Sunday, May 31, 2009

Perempuan Berbisik 37: CINTA TAK PERNAH USAI

Saya pernah menulis judul topik seperti ini di sebuah media cetak, sekitar 4 tahun berselang. Menulis ulang topik yang sama bukan tipe saya, alias “ngga gue bangets deh...”, oleh sebab itu saya hanya meminjam judulnya saja. Isinya sih beda.

Kenapa? Sederhana. Topik CINTA dan variannya masih tetap favorit. Ditulis untuk tujuan penyegaran, dan tujuan sampingnya mengingatkan, bahwa CINTA itu anugerah. Menghindari cinta sama saja dengan mencetak setebal-tebalnya cinta di dasar kesadaran. Sebaliknya, mengagung-agungkan (dengan pemahaman & pengalaman subyektif), bahkan menjual cinta, tak beda juga dengan mencetak miring huruf kapital dengan warna terang.

CINTA, bisa halal bisa haram. Sama halnya barang-barang lain yang digunakan manusia. Tunggu. Kalau benar cinta itu anugerah, kenapa bisa halal (baca: baik, manfaat) dan sekaligus haram (baca: buruk, dosa)??? Bukankah anugerah itu baik? Jawaban saya sederhana (lagi), sebab cinta bermanifestasi. Hhmmm... ngga sederhana juga ternyata. Ya, justru karena tampak sederhana mengemasi kompleksitas cinta yang sesungguh-sungguhnya, maka CINTA TAK PERNAH USAI.

Berteori tentang cinta, tidak sama dengan mempraktikkan cinta, namun juga kedua-duanya tetap sejalan. Teori dibangun dari pengalaman praktik cinta, pengalaman praktik (tak sengaja) merujuk teori-teori yang sudah ada, baik tertulis maupun terdengar saja. Indikasinya gampang ditangkap, yakni konflik-konflik pengalaman manusia pelaku cinta.

Teorinya Robert J Sternberg tentang The Triangle of Love salah satu yang bisa digunakan sebagai rumus. Intimacy, Passion dan Commitment, disebut-sebut sebagai komponen-komponen si CINTA yang menentukan bentuk hubungan cinta yang terjadi. Contoh, cinta orangtua-anak, pasti ada ketiga-tiganya, namun komponen intimacy jauh lebih dominan, baru diikuti commitment dan terakhir passion.

Contoh lain, cinta passionate (di dalam hetero ataupun homo), jelas-jelas dikuasai komponen passion, gairah (boleh disebut nafsu ngga ya?) yang meletup-letup. Adakah commitment di dalam hubungan itu? Sedikit sekali kadarnya. Contoh lain, coba deh cari. Pertanyaannya: Samakah cinta dengan ketertarikan?
Dalam teori ini, disebut ketertarikan adalah bagian dari cinta. Atas ketertarikan orang berjalan-jalan di medan cinta, tarik-ulur antar ketiga komponen pun terjadi.

Companionate Love, bentuk cinta yang didominasi komponen commitment. Lihatlah kakek dan nenek yang telah menjalin komitmen puluhan tahun (baca: menikah kali yeee), itulah CINTA yang companion. Mau??? Pilih aja sendiri dengan anugerah ”independent will” yang dimiliki setiap kita. Cinta tak pernah usai boookkk...

RS @ own blog http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment