Saturday, February 7, 2009

Perempuan Bicara 12: Family Violence

Tak sengaja saat membedah beberapa folder, ada artikel yang sudah saya tulis, namun belum sempat diedit, sehingga tidak ditindaklanjuti. Sayang jika menghuni folder saja, jadi lebih baik saya tempelkan saja di sini.
Ternyata saya tulis 3 tahun silam, pada tanggal 23 Januari 2006, hingga beberapa konteks sudah agak basi... It's fine lah... daripada basi di folder.
Ini dia... semoga bisa menjadi inspirasi untuk apapun...

Family Violence: Pahamkah si Anak Telah Jadi Korban?

Rinny Soegiyoharto

Pada usia yang masih sangat muda, anak-anak itu belum paham telah menjadi korban kekerasan di dalam lingkungan keluarganya sendiri. Kondisi yang dapat mereka ungkapkan sebatas “sakit” dan “takut”. Sakit atas penganiayaan fisik; takut pada pelakunya yang dalam hal ini orangtua atau anggota keluarganya sendiri. Juga takut pada pengulangan rasa sakit yang sudah pernah diderita.

Family violence atau kekerasan dalam keluarga, khususnya terhadap anak-anak, seyogyanya tak sekadar pembicaraan semusim. Ramai, kemudian reda. Masalah ini bukan semata item yang populer atau tidak. Frekuensi kasus kekerasan terhadap anak sekitar era akhir 70-an hingga awal 80-an, dari suatu penelitian di Amerika Serikat (AS), tercatat meningkat 123 persen dalam kurun waktu enam tahun. Dengan catatan banyak kasus yang belum terdeteksi. Itu di negara maju dan dengan budaya masyarakat yang jauh lebih terbuka daripada di sini.

Bagaimana dengan Indonesia? Catatan terkini Komisi Nasional Perlindungan Anak memperlihatkan angka kasus kekerasan terhadap anak meningkat hampir dua kali lipat pada 2005 dibandingkan tahun sebelumnya. Jika banyak pihak berpendapat kasus kekerasan terhadap anak-anak saat ini terus meningkat, sebenarnya menggembirakan. Artinya telah banyak kasus kekerasan domestik yang terkuak, muncul ke permukaan, sehingga mudah dicatat dan didata. Selanjutnya mendapatkan intervensi sesuai undang-undang.

Namun terpikirkah bahwa sesungguhnya praktik-praktik itu sudah terjadi di masyarakat kita sejak puluhan tahun lalu? Semua itu tidak terungkap hanya karena tertutup rapatnya wilayah privat masing-masing keluarga. Apalagi untuk dicatat dan diintervensi. Anak-anak sebagai korban yang ketika itu merasa (sangat) “sakit” dan (sangat) “takut” menjadi terabaikan. Jika sekarang ada Tia di Sunter yang diseterika bapaknya, Indah Sari dan Lintang, juga Eka Suryana, dan seterusnya, mungkin dahulu tidak hanya Ari Hanggara. Tahun-tahun sebelum dan sesudahnya sangat banyak kasus serupa yang tak terdeteksi.

Anak-anak korban kekerasan dalam keluarga belum mengerti bahwa dirinya adalah korban. Sampai ia berjumpa dengan stimulasi sosial yang lebih dalam, luas dan kompleks. Ketika anak yang sudah mulai tumbuh ini dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pengaruh lingkungan, langsung ataupun tidak, memberi kontribusi terhadap keberhasilan/kegagalan seorang anak melewati setiap tahap dan tugas-tugas perkembangannya (developmental tasks). Jon R Conte (1990) mengatakan, anak-anak akan memahami dirinya sebagai korban ketika kemampuan kognitifnya makin berkembang, seiring perkembangan dan pembentukan sikap, keyakinan dan nilai-nilai hidupnya yang berlangsung di dalam lingkungan kehidupan.

Pengaruh Lingkungan dan Akibat
Pemaknaan dari orang-orang di sekelilingnya terhadap tindak kekerasan yang diterima anak memberikan penguat terhadap rasa “sakit” yang telah ia pendam dalam bentuk ketakutan. Kondisi ini seringkali tidak berlangsung secara eksplisit, namun diserap anak dari perilaku nonverbal dan observasi sosial yang dijumpainya. Misalnya, anak yang mengalami kekerasan sendiri saja, sedangkan saudaranya yang lain tidak. Atau pertanyaan yang diajukan kepadanya, "Kenapa kamu dipukul?” Atau ia menyaksikan anak dari keluarga lain tidak mengalami hal yang sama dengan yang ia alami. Dan beragam situasi lainnya. Adakalanya sikap dan perilaku anak yang tengah tumbuh dan kembang ini terasa berbeda dengan anak-anak lain yang juga tengah tumbuh-kembang bersama-sama dalam kelompok. Perbedaan semakin nyata ketika kelompok atau lingkungan sosial memperjelas detail dengan penolakan, misalnya kurang memberikan kepercayaan padanya seperti kepada yang lain.

