by @RinnyLaPrincesa
Saat bongkah mungil dalam genggamannya membuyarkan pantulan palma dan perdu di wajah bening telaga itu, ia mengerjap. Perasaannya yang bervibrasi panjang tak kuasa menahan jemari dan hasta melepaskan energinya.
Satu fase yang melekat di memorinya, ia perlu sedikit berpikir agar tak menghela udara banyak ke dalam toraks. Maka perlahan hembusan ringan namun panjang, mengalun bersenandung melewati rongga sempit antara toraks dan indera olfaktori. Bulu-bulu halus di seputar gua hidungnya terasa bergetar. Ia mampu merasakannya, makin kuat dan makin bermakna.
Tak percuma teknik pernafasan itu sempat ditekuninya beberapa sesi. Sangat menolong ketika tiada hati tersedia menyerap dalam rasa, tiada cara lain yang ampuh sekejab menyirnakan sesaknya.
Perempuan itu tersenyum bersamaan butir-butir bening mengalir menemui permukaan telaga. Ia bergeser lebih dekat, kendati bebatuan tak lagi tersedia untuk meletakkan pantatnya. Ia membungkuk di atas telaga, hingga butiran air matanya bergabung di dalamnya.
Bak Narcissus menatap pantulan wajah sendiri di muka bening telaga yang telah menelan butir-butir airmatanya. Tapi ia tak bertanya pada sang telaga. Bibirnya tetap komat-kamit mengucap mantera hapalan mati. Mantera yang tak pernah menyihir kinestetik benda-benda. Mantera yang mengulum doa pada Sang Rahman. Permohonannya selalu terkabul. Selalu sebagian. Dan itu menyayat perih hatinya.
Perempuan itu menatap belahan pinang di pantulan telaga yang mulai samar-samar. Sebab senja tidak jingga kali ini. Selaput kabut menuruni lembah lebih cepat, hingga tenggelamnya surya tak sempat memoles cakrawala dengan jingganya.
Lekas-lekas ia beranjak, mengibaskan ujung gaun dari lumut bebatuan, sebelum memeriksa celana dalamnya yang basah. Belahan pinangnya telah mengantar gairah tak tertahan. Menorehkan rindu makin memuncak.
Besok aku kemari lagi, ujarnya sendu.
•••
best regards,
Rinny Soegiyoharto
•••
No comments:
Post a Comment