@RinnyLaPrincesa
Mula-mula aku mencoba hayati makna dan rasanya, hingga ke penjuru jiwa yang paling jauh. Lalu kumulai merasa nyaman dengan nama itu. Seperti ketika lafalmu yang asing namun intim meyakinkanku seribu persen. Meski telah kupakai nama lain, dan yang lainnya lagi, nama ini memberiku kenyamanan berhiaskan bangga dan hormat (tentu kepadamu).
Ceriteramu tentang berbagai kisah yang belum pernah kudengar, mengaduk-aduk kerinduan dan kehausanku. Tak terganggu kita saat akhir waktu tiba, dan kita tetap tepekur pada kisah masing-masing. Kau dengan kesukaanmu dan bahasamu, aku dengan kuriusitasku, hausku, sukaku dan rasaku. Bahasaku tidak begitu penting, karena dengan rasa aku mengisap kisahmu pada bahasamu.
Kini aku semakin gila. Saat rindu tak terobati akibat dunia jauh lebih berkuasa, kucuri sisa-sisa dan celah-celah. Ah! Tepatnya, kukreasi dengan sengaja, kuletakkan dunia sejenak di samping mesin berlayar yang kedipannya seringkali berhasil membuatku muntah.
Hhhoooeeekkkhhh!!!
Semakin gila, setiap kali kubenamkan jiwa pada tumpukan goresan ide dan budaya. Kutemukan nirwana penuh madu dan anggur nikmat. Yang hausku tak kan pernah terpuaskan.
Biarkan mereka bilang aku gila, karena memilih surga yang tidak sama dengan surga mereka. Terperangah mereka sejadi-jadinya, karena kesunyian dalam tumpukan goresan ide adalah nirwanaku, daripada yang mereka sebut ibadah agung dan surga dunia.
Nirwanaku... Kehadirannya bisa kuundang sewaktu-waktu. Mesin pencari ciptaan dewa dunia pun sangat dipercayai, lalu kenapa energi maha tinggi melebihi segala dewa malah diabaikan?
Biarlah yang bertelinga mendengar, yang memiliki mata melihat, yang memiliki hati merasa, yang memiliki jiwa melawat. Energi itu sekarang ada, sudah pernah ada, akan selalu ada.
•••
best regards,
Rinny Soegiyoharto
•••
No comments:
Post a Comment