Tahun-tahun belakangan ini EMOSI menjadi bahan yang paling sering diutak-atik banyak orang. Mengalir bersama sentakan awal yang dilakukan Bapak Goleman, dengan terlebih dahulu menengarai kecerdasan intelektual hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan hidup manusia.
Sekadar berpikir, apakah kesuksesan itu memang benar-benar tujuan manusia hidup? Bahasan mengenai SUKSES sendiri berkembang dan dikembangkan banyak pihak, yang diselaraskan dengan kebutuhan audience. Artinya MAKNA sukses beragam bentuknya, bukan? Tampaknya penyetelan EMOSI pun kemudian disandingkan satu rel dengan MAKNA sukses yang dianut pribadi per pribadi, ataupun kelompok per kelompok.
Berpikir lagi, ditambah pengamatan demi pengamatan, penyetelan emosi tetap saja dilakukan dalam ranah KOGNITIF. Mengandalkan pemahaman manusia secara kognitif tentang EMOSI itu sendiri, yang bolak-balik tetap menuntut kemampuan intelektual orang untuk menangkap, memahami, menerima, mengelola dan “merasakan” proses kerja sang EMOSI.
Lalu ada pula yang melakukan “perbaikan” terhadap emosi negatif, seperti marah, kesal, kecewa, sedih dan sebagainya, menjadi bentuk emosi yang “disebut” lebih positif. Ada penjelasannya, bahwa misalnya, marah itu emosi negatif, namun “pertunjukkannya” perlu dikelola agar tidak terlihat negatif. Artinya, yang dikelola itu ‘kan perilakunya, bukan bentuk emosinya. Lha, orang marah sebenarnya positif di sisi lain, menunjukkan reaksi berpikirnya terhadap stimulus yang dihadapi. Situasi ini dijawab lagi dengan mengubah cara memberi makna pada stimulus supaya reaksi emosi marah bisa lebih terkelola hingga tidak menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan sosial.
Nah, bolak-balik yang disetel area KOGNITIF ‘kan? Lha processor nya semua di tempat yang sama, OTAK manusia. Bicara otak, ada pula yang kemudian membagi-bagi kapling kerja otak, sehingga sistem limbik yang memuat amigdala adalah pusat pengendali EMOSI. Jika secara medis ditemukan seperti itu yang nantinya bermanfaat dalam diagnosis dan pemberian treatment, baiklah. Tapi yang belum ditemukan masih banyak sekali. Eh... maksud saya yang belum dikelompokkan dan diberi nama. Saya pikir-pikir upaya mencerdaskan itu tidak ada, yang ada adalah mengoptimalkan fungsi.
Klik! Selamat datang di area yang tak terbatas (UNLIMITED AREA). Kekuatan SPIRITUAL (tanpa sekat) memiliki peran terbesar, seharusnya. Ini menurut saya.
RS @ own blog http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment