Wednesday, February 10, 2010

Perempuan Berbisik 57: "Siapa Saya?"

***
by Rinny
***

Alih-alih bertanya "ke dalam" dan menemukan inti dirinya pada kedalamannya, manusia lebih senang "membuktikan" siapa ia, menurut pencitraan orang lain.
Hal inilah yang mendorong orang membutuhkan "pengakuan" terus-menerus sepanjang hidupnya.

Apa yang terjadi ketika "recognising" itu berhenti? Atau tak kunjung diperoleh? Atau bahkan pandangan orang lain bukannya mengakui "hal-hal yang dibutuhkan agar diakui orang" pada seseorang. Sebaliknya mendapatkan bantahan, pengakuan terbalik (= tidak diakui), atau yang berbentuk pasif: tidak diapa-apakan alias diacuh-tak-acuh-kan (dicuekin gitu deh)?
Istilahnya: emang enak dicuekin? :-)

Merenungi diri lebih dalam dan makin ke dalam, adakalanya menimbulkan kegelisahan yang dipicu dan memicu (sebagai suatu lingkaran) berbagai perasaan. Campur aduk antara senang, bangga, sedih, kesal, marah, tak berharga, tak berdaya, bersemangat, dan rupa-rupa yang lain.

Apabila waktu berhenti untuk diri kita, dengan berkecamuknya berbagai perasaan, pikiran dan intensi, tahukah kita sesungguhnya siapa diri kita ini? Ya, siapa saya? Ada nama dan identitas. Ada pekerjaan, profesi, jabatan, rencana-rencana. Ada lingkungan sosial, mulai yang terkecil, yakni keluarga, hingga yang terbesar yang mampu kita jangkau.

Tapi, siapakah saya sesungguhnya?
Dalam pelatihan-pelatihan pengembangan pribadi, seringkali bagian "who am I?" dijadikan modul "ice breaker". Kita diminta membuat "list" mengenai diri kita dalam dua kelompok, yakni kelebihan-kelebihan (strenght) dan kelemahan-kelemahan (weakness). Berdasarkan list ini lah kemudian secara mandiri kita diajak menganalisis diri dengan suatu teknik a la SWOT (strenght-weakness-opportunities-threat). Cukupkah cara ini untuk "mengenal" diri sendiri dengan sungguh-sungguh?

Beberapa orang kemudian melanjutkan proses tersebut (agar lebih banyak mengisi list-nya) dengan teknik "Jendela Jo-Harry". Memanfaatkan masukan pihak lain tentang dirinya yang tidak diketahui oleh diri sendiri. Lalu "seolah-olah" berpasrah pada jendela ke-empat yang merupakan "jendela buta", dengan melepaskan tanggung jawab sebab hal itu "kehendak Illahi", jadi bukan tanggung jawab manusia.

Tunggu! Jika saya menuliskan upaya-upaya pengenalan diri di atas kemudian mempertanyakannya, bukan berarti saya menganggapnya salah, bukan juga menilai kurang baik.
Sebaliknya, saya menghargai usaha itu, suatu pekerjaan luar biasa yang dilakukan oleh anda dan saya, juga sebagai hal yang sangat baik dalam rangka memaknai hidup & mengisi kehidupan.

Kemudian, selanjutnya, berikutnya, setelah itu sudahkah kita menjadi jauh lebih mengenal diri kita? Siapa saya?
Saya pikir saat itu, ya.
Setelah itu? Mungkin masih "ya", dengan syarat, proses penggalian itu tidak berhenti dilakukan. Kenapa? Karena tuntutan kehidupankah, sehingga kita terpaksa harus terus mengikuti perubahan demi pengakuan atas diri kita di dalam lingkaran kelompok, dari waktu ke waktu?
Jika tidak melakukan penggalianlah, maka tuntutan terhadap diri sendiri untuk memperoleh pengakuan terus-menerus itu menjadi "seolah-olah" itu diri kita yang sesungguhnya.

Hidup itu pilihan. Hidup juga obligasi. Tanpa meletakkan tanggung jawab sebagai aspek utama, sulit untuk mengarunginya. Tanpa mengenal diri dengan terus bertanya: siapa saya? Dengan penuh tanggung jawab untuk mengisi jawabannya, kita tidak punya pegangan, selain pengakuan orang lain terhadap keberadaan diri kita di dunia.

Jadi, penting untuk terus bertanya "siapa saya" agar kita diingatkan oleh diri sendiri bahwa siapapun saya, jadi apapun saya, orang bilang apapun saya, sekalipun orang tidak melihat diri saya, orang tidak mengenal saya dengan baik, saya tetaplah sebuah surat yang perlu terus diisi untuk menyampaikan kabar cinta bagi siapapun. Sebuah surat tidak perlu dinilai, tidak perlu diakui, tidak juga perlu diberi hadiah. Sebuah surat adalah penyampai pesan, dan oleh sebab itu pesan yang disampaikan semadyanya untuk memperbaiki, untuk menjadi sumber referensi, yang ditulis dengan tanggung jawab tertinggi.

Bacalah surat kehidupanku, itulah saya. Dengan tinta emas terbaik yang diberikan Sang Khalik kepadaku, kutulis surat hidupku, seluruh pikiran, perasaan, jiwa dan spiritku. Siapakah saya? Inilah saya.

*RS* @ http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment