Saturday, August 10, 2013

#202 - DARI KARTU UCAPAN, MAAF DAN LEBARAN

Penulis: Rinny Soegiyoharto

Dulu, kartu-kartu ucapan banyak diburu jelang Hari Raya, atau dikreasi sendiri dengan sentuhan pribadi dan kesan khusus bagi setiap penerimanya.
Termasuk saya, bergairah ketika hari raya hampir tiba, mencari dan menemukan ide-ide untuk kartu ucapan.
Saat usia belum mencapai kematangan intelektual secara penuh (baca: masa kanak-kanak), tulisan dalam kartu-kartu sebagian besar atau seluruhnya masih menyalin isi pesan yang sudah ada. Meniru dari kartu-kartu yang dijual pada umumnya.

Hari raya Idul Fitri memiliki makna tersendiri bagi saya yang ketika itu (puluhan tahun lalu) menetap di Pulau Sulawesi bersama orangtua dan adik-adik. Kami keluarga Kristiani, namun setiap Idul Fitri juga merayakannya dengan cara yang spesial. Tentu saja termasuk menyiapkan kartu-kartu ucapan dan bingkisan hari raya. Aktivitas lainnya adalah mempersiapkan menu hidangan lazimnya Idul Fitri di daerah itu dan berkunjung ke rumah kerabat seharian, sampai perut penuh sesak dengan berbagai hidangan yang disajikan di setiap rumah.

Ucapan salam dan lisan yang paling sering disampaikan dan disambut adalah: Selamat Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faizin.
Jarang sekali ada kata-kata: maaf lahir batin, kecuali yang tertulis di kartu.
Namun 'maaf-maaf-an'nya tampil langsung dalam perilaku. Menyatu sebagai suatu konteks hidup bermasyarakat (Hablu Minannas) dan ejawantah ibadah pengucapan syukur kepada Tuhan (Hablu Minallah) dalam suasana cair sejati kembali ke fitrah (Idul Fitri).
Saling melayani, berbagi cerita, makan bersama, tertawa, gembira, saling membantu, barter makanan dan bingkisan, dan sebagainya, setelah umat Muslim melaksanakan Shalat Ied.
Memberi kesan bahwa semua lebur dalam suasana. Tiada perselisihan, tiada kesumat, tiada ganjalan rasa, pokoknya tiada penghalang dalam bersilaturahmi.

Belakangan baru saya ketahui makna sesungguhnya dari "Minal Aidin wal Faizin", yakni Semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan. Atau selengkapnya ditulis/diucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Taqabbalahu Ya Karim, Minal Aidin wal Faizin. Semoga Allah menerima (ibadah) kita, serta melimpahkan berkah dan kasih sayang.
Aamiin.

Suatu ketika saya menemukan tulisan pada kartu ucapan yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Isi pesan yang sederhana tapi waktu itu asing bagi saya, yakni: Selamat LEBARAN.
Orang Sulawesi (saat itu) tidak pernah menyebut Hari Raya Idul Fitri dengan Lebaran.
Jadi, apa makna LEBARAN terkait dengan Hari Raya Idul Fitri?
Dari berbagai sumber, saya mendapatkan sedikit penjelasan.

Ternyata, konon 'Lebaran' ditelusuri berasal dari kata 'Lubaran' dalam Bahasa Sunda, yang artinya 'bebas' atau 'terbebas'. Setelah berpuasa selama satu bulan penuh (Ramadhan) umat terbebas dari peperangan melawan hawa nafsu, kembali ke fitrah seperti bayi yang baru lahir.
Makna lainnya dari 'Lebaran', berasal dari Bahasa Jawa, yakni kata 'Lebar' dan mendapat akhiran '-an', yang berati 'selesai', atau sudah selesai. Purna sudah rangkaian ibadah di bulan suci, berpuasa lahir dan batin, mengendalikan diri dari berbagai godaan. Berakhirnya masa puasa menandai transformasi lahir batin manusia sehingga kembali fitrah.

Tibalah hari kemenangan, hari yang fitrah, dosa-dosa terhapuskan, salah dan khilaf dimaafkan.
Dalam hal ini, saya mohon dimaafkan apabila yang saya tulis dari atas, khususnya bagian-bagian berkenaan dengan ajaran dan atau akidah, terdapat kekeliruan. Saya menuliskan karena saya sungguh menghormati lebaran, mengagumi proses peperangan yang dijalankan dan kemenangan yang terjadi. Itu sebabnya saya mempelajari dan menghayati makna yang luar biasa ini.
Sebagai umat Kristiani, saya haturkan ucapan tulus dari hati yang paling dalam, dengan cinta, dalam damai sejahtera dan dengan sukacita. Betapa indah kehidupan kita semua di negeri yang ber-bhinneka tunggal ika ini.

Mohon maaf lahir dan batin,
Terimalah juga maaf dari saya,
Minal Aidin wal Faizin,

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 Hijriyah.

Teriring salam dan doa,
Tuhan memberkati kita semua..

-RS-Ponde090813

sincerelly yours,
rinny soegiyoharto

Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***