*** *** ***
"Dengarkan dan mengertilah..."
Dalam banyak kasus perkosaan/pemerkosaan, yang korbannya 90% perempuan, masih jarang dibahas soal bagaimana orang-orang di sekitar memahami "perasaan terdalam" sang korban.
Bahkan orang terdekat sekalipun, seperti ibu atau saudara perempuan korban, tak mampu melakukannya, kecuali mereka pernah mengalaminya. Lebih-lebih ayah, ataupun saudara laki-laki korban, selain membalas dengan kekerasan yang tak ada hubungannya. Apalagi orang-orang di luar lingkaran keluarga.
Memahami perasaan terdalam korban perkosaan & kekerasan seksual, yang mengkristal dalam wujud traumatik beserta gejala & simptom-simptom yang dialaminya, memang bukan hal mudah.
Misalnya saja, ketika setelah sekian belas bahkan puluhan tahun kemudian, perasaan aman korban masih sering "terganggu" dengan munculnya kecemasan yang tinggi, ketakutan berlebihan, perasaan sedih yang kalut, kemarahan yang tak terbendung, yang semua itu mendorongnya berperilaku tidak adekuat. Seperti: memusuhi lingkungan, menyakiti diri sendiri, berkurung diri berjam-jam, tak mampu berkomunikasi secara interaktif, dan sebagainya.
Munculnya hal-hal semacam itu tentu saja tidak serta-merta tanpa alasan. Kemungkinan besar ada stimulus yang menjadi "precipitating event", misalkan saja bertemu dengan sosok yang berciri-ciri fisik atau berperilaku atau bersikap atau bermotivasi mirip dengan pelaku. Kendati motivasi sosok tersebut bukan untuk melakukan tindak kekerasaan, melainkan motivasi lain untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk bantuan, yang teridentifikasi oleh korban sebagai situasi yang mirip dengan motivasi pelaku beberapa waktu dahulu.
Dapat dipahami bahwa betapa sulit pihak keluarga dan lingkungan korban memahami alur pikiran serta kecamuk perasaan korban, yang mendorong munculnya perilaku "inadequate" yang ditampilkannya. Bahkan peristiwa itu pun mungkin sudah hilang dari memori orang-orang di seputar kehidupan korban.
Akan tetapi, TIDAK bagi korban sendiri.
Sedikit sekali, atau bahkan mungkin hampir tidak ada korban perkosaan atau usaha pemerkosaan yang dapat menghapus begitu saja ingatan-ingatan buruk yang telah menoreh luka di jiwanya tersebut. Ingatan-ingatan bawah sadarnya tetap memiliki tempat serupa "built-in microchip programing" yang sewaktu-waktu aktif.
Dikatakan bahwa:
"Victims of rape can be severely traumatized by the assault and may have difficulty functioning as well as they had been used to prior to the assault, with disruption of concentration, sleeping patterns and eating habits, for example. They may feel jumpy or be on edge. After being raped it is common for the victim to experience Acute Stress Disorder, including symptoms similar to those of posttraumatic stress disorder, such as intense, sometimes unpredictable, emotions, and they may find it hard to deal with their memories of the event." [Wikipedia].
Simptom-simptom penyerta dalam "Acute Stress Disorder" antara lain terdiri atas:
• depersonalisasi atau disosiasi (perasaan mengambang, tidak tahan menghadapi realitas diri & lingkungannya, seperti sedang bermimpi atau merasa dunia ini aneh/tidak nyata)
• Sulit mengingat bagian penting dari kekerasan yang dialaminya
• Sering dihantui peristiwa kekerasan tersebut, melalui pikiran, ingatan-ingatan, ataupun teror mimpi-mimpi buruk
• Menjauhi segala sesuatu terkait peristiwa tersebut, seperti tempat, pikiran-pikiran, perasaan-perasaan yang mengingatkan, dan sebagainya
• Cemas terus-menerus, sulit tidur, sulit konsentrasi, dan sebagainya
• Menjauhi kehidupan sosial atau tempat-tempat atau situasi yang dapat menghubungkannya dengan peristiwa perkosaan itu.
Kondisi-kondisi tersebut di atas sesuai dengan kriteria diagnosis PTSD (posttraumatic stress disorder).
Secara umum, perkosaan & kekerasan seksual merupakan hal yang paling banyak sebagai penyebab PTSD pada perempuan.
PTSD akibat perkosaan & kekerasan seksual tidak hanya dialami korban dalam hitungan bulan, namun dapat terjadi hampir di sepanjang sisa hidupnya.
Lalu, bagaimana peran therapist dan para ahli terhadap kasus-kasus seperti ini yang kerap terjadi dan menimpa banyak perempuan di dunia?
Sudah pasti sesuai dengan keahlian yang dimiliki, therapist berperan memulihkan kondisi psikis korban, dengan melakukan treatment terhadap PTSD yang dialaminya. Hanya saja, seberapa mendalam therapist mampu berempati terhadap luka yang terprogram pada microchip di bawah sadar korban, tergantung dari kesediaan dan kemampuan therapist melakukannya. Hal ini tak lepas juga dari pengalaman hidup therapist itu sendiri, serta tingginya jam terbang dalam melakukan intervensi terhadap korban-korban perkosaan beserta simptom-simptom yang mereka alami.
Sesungguhnya, yang paling mampu memahami luka korban perkosaan secara mendalam serta penuh pengertian adalah korban sendiri dan sesama korban. Oleh sebab itu betapa baik dan pentingnya apabila korban perkosaan bersedia menjadi therapist bagi korban-korban lain.
Dapat dibayangkan, situasi terapi kelompok yang dipandu oleh therapist yang pernah menjadi korban, merupakan suasana yang menjanjikan bagi para korban untuk sungguh-sungguh merasa dipahami orang lain. Semangat menggiatkan kehidupan mentalnya dengan mengkreasi program microchip baru demi pemulihan yang kian progresif, pasti lebih mampu tercipta dalam kelompok tersebut.
Sayangnya, sebagian besar perempuan korban perkosaan dan kekerasan seksual memilih menutup rapat kisah "tak terampuninya" tersebut dari publik. Kenapa? Karena bahkan lingkungan keluarga pun, sebagai orang-orang terdekatnya, tak mampu memahami aroma perasaan terdalam yang disebarkan luka jiwa di alam bawah sadar korban.
Hanya ada satu cara bagi keluarga dan orang-orang terdekat korban untuk memberikan bantuan maksimal terhadap yang dikasihinya. Yakni:
"dengarkanlah... pahamilah..."
Jangan pernah menyalahkan sikap & perilakunya yang didorong oleh kecemasan & ketakutan berlebihan yang datang tiba-tiba... Percayalah, ia ingin mengendalikan dirinya, namun ia butuh bantuan berupa kesediaan memahami tanpa syarat...
"Ungkapan EMPATI,
untuk orang-orang terkasih,
untuk semua perempuan korban perkosaan & kekerasan seksual,
untuk teman-teman para ahli & therapist..."
by Rinny for her own-blog: http://perempuan-berbisik.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment