by @RinnyLaPrincesa
Lambda bukan sahabat Zigma, meski bertetangga.
Bokap dan Nyokapnya sangat sibuk; urusan kerja, bisnis, sosialita, friends gathering, dan rupa-rupa yang lain. Tiada waktu sedikit pun berbincang dan memeluk Lambda yang hadir atas perkawinan mereka.
Tapi sempat berpesan selalu:
"Nak, kami sayang padamu. Semua uang yang kami cari adalah buat kamu. Jadilah anak hebat!"
Sembilan tahun usianya ketika Lambda jatuh cinta pada guru IPS, sebab di dalam kelas ia seolah-olah murid emas yang sangat diperhatikan sang guru.
Coretan pertama kata-kata cinta di buku cetak IPS Lambda:
"Aku suka guruku ini, karena dia pasti cinta padaku. Dia sangat perhatian padaku".
Saat guru IPS membagi hasil ulangan, ponten Zigma unggul darinya. Lambda berang.
Coretan kata-kata kecewa di halaman akhir buku IPS Lambda:
"Aku benci guruku ini. Sangat menyakitkan! Ternyata dia tidak perhatian padaku! Putus!"
Lambda yang baru tujuhbelas tahun, telah tujuh kali memutuskan hubungan cintanya.
Alasan klise: pacarku kurang perhatian, hatiku tidak nyaman.
Lalu ia memuaskan diri dengan barang-barang branded, nongkrong di resto kelas atas, ataupun modifikasi mobil dengan berbagai aksesori tak penting.
Hidup Lambda penuh gejolak hubungan asmara yang bahkan ia sendiri pun tidak memahami makna 'cinta' sesungguhnya.
Ia tidak pernah merasakan cinta dalam bentuk perhatian, pelukan, belaian lembut, kata-kata penyejuk, menerima, memaafkan, memberi pujian, dan sebagainya.
Lambda hanya tahu, cinta adalah materi yang tidak bisa bernafas, tidak punya perasaan, tidak punya keinginan, tidak ada nilainya jika sudah lewat masa eforia. Hingga kapan saja boleh dilepaskan, dibuang, disia-siakan, jika tidak lagi membuatnya puas.
Bokap dan nyokap masih super sibuk. Mereka pikir, 'toh Lambda sudah dewasa sekarang. Terserah dia saja.
Okeee deeehhh...
No comments:
Post a Comment