Saturday, November 8, 2008

Perempuan Bicara

Kupersembahkan untuk ibunda tercinta yang telah damai di tempat Allah Sang Maha Kasih sejak 22 Juli 2008. I love you Mom...
Artikel ini telah dipublikasikan oleh Harian Umum "Suara Pembaruan" Minggu, 23 April 2006, dalam rubrik Psikologi, setelah melalui proses pengeditan Redaksi. Artikel pembuka blog-ku ini adalah tulisan asli sebelum diedit, dibuat pada tanggal 17 April 2006. Kuluncurkan sebagai posting pertama blog "perempuan bernama rinny", blog ketigaku setelah dua yang lain. Selamat menikmati... terimakasih atas kunjungan Anda semua...
Perempuan Dan Jiwanya
Rinny Soegiyoharto

Saya ingin menyebutkan beberapa nama perempuan. Lalu bertutur tentang mereka, kendati sebagian besar di antaranya tak pernah saya kenal dari dekat. Mulai dengan Dani, seorang perempuan berjabatan tinggi pada sebuah perusahaan telekomunikasi di negeri ini. Saya tak mengenalnya secara antarpribadi, bisa jadi karena -sekali lagi- ia adalah seorang vice president di perusahaan telekomunikasi yang besar ternama. Tapi saya merasa akrab dan seolah-olah begitu dekat dengan pribadi perempuan itu. Dipastikan bukan dari portofolio ataupun biografi ’Bu Dani. Kedekatan yang menghangat terasa justru saat saya mulai menyimak sajak demi sajak yang ditulisnya dan makin tenggelam di relung kedalaman jiwa sang penulis. Antologi puisi perempuan androgini (berperan ganda, karir dan menjadi ibu) itu telah menguakkan rahasia jiwa dan kedalaman batinnya.

Jiwa Perempuan yang Khas
Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono menelaah untaian puisi-puisi tersebut, mengungkapkan bahwa rangkaian kata-kata Dani membawa emosi pembaca ke suasana melankolik. Barangkali buah torehan Dani didiagnosis sebagai proyeksi kepribadiannya, yakni seorang yang bertipe melankolik. Bukan, hal ini jangan lantas dipahami sebagai dua kepribadian berbeda. Ketika berperan sebagai perempuan karir sambil menduduki jabatan penting, ia tampil bak sang kolerik perkasa. Sebaliknya saat mengekspresikan bahasa jiwa lewat puisi-puisinya maka ia menjadi melankolik. Sekali lagi, bukan begitu. (Saya sarankan anda membaca referensi lain untuk memahami tipologi kepribadian manusia). Menurut saya, Dani sungguh-sungguh perempuan dengan jiwanya yang khas.

Mumpung sedang membahas perempuan, izinkan saya mendaftarkan nama Osin -yang ini memang bukan Oshin di telenovela Jepang itu. Ia kurang mengenal perjuangan emansipasi bagi perempuan dan hanya tahu sebatas sejarah dan peristiwa. Karena ia tidak berdiam di tanah Jawa pada masa mudanya. Jangan dibalik, saya tidak mengatakan perempuan yang berjuang untuk emansipasi hanya ada di Jawa (meski mungkin saja memang begitu adanya). Yang saya maksud, emansipasi lebih ’ngetren’ di pulau Jawa (bagian tengah) ketimbang pulau-pulau lain. Osin ini berasal dari Minahasa, yang meski titik berat pelaksanaan hak-hak masih berpihak pada laki-laki (juga), perempuan tidak pernah diletakkan sebagai ”teman di belakang”nya laki-laki. Perempuan-perempuan Minahasa bahkan cenderung ’ge-er’ menempatkan dirinya senantiasa sebagai ”teman di samping”, mitra sejajar, seiring-sejalan dengan laki-laki membangun kampung, menyukseskan mapalus (gotong-royong).

Namun tetap ada barier yang menghadang perempuan, adakalanya berwujud rambu-rambu kaku. Pada masa Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta), saat banyak tentara Jawa beredar di seantero Minahasa, berdengung petitah dari para tetua untuk gadis-gadis di sana. ”Jangan sampai dinikahi mereka, sebab kebanyakan sudah punya istri.” Perempuan Minahasa yang dinikahi tentu akan jadi istri ke sekian. Dari cerita Osin, memang tidak banyak gadis Minahasa di kampungnya menikah dengan pemuda Jawa. Ke’ge-er’an mereka untuk selalu menjadi ”teman di samping” laki-laki, membuat mereka ketakutan dijadikan istri ke sekian yang nantinya menjadi ”teman di belakang”. Terkecuali Osin. Ia sungguh-sungguh perempuan dengan ciri khas jiwanya. Ia menikahi pemuda Jawa tanpa kehadiran calon mertua dalam proses pernikahan itu. Sekian tahun setelah menikah barulah ia berjumpa dengan mertuanya di Jawa. Baru setelah 20 tahun menikah, kedua pasang besan berjumpa dan berakrab-ria dalam uniknya komunikasi dan bahasa yang saling dipaham-pahamkan. Osin adalah ibu saya, jadi ceritanya saya yakini sungguh-sungguh benar.

