Sunday, December 6, 2009

Perempuan Berbisik 52: Demos Cratein

Perempuan Berbisik 52: Demos Cratein

Tepatnya kapan untuk pertama kali saya mendengar tentang kedua kata itu? Pada usia sekolah, di bangku SD, saat mulai belajar kluster Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), lalu berlanjut dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Saya yakin ketika itu saya hanya sebagai pem-beo, peng-hapal (mati), sekadar bisa melewati ulangan-ulangan dan ujian. Tidak lebih. Karena bukankah murid sekolah formal di negeri ini lebih banyak dicekoki hapalan? Lalu tekanan agar "bisa" mendapatkan "nilai" (ponten), bukannya tekanan agar "tahu" dan "paham"?

No matter. Sesungguhnya saya lebih berminat pada cerita-cerita anak di majalah "Koentjoeng", "Bimba" (yang ketika itu masih sebagai selipan di majalah ibu-ibu), dan head-line surat kabar yang tidak saya pahami maknanya. Khusus yang terakhir, adalah upaya saya supaya dapat mengobrol dengan ayah saya, seolah-olah saya mengerti yang sedang dibacanya, padahal saya hanya menyebutkan judul besar-besar yang terpampang. Di sekolah, saya lebih suka mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur, Ilmu Alam (Fisika, bukan Biologi), dan Bahasa Indonesia.

Minat saya yang lain adalah membaca puisi, memanjat pohon, bermain perang-perangan, menjadi komentator sepak-bola untuk teman-teman laki-laki (yang sebenarnya tidak suka saya ikut-ikutan di club bola kaki kampung itu karena saya perempuan), jalan-jalan dan naik sepeda. Saya tidak bermain boneka. Tapi saya bermain dampu, engklek (dende), gundu dan kasti. Saya memiliki beberapa kelompok bermain yang terdiri atas anak perempuan dan laki-laki.

Halah! Lalu apa hubungannya dongeng tentang saya itu dengan "demos" dan "cratein"?

Begini. Meskipun tidak ingat lagi peristiwa di sekolah ketika pertama kali mendapatkan istilah "bagus" itu, namun saya ingat "permainan" yang kami (saya dan teman-teman di kampung) kembangkan terkait isu demos dan cratein ini. Tentu saja tidak hanya saya seorang yang mendapatkan pelajaran tersebut di sekolah. Semua teman-teman saya juga. Namun saya lah yang mula-mula menggunakan istilah tersebut di kelompok bermain kami.

Saya anggap sebagai istilah yang lucu dan aneh, karena berirama sama dengan suatu istilah untuk menyebutkan anak yang jorok (slordeh), yakni: "keremos". Mungkin istilah ini lebih dikenal dan dipergunakan oleh masyarakat yang mukim di wilayah utara dan tengah Sulawesi.

Jadi, ketika saya dan teman-teman berkumpul, lalu di dalam kelompok itu ada anak keremos sebagai bagian atau anggota, maka kami akan menyebutnya "demoscratein". Hahaha... Keterlaluan saya ini.

Apapun kegiatan kami, permainan apapun yang kami lakukan saat itu, selalu saja ada anak (teman) yang "demoscratein". Karena tidak semua anak-anak sudah mampu membenahi dirinya sendiri, bukan? Misalnya memilih pakaian bermain yang bersih, atau membersihkan mulut dan wajah dari sisa makanan, atau membersihkan hidung yang berleleran ingus, ataupun memakai topi dan atribut permainan yang tepat (sesuai kesepakatan hasil musyawarah kelompok saat itu).

Namun, jika diingat-ingat, saya juga heran, betapa anak-anak yang datang berkumpul (di sebuah kebun atau di halaman rumah seseorang), tidak terbersit pikiran untuk mendiskreditkan anak/teman yang demoscratein. Ia atau mereka (tak jarang lebih dari satu yang seperti itu) tetap boleh ikut bermain, mendapatkan peran dalam permainan, meski ia/mereka tetap saja dijuluki demoscratein, namanya sendiri jarang disebut.

Lalu, bagaimanakah respon teman si demoscratein itu? Tentu saja ia atau mereka segera membenahi diri semampunya; cepat-cepat menyeka mulut dan hidung dengan lengan baju, atau pada pertemuan berikut sudah lebih bebenah tampil dengan pakaian yang lumayan bersih. Permainan tetap berlangsung dalam keceriaan anak-anak.

Itulah dukungan kelompok, menurut saya (sekarang). Pada masa itu terjadi di dalam kelompok anak-anak yang belajar berperan sesuai bagiannya. Jelas, tetap ada konformitas. Setiap anak berusaha menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok bermainnya. Namun kelompok selalu bisa menemukan jenis permainan yang melibatkan semua anggota. Peran masing-masing diatur bersama, disepakati dan dilaksanakan, sampai kemudian orangtua sebagian anak mulai memanggil anaknya untuk pulang.

Demos dan Cratein, bahasa Yunani Kuno yang berarti Rakyat dan Pemerintahan. Demikian kalau tidak salah. Demoscratein (demokrasi), berarti pemerintahan yang berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Kalau tidak salah juga.
Lha?!? Demoscratein yang dipergunakan dan dikembangkan secara sembarang dalam kelompok bermain anak-anak di atas itu, kok dalam keutuhan perguliran aktivitasnya, hampir-hampir mirip dengan demokrasi?

Bayangkan. Anak-anak itu berkelompok sebagai suatu kelompok rakyat. Menata peraturan berdasarkan kesepakatan bersama. Toleran dan tetap menerima anggota yang agak "di luar jalur", bahkan mengembangkannya sehingga menjadi lebih baik (dapat membenahi diri). Setiap anggota patuh dan "nrimo". Ketidak-sukaan yang suatu saat muncul di dalam hati (mungkin merasa diberi peran yang kurang pas), dapat ditutupi dengan kegembiraan dan sukacita yang diperoleh dari kelompok tersebut secara utuh. Tujuannya adalah bermain dengan lancar dari awal hingga akhir. Sukacita kelompok adalah juga sukacitaku.

Yang penting senang dan bisa bermain, menerima dan menghayati perannya meski hanya sebagai penunggu bola kasti yang melesat terlalu jauh, misalnya. Patuh pada aturan main, melakukan peran dan bagian masing-masing sebaik-baiknya. Sepakat dan menerima, berbagi dan saling mendukung, bahkan mengembangkan yang masih kurang. Semua adalah pemimpin pada perannya. Bahkan bagi si "demoscratein".

Salam buat "demos" dan "cratein", dalam cinta tanah air pusaka.

*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***