Pola interaksi yang dilakukan anak tidak sejalan dengan pola interaksi sosial yang berlaku di lingkungannya. Hal ini memaksa anak mencari sebab-musabab yang tak pernah dimengerti ataupun disadarinya. Hingga pencarian itu menerjang lapisan subconsciousness, menggugah alam bawah sadarnya kemudian hinggap pada rasa “sakit” dan “takut” itu lagi. Mutasi dan kolaborasi sakit yang terasa dan takut yang tak terlihat itu berpotensi melahirkan sejumlah besar probabilitas ketidakstabilan pribadi di kemudian hari.

Katakanlah benar bahwa kekerasan terhadap anak telah terjadi semenjak puluhan tahun lalu dan kini anak-anak itu sudah dewasa. Tampakkah mereka ini dalam kehidupan masyarakat kita sekarang? Apabila para ahli yang cukup banyak membahas masalah ini mengatakan anak yang mengalami kekerasan cenderung akan mengulang pola yang sama setelah ia dewasa, barangkali saat inilah masa memanen. Terbukti kasus kekerasan terhadap anak-anak meningkat.

Tidak itu saja. Karena selain luka-luka fisik yang menimbulkan rasa sakit dan takut ketika kekerasan itu terjadi, individu yang mengalami kekerasan juga memproyeksikan pribadi berkarakter khusus ketika ia dewasa. Ia dapat menjadi seorang pemarah yang agresif, menderita inferiority complex, ragu-ragu dan sulit mengambil keputusan. Bisa juga ia menjadi pemaksa, kesulitan dalam memecahkan masalah, cenderung menyalahkan diri sendiri pada hampir setiap permasalahan, memimpin dengan penuh kekuasaan, mengalami masalah sulit belajar, pendendam dan selalu ingin membalas. Bahkan ada pula yang menjadi seorang psikopat.

Cermin Bentuk-bentuk Kekerasan
Sebagai acuan untuk mengingatkan kembali kepada semua kita, beberapa hal yang dipaparkan dalam jurnal penelitian David J Hansen dan kawan-kawan (1990) dapat dimanfaatkan. Tentunya selain sosialisasi berkesinambungan tentang undang-undang antikekerasan terhadap anak-anak. Acuan untuk mendeteksi apakah kekerasan terhadap anak pernah kita alami atau lakukan atau saksikan?

Kekerasan pada anak meliputi: fisik, seksual dan psikologis. Tindakan yang tergolong kekerasan fisik adalah pemukulan, dengan atau tanpa alat, cubitan, pembakaran dan penyulutan, pencabikan, pencekikan, pengikatan pada anggota tubuh seperti kaki dan tangan,. Juga peracunan, secara berlebihan memberikan rasa panas atau dingin, menyentuh sensor inderawi secara berlebihan seperti suara/teriakan/bentakan, bau busuk, rasa tak enak di lidah, dan melarang anak tidur. Mengabaikan anak juga tergolong penganiayaan fisik, antara lain tidak memperhatikan pertumbuhan fisik anak, kurang memberikan nutrisi yang baik, pengobatan medis kurang memadai, dan tidak mengakomodasi kebutuhan emosi anak.

Kekerasan seksual meliputi segala bentuk kontak seksual baik oral, anal maupun genital, sentuhan fisik pada anggota tubuh seperti alat kelamin, bokong dan payudara, tinggal bersama dengan orang-orang di luar anggota keluarga dan berusia lebih tua selama lebih dari lima tahun.

Kekerasan psikologis berkaitan erat dengan tindakan-tindakan yang dilakukan pada dua bentuk kekerasan lainnya. Secara psikologis pasti terjadi kekerasan apabila anak mengalami kekerasan fisik dan seksual. Hal ini meliputi lima bentuk, yakni menimbulkan rasa tertolak (rejecting), terasing (isolating), terteror (terrorizing), terabaikan (ignoring) dan rusaknya struktur psikis (corrupting). Akibat dari bentuk-bentuk kekerasan psikologis adalah dihasilkannya karakter dan kepribadian yang lemah pada anak-anak korban kekerasan.

Setelah bercermin, tak ada alasan untuk tidak mendukung program pemutusan rantai tindak kekerasan terhadap anak-anak di negeri ini, dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan kita.


Penulis adalah Psikolog

1 comment:

Dewi said...

tulisannya bagus mba, bs dijadiin warning buat saya ni,sebagai bunda hehe...

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***