Ada seorang perempuan lain bernama Mistin. Ia tengah mengandung tujuh bulan ketika saya mendengar berita tentang dia baru-baru ini. Sedikit sekali informasi yang saya peroleh, sebab dia tidak menulis dan bercerita apa-apa. Hanya sepenggal kata-katanya yang masih terus terngiang dalam benak saya. Mistin yang asli Malang, Jawa Timur, didakwa melakukan tindak kekerasan terhadap suaminya, Dadang. Ia menyiram wajah sang suami dan sebagian tubuh bagian atas dengan minyak panas, hingga saluran napas Dadang tersumbat, seluruh kulitnya melepuh.

Diungkapkan dalam Emosi
Usia kandungan Mistin tujuh bulan, mestinya ia sangat membutuhkan kehadiran suami menantikan saat-saat kelahiran. Tapi mengapa justru “mengirim” suaminya ke rumah sakit, bahkan nyaris menghilangkan nyawa bapak dari anaknya itu. Kata-kata Mistin lugas menjawab pertanyaan apakah dirinya menyesal telah mencelakakan suami sendiri. “Saya tidak menyesal sama sekali,” ujarnya dalam emosi datar dan ekspresi yang sulit ditebak. Mistin yakin betul bahwa tindakannya disertai motivasi kuat dan benar, meski cara yang dipilih tergolong kekerasan.

Dalam kutipan tak langsung, diberitakan betapa Mistin seringkali mengalami tindak kekerasan dari sang suami. Kandungan Mistin yang jelas-jelas berisi buah cinta mereka berdua sempat ditendang berkali-kali oleh suaminya itu, hingga ia mengalami perdarahan hebat. Ekspresi Mistin seolah tidak mencerminkan suasana emosi tertentu itu bahkan terkesan dingin dan ‘tega’. Bercampur pula dengan kegetiran dan ketakutan. Ia bukannya takut suaminya mati, yang ditakutinya adalah pembalasan yang bakal ia terima saat suaminya pulih nanti. Pantulan jiwa Mistin pada segala tindak-tanduknya khas milik perempuan.

Semasa hidupnya Kartini juga demikian. Ia yang lahir pada 21 April 1879, merupakan putri Raden Mas Ario Sosrodiningrat, asisten wedana Mayong, Jepara, tentu saja tergolong priyayi. Sayangnya, Kartini tidak menikmati fasilitas kewedanaan yang dimiliki ayahnya, karena ia anak seorang selir. Saya tak mungkin berceloteh soal perempuan tanpa memasukkan nama Kartini dalam daftar, bukan?

Keberanian dan Cinta
Sampai pada Kartini, ada benang merah yang merajut nama-nama perempuan dalam daftar saya ini. Dalam surat-suratnya kepada mevrouw de Booij Boissevain, Kartini meletupkan kepedihan hati atas pembedaan fasilitas antara ibunya beserta anak-anak, dan yang diperoleh istri utama ayahnya. Demikian pula yang terungkap dalam banyak surat-surat Kartini, menyiratkan kegigihan menyelimuti ketak-terimaan nasib dan perlakuan terhadap kaumnya.

Semangat Kartini memperjuangkan emansipasi bagi nasib perempuan sudah barang tentu dilatari perangkat budaya dan lingkungan kehidupannya. Ia lahir dan dibesarkan dalam adat-istiadat Jawa priyayi yang feodal. Meski secara kognitif ayahnya dan lingkungan priyayi Jawa bergaul dengan budaya Barat yang dibawa kerabat Belanda mereka, semua itu tidak cukup kuat mengubah paradigma yang menyentuh intensi perilaku menempatkan perempuan di luar lingkaran yang telah berlangsung berabad-abad.

Di sinilah benang merah itu. Kartini memiliki keberanian yang tinggi mengungkapkan gejolak jiwanya ke dalam surat-surat yang terkirim, sehingga orang lain dapat membaca dan turut merasakan (berempati) apa yang tengah dialaminya. Itulah jiwa perempuan, berbagi pikiran dan perasaan merupakan kerinduan jiwanya. Dengan berani perempuan mengungkapkan letupan jiwanya dalam berbagai cara.

Dani rela berbagi episode hidupnya dengan orang lain dalam sajak-sajak yang dipublikasikan. Juga dilakukan dengan berani dan dalam dorongan kebutuhan untuk berbagi pengalaman jiwa. Osin berani menerobos petitah dan memenangi tantangannya sendiri. Menikahi pemuda Jawa tidak beda dengan pemuda-pemuda lainnya. Halnya Mistin, andai saja ia tidak punya keberanian lebih untuk memutuskan derita kekerasan yang dilakukan suaminya selama ini, mungkin orang lain tak ‘kan pernah tahu.

Mereka semua perempuan yang punya keberanian mengungkapkan kebutuhan jiwanya untuk berbagi dan didengar. Namun tak semata itu, keberanian perempuan justru didorong oleh cinta dan kelembutan yang terpelihara alami di dalam jiwanya. Coba nikmati ungkapan-ungkapan jiwa perempuan, pasti ciri khasnya akan terasa.

Penulis adalah Psikolog

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***