Wednesday, November 25, 2009

Perempuan Berbisik 51: MENANGIS *

*
Adakalanya saya lupa untuk menangis, meski sekadar membasuh mata dari jutaan partikel yang tak pernah dapat dihambat. Tidak hanya lupa, namun nyaris tanpa ide, tanpa inisiatif. Menangis? Haruskah saya?

Saat sempat mundur bertahap-tahap pada garis waktu, sesuatu menarik saya begitu kuat. Rekaman yang belum juga pupus tertelan teknologi lapisan zaman. Suatu waktu ketika saya sangat takut pada air mata. Bukan itu saja, melainkan juga muak & mual pada tangisan. Haruskah saya menangis hanya karena deraan?

Deraan tak semata sakit, tidak melulu derita. Deraan adalah juga haru saat perasaan tak tertentukan tak terbahasakan. Deraan adalah juga resonansi rasa melalui peristiwa yang dialami sesama. Deraan adalah juga sukacita yang terekspresikan.

Namun ketika itu saya tak mampu, tak boleh, tak terampuni, tak ada tangis. Menangis adalah kamu, bukan saya. Menangis tak memiliki tempat dalam kamus saya, bahkan tak selintas-pikir meminjam kamus lain. Menangis adalah petaka, akhir dari akhir.

Maka menangis pun menjadi silabus khusus. Ketika hati saya tertawa melihat air mata, sadarlah saya bahwa modul itu harus saya ambil. Tidak ada yang menjualnya, tidak ada sekolah atau lembaga pendidikan yang membuka registrasi. Terpaksa saya harus membuatnya.

Saya telah lama lulus dari sana, mengantongi air mata yang sudah dapat merebak. Meski mungkin nilai saya tak sebaik sahabat-sahabat semua. Saya punya cetak tebal tentang menangis; bahwa ia bukan barang salah, bukan barang cacat, bukan hal yang berjenis kelamin. Ia bebas jender, ia bukan milik kaum lemah, bukan juga kaum kuat.

Menangis, sebuah kegiatan yang tepat pada saat yang tepat. Ia dapat menjadi ekspresi dan pelepasan. Ia mampu membasuh mata, membasuh hati, membasuh jiwa. Menangis, suatu ketika mengangkat spirit ke atas dan naik.

Menangislah, dengan lutut bertelut, tubuh bersimpuh, hati menengadah & kepala menangkup. Menangislah dalam seruan pasrah, jiwa berserah. Menangislah dalam sujudmu menghadap Sang Khalik Sang Maha Kasih. Menangislah karena saya, kamu, kita, milikNYA.***

RS@ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment