Saturday, June 28, 2014

#211 - the Election #pilpres

by Rinny
(catatan seorang anak bangsa, anggota masyarakat yang mencintai negerinya)

Saya memang bukan penduduk Ibukota negeri ini, dengan demikian saya tidak tergolong 'voter' pada PILKADA DKI Jakarta, 2012 silam.
Akan tetapi saya mendukung pencalonan seorang putera bangsa yang dengan berani dan yakin, datang melintasi provinsi untuk berlaga sebagai salah satu kandidat orang nomor 1 di Ibukota NKRI ini. Konsekuensinya, saya menaruh banyak harapan terhadap yang bersangkutan, pada mulanya.

Tentu saja saya memiliki alasan mengapa turut mendukung sang kandidat yang akhirnya memenangi pertarungan tersebut.
Antara lain, karena dua tahun sebelumnya saya pernah duduk manis dan berdecak mendengarkan paparan walikota Solo mengenai keberhasilannya menata daerahnya. Hingga ketertiban, kenyamanan dan keindahan kota terwujud cantik, tanpa menimbulkan gerakan-gerakan anarki kelompok masyarakat yang menolak.
Prestasi, menurut saya ketika itu. Dan ternyata memang hanya itu.
Sayang sekali, saya lupa sesuatu, bahwa sang putera bangsa masih memiliki tanggung jawab besar pada sisa masa jabatannya, yang ditinggalkan demi berlaga di Ibukota.
Kemudian saya berpikir, jangan hal itu mempengaruhi kepercayaan dan harapan saya terhadapnya.
Meski bukan penduduk DKI, namun aktivitas saya 90% berlangsung di Ibukota, hanya tempat tinggal saja di daerah perbatasan yang sudah masuk wilayah Jawa Barat. Saya rindu perjalanan beraktivitas yang lebih lancar tanpa terlalu banyak kemacetan. Lebih-lebih ketika musim banjir tiba dan sebagian wilayah Ibukota terendam air hingga tak dapat dilalui, bahkan banyak penduduk yang jadi korban.
Saya juga rindu penertiban dan peningkatan keamanan di Ibukota. Semrawutnya lalu-lintas, tingkat kejahatan yang tinggi, dan sebagainya, banyak disumbang oleh ketidak-teraturan, menurut saya. Maka prestasi sang putera bangsa tersebut di kotanya di Jawa Tengah saya harapkan dapat menjadi sebuah 'milestone' pengodean level kompetensi untuk menjadi dasar prediksi kinerjanya di Ibukota.
Diperkuat janji-janjinya untuk "membereskan" sebagian besar masalah Ibukota dengan segera.
Termasuk janjinya yang kerap disampaikan melalui berbagai media bahwa ia akan bertanggung jawab menyelesaikan masa jabatan 5 tahun dengan hasil yang baik dan menyejahterakan masyarakat.
Bagi saya, janji-janji itu hebat. Berani berkomitmen, tegas menyampaikan kepada masyarakat melalui corong media. Orang-orang tentu berharap, menyambut gembira, mendukung antusias, mencatat janji-janji itu, juga menilai.

Belum setengah tahun, saya sudah sering mengernyit. Mendorong saya berpikir menganalisis. Sampai-sampai benak saya penuh tanda tanya: apa sebenarnya yang dicari sang 'beliau' ini? Apa sebenarnya yang ingin diraihnya? Dengan siapakah ia bekerja? Apakah tindakan-tindakannya sungguh pelayanan?
Konsep saya, pemimpin adalah pelayan. Pemimpin itu melayani, bukan dilayani.
Maka saya tidak paham ketika di layar kaca, sang putera bangsa ini mulai terlihat 'show'. Ia mendatangi wilayah banjir, menumpang kereta yang didorong banyak orang, dilindungi dan dikawal, diliput seluruh media.
Ketika pewawancara menanyakan aksi-aksinya ke depan, ia berbicara manis, namun menyalahkan pihak lain, mendiskreditkan pendahulu-pendahulunya.
Saya perhatikan, ia sangat jarang memberikan jawaban langsung, lebih sering tertawa-tawa bahkan menyunggingkan senyuman yang terkesan 'meremehkan'. Ia menganggap semuanya mudah bagi dia dan dipersulit orang lain. Ia mengatakan yang dilakukannya adalah bentuk perhatian langsung kepada masyarakat, kenyataannya yang dituai adalah popularitas dari peran panggung yang membingungkan (menurut saya).

