Tuesday, January 12, 2010

Perempuan Berbisik 55: Dialog

*Antara saya dengan seseorang (alih-alih monolog :-))*

Seseorang: IA
Saya: RS

IA: Saya suka blog kamu.
RS: Terimakasih.
IA: Tapi....
RS: Ya...???
IA: Kamu kurang terbuka di situ.
RS: Kurang Terbuka? Maksudnya?

IA: Kamu tidak memberi-tahukan siapa diri kamu.
RS: Nama saya?
IA: Bukan... Kalau itu, ada...
RS: Jenis Kelamin? Identitas Jender?
IA: Bukan... Itu sudah jelas, bahkan dari tema blog kamu, semua orang bisa menduga dengan tepat...

RS: Ah! Ya! Status? Menikah, Tidak, atau Pernah???
IA: Itu salah satunya, meski tidak begitu penting, tapi kamu harus lebih banyak mengungkapkan status kamu. Apakah kamu tidak ingin orang lain tahu? Apabila kamu single, mestinya kamu lebih terbuka, menjelaskan kriteria pasangan yang kamu inginkan. Ataukah kemu memilih untuk tetap seperti ini? Mestinya kamu juga sampaikan pikiran-pikiran dan renungan kamu tentang hal itu.

RS: Ya, saya memang tidak menyatakannya secara eksplisit, tapi di dalam posting-posting saya ada banyak ungkapan implisit tentang kondisi status saya. Dengan demikian jelas saya tidak menutup-nutupinya. Namun soal penting atau tidak, saya justru menganggapnya tidak begitu penting saat ini, terutama untuk dibahas secara khusus. Karena saya belum memiliki rencana apa-apa, selain mengulang dongeng tentang puteri di pucuk tertinggi menara yang diselamatkan seorang ksatria berkuda, mengusung pedang dan membawa tiara untuk sang puteri.

IA: Hhhmmm, mungkin saya mengerti. Kamu merasa sepi?
RS: Justru hidup saya terlalu ramai. Saya bahkan seringkali merindukan suasana sangat sepi, sebuah oase untuk bersimpuh, mendalami seluruh isi batin, tanpa ada interupsi dari apa dan siapa pun.

IA: Seperti seorang kontemplator?
RS: Saya tidak tahu apa itu. Namun, saya juga berbahagia meski setiap saat hidup saya bukan untuk saya.
IA: Kamu sangat kompleks.
RS: Lebih tepat tanpa "sangat". Dan bukankah semua manusia kompleks adanya?
IA: Ya... (mengangguk-angguk), saya juga, tentu...
RS: Saya rasa begitu.

IA: Hal lain...
RS: Ya...???
IA: Kamu jarang sekali menulis sesuatu yang menggambarkan profesi kamu. Padahal, kamu harusnya lebih banyak menulis hal-hal yang bersifat ilmu. Banyak orang ingin belajar tentang ilmu yang terkait profesimu itu. Kenapa?
RS: Begitukah? Baik, saya ceritakan sedikit. Blog saya adalah tempat saya mencurahkan isi diri saya, bukan hanya pikiran, tetapi juga perasaan dan intensi saya. Blog, adalah salah satu oase saya, meski bukan tempat yang sepi. Saya membangunnya dan mengisi ruang-ruangnya sesuai yang saya mau. Saya menghapus dan merobohkan dinding-dinding pembatas, jika itu menghalangi pandangan saya. Blog saya adalah bagian dari perjalanan hidup saya, bukan bangunan ilmu yang disekat-sekat dan dibatasi, bukan tempat menggelar diri sebagai seseorang dengan profesinya atau apapun itu. Saya menulis tentang buku hidup saya.

IA: Baiklah, saya mengerti.
RS: Terimakasih.
IA: Ada lagi...
RS: Ya...???

IA: Adakalanya, tulisan kamu sangat simbolik, diplomatik, atau apapun istilahnya. Pilihan bahasa kamu sangat berkias, tidak dapat langsung dipahami. Seolah-olah kamu "berlindung" di baliknya.
RS: Saya menyadari hal yang satu itu... Namun saya punya jawabannya... Saya menulis dengan hati saya, meski pikiran saya tetap sebagai penunjuk arah. Saya memilih kata-kata berdasarkan perasaan, jiwa, dan spirit saya, diolah oleh pikiran, namun pengambil keputusan dilakukan bersama-sama oleh semua unsur itu. Saya baru menyadarinya (sadar pada frekuensi betha) ketika semua telah selesai.

IA: Saya punya pertanyaan...
RS: Ya...??? Yang tadi-tadi itu bukan?
IA: Oh, hahahaha... Pertanyaan selanjutnya...
RS: Okay...!
IA: Bisakah kamu menulis apabila secara fisik kamu dipenjarakan?

RS: Aha!!! Penjara yang mana 'nih? Dalam ruangan sejuk ber-AC? Ada TV flat dan perangkat karaoke? Bisa sambil 'facial' dan 'cream-bath'? Tentu saja tidak bisa. Saya akan banyak nonton 'termehek-mehek', 'insert!', 'bukan empat mata', dan lain-lain. Saya juga akan menikmati mani-padi(kur) yang selama ini jarang bisa saya lakukan... Hehehehe...

IA: Hahahahaha...
RS: Kalau dipenjarakan seperti Victor Frankle, mungkin bisa, tapi saya harap sih jangan aaahh... Hehehehe... Kehadiran fisik saya senantiasa dinantikan banyak orang lho... Hahahaha... *ge-er mode on*

IA: Okay deh, pertanyaan lain kapan-kapan saja...
RS: Tidak sekalian?
IA: Emangnya ada diskon?
RS: Bukan cuma diskon. Gratis!
IA: Bungkusin ya, 'take away'...
RS: Pake 'dry ice'???
*tutup warung, habis diborong*

*RS* @ http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***