Tuesday, October 20, 2009

Perempuan Berbisik 48: L-O-V-E

(dari ketinggian tertentu)

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk mencintai seseorang yang telah saya kenal. Pertimbangan saya semata-mata bahwa saya belum pernah memberikan kesempatan pada hati saya untuk mencintainya sebagaimana bentuk-bentuk gambaran tentang cinta yang saya miliki. Dalam hal ini saya tidak peduli apakah ia tahu, atau ia merasakannya, atau bahkan memiliki perasaan cinta yang sama dengan saya. Intinya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Tanpa paksaan tanpa tekanan.

Tiba-tiba seseorang yang lain berkelebat di ruang benak saya. Ia hadir sungguh sekonyong-konyong, membawa sinyal cinta (tanpa sepengetahuannya) dan memaksa hati saya untuk setuju bahwa saya mencintainya. Lalu saya memaksa hati saya lebih keras untuk mengirimkan kabar terbaik kepadanya, yakni bisikan-bisikan cinta tanpa kata. Saya tetap tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, atau bahkan memiliki perasaan cinta melebihi yang ada pada saya. Pokoknya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Dipaksa oleh hati namun rela.

Saat merenung dalam keheningan doa, saya mendapati sebuah hati terbungkus wajah yang saya kenal. Ya, saya mencintainya. Membayangkan dekapan erat tanpa kata yang sempat teralami, melambungkan saya pada kehangatan cinta yang tak kan mungkin menjadi dingin. Saya masih saja tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, bahkan juga mencintai saya dalam kenangan-kenangan terbarui yang tak pupus. Sejatinya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Tanpa bertatap tanpa berpagut.

Sepenggal syair menghentak dalam frekuensi berirama, meleburkan sumbat aliran mikrokosmik yang mengitari tubuh. Sesosok bayangan menyelinap di balik lensa mata yang tak terselami ruang dan waktu. Benar, saya mencintainya. Betapa kuatnya cinta itu bergeletar dan menggemparkan jiwa saya, sampai-sampai saya lupa bernafas dan tersedak. Bibir saya mengucapkan kata-kata cinta penuh emosi, namun lembut dan menyesap. Saya lagi-lagi tidak peduli apakah ia tahu, atau merasakannya, bahkan juga mencintai saya sama dengan cinta saya atau lebih. Sejelasnya, saya hanya ingin mencintainya dan disetujui hati saya. Penuh emosi tapi tetap lembut.

Maka otak sadar saya pun mulai berhitung, menjumlah dan terus menjumlah. Semakin banyak dan bertambah tak henti, tiada ada satu pun berkurang. Saya mencintai semuanya dengan cara yang berbeda. Namun semua itu cinta, hati saya menyetujuinya, batin saya berseru yakin. Tidak satu pun kesalahan ada di sana.

Saya menyerang ungkapan-ungkapan banyak ahli mengenai cinta dan pengukuhan. Saya katakan saat ini di sini, CINTA TIDAK DIKUKUHKAN. Stop mencoba mengukuhkan cinta, karena tak ’kan berjalan dengan baik. Stop mencoba mengukuhkan cinta, percayalah pada saya.
Bahkan dalam perkawinan yang disepakati sebagai lembaga, cinta tidak dikukuhkan di sana. Sebab lembaga mengukuhkan komitmen. Temukan, apakah cinta juga dikukuhkan dalam lembaga itu? Jika ada, bawa kemari.

Bunda Teresa yang agung dalam sinar cintanya, berkata:
”Cinta tidak mempunyai arti jika tidak dibagikan. Cinta harus diwujudkan. Anda harus mencintai tanpa berharap apapun, lakukan segala sesuatu untuk cinta itu sendiri, tidak untuk sesuatu yang mungkin akan anda terima. Jika anda berharap sesuatu sebagai balasan, maka ini bukan cinta, karena cinta sejati adalah mencintai tanpa mengharapkan sesuatu.”

Kutipan singkat dari Sang Bunda penuh cinta menutup tulisan ini,
”Setiap tindakan cinta merupakan doa.”

RS @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

3 comments:

icung said...

cinta platonis ?...

ramadewi said...

menarik..
"cinta sejati adalah mencintai tanpa mengharapkan sesuatu".

sulittttt sekali ya. cinta memang tidak perlu dikukuhkan. Namun tidak berarti usaha mengukuhkan cinta oleh manusia biasa (minus bunda teresa?) juga hal yang jelek.

paralel dengan ini adalah pengungkapan cinta. cinta berusaha dikukuhkan dengan diungkapkan: perhatian, kasih sayang, rasa cemburu, rasa merindu, rasa ingin memiliki (pernikahan, persetubuhan).

Kalau saya, melihat cinta seperti ini juga (mungkin karena super romantis):
Love is poetry. A poem that you wrote for me; As you sat and watched me sleep; To then slowly recite, that poem back to me. Amore.

---dari unknown di facebook ad.

wooohoooo =D

menarik blognya, saya harap terus menulis =)

Anonymous said...

Hello...
Terimakasih atas comments-nya, sangat berharga buat saya... Dan menggugah saya untuk menyetujui juga... Bahwa cinta platonis itu mmg ada, tp yang ini bukan itu... Dan juga bahwa romantic love benar membuai, pengukuhannya pd komitmen, bukan pd seluruh cinta... Saya ingin bilang: I love "romance d'amore" too... (Salam dari "whisper of woman")

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***