by @RinnyLaPrincesa
Belum jauh langkahnya ringan berayun, membayangkan telaga rindang yang menyimpan belahan pinangnya. Harapan angan dan impian yang bisa dipanggil, memekarkan kuncup hati, dan berdenyut-denyut.
Tapi bola panas itu menyikut keras. Ia terhuyung, berpegangan ranting pinus patah, tak ada guna. Tubuhnya berputar-putar melebihi gasing pesohor, terantuk batu, dahan patah, puing kakus tua, rongsokan pedati. Terpental berkali-kali sebelum akhirnya tumbang dalam lobang jamban yang sudah lama kering. Tapi tetap menguarkan bau busuk.
Ia tak dapat meratap dengan mulut nganga, sebab rasa busuk sisa jamban sontak menyerbu celah-celah bibir. Teriak pun hanya menyumbat kerongkongan yang kian perih. Sisa-sisa air tegukan terakhir mengering bersama sang bola panas yang masih saja menghantam-hantam. Sedangkan lobang jamban kering sudah terlalu panas dan bau. Hanya telaga itu satu-satunya harapan, yang samar-samar menyampaikan bau lumut segar dan cairan tubuh hangat. Bayangan itu sejenak melegakan. Sejenak.
Dalam pejam, ia mulai menghitung dunia pada bola panas. Bola dunia warna-warni dengan tarikan mulut, ekspresi mata dan lekukan hidung dalam hologram emoticon. Tidak ada yang sama. Tapi semua menampilkan geligi pada sela-sela dua garis bibir. Memuakkan.
Ia tetap bertahan menghitung. Satu, dua, tiga, ....
Sembilanbelas dunia mengitarinya. Mereka pecahan bola panas.
Dengan sisa-sisa energi ia coba kembali menghitung. Tetap sama, semua sembilanbelas. Ada sembilanbelas dunia mengacungkan lusinan bedil, golok, tombak, dan alat perkosa.
Selesai menghitung untuk terakhir kalinya, ia sadar, yang hilang cuma tiga, dan itu melebihi besarnya sembilanbelas dunia.
Tiga itu tidak hilang, hanya tertutup bayang-bayang sembilanbelas dunia yang penuh kekerasan, kemunafikan, hawa nafsu.
Dan tiga itu tetap terbesar, terkuat, terhangat. Tiga itu sangat lembut.
Ia terlelap damai berselimut hologram tiga kasih lembut di balik bayang-bayang sembilanbelas dunia.
•••
best regards,
Rinny Soegiyoharto
•••
No comments:
Post a Comment