by @RinnyLaPrincesa
Empat tahun usia Zigma ketika mama melihatnya jatuh terantuk mainan lego yang bertebaran. Zigma menangis kencang.
Mama: oh sayang, cup cup cup... Legonya nakal ya... *memukul sebuah lego yang tergumpal tak beraturan.*
Tangis Zigma reda.
Zigma sudah delapanbelas tahun. Mengomel berang pada mama.
Zigma: sudah kubilang, Ma! Laptopku tidak boleh dipindahkan, tapi Mama biarkan pembantu memindahkan.
Mama: kenapa kamu selalu menyalahkan Mama dan orang lain? Tidak menjaga barang-barangmu sesuai keinginanmu, nak?
Zigma tigapuluh dua tahun, dalam rapat evaluasi program tahunan di kantor.
Zigma: kegagalan penyerapan dana program ini karena Anda kurang 'fight' melobi rekanan kita! *menuding salah satu anggota tim*
Dalam kamar yang temaram, Mama bergumam pada diri sendiri:
Zigma selalu menyalahkan orang lain atas berbagai masalah dan ketidak-nyamanan perasaannya. Apakah tindakanku melindunginya dengan memukul lego dan barang-barang lain pada saat ia menangis, adalah penyebabnya?
Komen: sayang sekali, tampaknya benar yang Mama pikirkan. Hati-hati ya, Ma, barang-barang itu tidak salah. Tapi ruang bawah sadar Zigma telanjur diisi dengan pemahaman bahwa semua kesalahan terjadi karena pihak lain. Dirinya selalu benar, harus dan untuk selalu nyaman.
No comments:
Post a Comment