Saya bandingkan dengan sang wakil yang tanpa memberitakan diri, ia menangani masalah-masalah lapangan dan administrasi. Saya periksa beberapa media sosial, sang wakil justru lebih banyak menceritakan atasannya dan kondisi masyarakat. Sementara sang putera bangsa dari Jawa Tengah malah mendaftar hal-hal heroik diri sendiri.
Janggal.
Kebaikan dan prestasi seseorang dinilai oleh orang lain karena merasakan dampak dari kebaikan tersebut. Bukan oleh dirinya sendiri.

Hal yang paling mengejutkan adalah ketika ia mendeklarasikan diri bersedia menjadi calon presiden dari partainya. Seolah-olah ia tidak menginginkan, tapi atas desakan pimpinan dan jajaran pengurus.
Oh!
Saya tidak percaya.
Bukankah ia belum dua tahun bersumpah-jabatan sebagai kepala daerah, yang disesaki ribuan janji, juga komitmen menyelesaikan masa jabatan?
Saya tidak percaya.
Orang, apalagi pemimpin, apalagi berpendidikan tinggi, tidak mungkin membuat keputusan begitu saja tanpa dirinya sendiri memiliki ambisi pribadi.
Saya tidak percaya.
Ia tidak selugu itu. Ia tidak se 'ndeso' itu. Seorang yang lulus bangku sekolah tinggi, mampu mandiri, pengusaha yang meraup keuntungan dari usahanya, memiliki pengalaman berdagang, memiliki pengalaman memimpin daerah, tidak mungkin se'ndeso' itu.
Penampilan itu citra. Bertujuan menarik simpati dan dukungan dari rasa iba dan 'keluguan' rakyat. Dan citra 'ndeso' itu berhasil.
Ia bertahta di Ibukota karena citra itu. Lalu kemudian, dan akhirnya memenangkan partai pengusung pada pemilihan umum legislatif 2014.

Maafkan saya, Mas-mas-nya...
Saya yakin anda punya banyak kebaikan yang asli. Pakailah itu. Jangan berbalut rombengan tunawisma di luar jubah kekaisaran dan ambisi anda. Itu namanya 'ngenyek', menghina masyarakat.

Maafkan saya, Mas-mas-nya...
Menurut saya, anda justru kurang rendah hati menyikapi berbagai situasi. Turun ke jalan dan ke selokan, itu bisa dilakukan siapa saja. Itu bukan sikap rendah hati.
Jika anda mau mengakui kelebihan dan kemampuan orang lain, itu baru rendah hati. Dan banyak lagi.

Maafkan saya, Mas-mas-nya...
Saya sudah berhenti mendukung anda sejak bulan pertama anda menjadi kepala daerah Ibukota. Saya makin gelisah lagi ketika bertemu anda di suatu tempat penuh pengungsi, dan anda tak sedikit pun melakukan apa-apa. Bahkan permintaan tolong kami tak anda gubris.

Maafkan saya, Mas-mas-nya...
Kita memang satu almamater. Tapi saya tidak mendukung anda pada pemilihan presiden Indonesia 2014.
Saya memilih pilihan saya bukan karena saya tidak mau pilih anda. Tapi saya berpikir dengan logika dan intuisi, pilihan saya dapat diwakili oleh gambar yang saya lekatkan di tulisan ini.

Sekian.

#Catatan
Dari 1600-an teman FB saya, hanya satu atau dua saja yang mendiskreditkan anda, Mas-mas-nya, sebaliknya kampanye hitam menjelek-jelekan pilihan saya itu banyaaaaakkkk sekali. Bahkan saya sendiri ditegur beberapa sahabat karena memilih pilihan saya, bukan anda.

#RinnySoegiyoharto [NNC®]

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***