by Rinny Soegiyoharto
@RinnyLaPrincesa
Peran Ibu adalah istimewa. Predikat Ibu relatif tetap. Fungsi dan tanggung jawab Ibu selalu dinantikan. Kedekatan emosi Ibu dan anak (anak-anak) tidak dapat ditampik. Kerinduan anak (anak-anak) pada Ibu senantiasa membuncah, bahkan hingga anak sudah jadi orangtua (dan menjadi Ibu juga).
Pertanyaannya:
Apakah Ibu yang aktif harus selalu dekat dan lekat dengan anak-anaknya setiap saat?
Apakah Ibu harus selalu menggandeng dan menggendong anak-anaknya setiap kali ia pergi? Setiap kali ia menghadiri pertemuan?
Bagaimana tanggung jawab Ibu dalam peran sosialnya, terutama yang memiliki tanggung jawab kepemimpinan, apabila anak (anak-anak) terus dan harus "menempel" secara fisik dengannya?
Efektifkah keputusan yang dibuat seorang Ibu bagi organisasi dan kepentingan banyak orang, pada saat yang sama ia harus menggendong dan menyeboki anaknya?
Persoalan perempuan?
Bukan! Menurut saya ini adalah persoalan perempuan dan laki-laki. Persoalan rumah tangga dan pembagian peran, tugas dan tanggung jawab.
Karena anak (anak-anak) ada karena ibu dan ayahnya. Bukan ibu saja. Bukan ayah saja.
Apalagi kata Kahlil Gibran:
Anakmu bukanlah anakmu... (Apa ya kelanjutannya? :-))
Ada pendapat atau komentar?
No comments:
Post a Comment