyi guruh yang terhitung waktu itu). Tak lama hujan akan turun, apabila bunyi guruh sudah lebih dari 7 kali (demikian kesimpulan saya ketika masih anak-anak dulu). Saya senang jika guruh berbunyi, tandanya petir tidak akan datang. Jika petir menyambar sebelum guruh berbunyi, maka saya serta-merta membunyikan suara dengan mulut dan bibir saya. Caranya, mulut dimonyongkan, lalu menyedot (menghisap dengan mulut terkatup dan monyong) dengan kuat, maka akan terdengar bunyi seperti mengecup yang panjang. Ini resep dari para leluhur saya, diturunkan kepada ibu saya, tak disadarinya saya pelajari dari mengamati. Dulu alm Oma saya bilang, bunyi mulut kita itu bisa didengar oleh guntur (guruh). Dengan bergemanya suara guruh, maka petir akan berhenti menyambar. Sekarang saya senyum-senyum mengingat cerita ini. Anehnya, saya masih mempraktikkan teknik mulut monyong menyedot mengecup itu. He he he...
Saat ini saya sedang menunggu sampai waktu untuk mandi dan bersiap-siap tiba. Saya ingin berjaga-jaga saja sekarang, karena sebentar lagi saat matahari masih bersembunyi, belum cukup tua untuk mengintip di ufuk, saya harus sudah berkumpul. Saya deg-degan. Bukan karena hendak menyanyi dengan not-not yang tinggi. Saya bergetar, karena saya merasa seolah-olah masuk ke dalam putaran waktu, kembali ke abad pertama. Ketika batu itu terguling, kubur itu kosong.
Saat ini, guruh terhitung lebih dari 10 kali. Air hujan mengikuti jejak guruh, membasahi ranting-ranting dan dedaunan, rumput, atap, halaman, jalan, menyapu debu yang tadi begitu hebat mengepul dari berbagai sumbernya. Air hujan ini terasa sangat sejuk, namun saya tetap deg-degan, hati saya bergetar, tubuh saya gemetar. Guruh yang bergemuruh beberapa waktu berselang, membayangi sebuah citra, menghadirkan suasana saat gelap menyelimuti bumi, tabir Bait Allah terbelah dua. Guruh itu adalah suaraNYA, hati saya bergetar hebat mendengar suara itu, sekaligus tenteram.
Apalah saya tanpa kematian dan kebangkitanMU?
Saya tidak memuja agamaku, sama sekali tidak. Saya hanya memuja ENGKAU, ya Allah, ya Anak, ya Rohul Kudus.
No comments:
Post a Comment