Saturday, April 16, 2011

Perempuan Berbisik 89: CINTA DAN KEPENTINGAN

*by RinnyS*
*** *** ***
CINTA DAN KEPENTINGAN

Aneh? Saya 'kok getol menyoal CINTA? Tanpa tanya-tanya siapapun, saya memang ingin menyatakan bahwa topik CINTA tak pernah membosankan buat saya. (Eekkkhheeemmm...)

Pergolakan kehidupan sosial manusia yang pada dasarnya makhluk sosial (3/4 waktunya dihabiskan bersama-sama dengan orang lain dalam konteks sosial), mengkondisikan manusia sebagai individu senantiasa dan semestinya memiliki rasa. Kumpulan berbagai rasa atau perasaan, tercitra dan mewujud dalam kehidupan setiap kita, baik secara individual maupun (lebih-lebih lagi) sosial.

Lalu saya lihat, rasa dan perasaan menjadi kian dominan dalam berbagai konteks. Terutama CINTA sebagai suatu kluster perasaan, marak dalam berbagai situasi dan peristiwa. Meski tidak disebutkan eksplisit, namun tampak usaha pelaku peristiwa ingin mencuatkan 'cinta' sebagai dasar lakunya.

Ribet ya kata-kata saya? He he he... Memang agak ribet mengungkapkan maksud dalam kata-kata yang terbatas. (Atau memang vokabulari saya yang terbatas. Halah!)
Supaya (terkesan) asertif, baiklah saya katakan saja sekarang, yang saya maksud 'atas nama cinta' banyak orang melaksanakan berbagai aktivitasnya dengan bertolak pada niat (intensi), tujuan dan coraknya masing-masing.

Oleh sebab itu saya (lagi-lagi) 'ngobrol CINTA saat ini.
Apa sebenarnya CINTA?
Apakah jika saya katakan "aku cinta kamu" itu sudah cukup untuk memperlihatkan saya benar-benar cinta?
Ada banyak teori dan definisi mengenai 'cinta' sesuai cara pandang dan hasil penelitian. Sudah ada beberapa yang pernah saya posting di sini (blog).
Namun sekarang saya sedang malas bicara teori.

Akan tetapi lagi, mestinya memang ada suatu kesepakatan bersama supaya bahasa dan bahasan CINTA kita tidak 'ngelantur. Tapi ternyata saya memang sedang ingin 'ngelantur, sebab saya cinta kamu. Enak betul saya buat pernyataan demikian ya...
Jadi kalau saya 'ngelantur berarti saya cinta? Kalau ada orang bilang "saya pukul kamu karena saya cinta", apakah itu benar dan dapat dibenarkan sebagai wujud cinta?

Ada juga sekelompok orang menyatakan cinta pada keilahian, sehingga atas nama cinta mereka membunuh orang lain yang (dianggap) tidak cinta keilahian. Sebagian (besar) orang juga berucap lantang betapa cintanya pada negeri dan negara, dan pada jelata serta kesejahteraan jelata, lalu berlomba-lomba menduduki kursi kekuasaan demi cinta tersebut.

Cinta juga kerap menjadi kendaraan yang permisif hingga orang-orang memiliki lebih dari satu pasangan romantik dalam episod-episod hidupnya (kawin ataupun tidak, lawan jenis ataupun sejenis). Bukankah cinta yang telah mempertemukan dan menyatukan?
Bahkan, juga karena cinta katanya, ada orang yang membatasi pergaulan pasangannya agar tidak dicintai orang lain. Meski dirinya sendiri tak jauh-jauh dari kesibukan berbagi rasa dan waktunya dengan lebih dari satu pasangan.

Berbagai pelatihan motivasi dan pengembangan diri yang subur saat-saat ini, saya lihat hampir 100% bermain di wilayah rasa dan kluster-kluster perasaan, utamanya mengangkat cinta sebagai nilai (value). Tentu saja tidak ada yang salah. Bahkan baik adanya. Sebab rasa, perasaan dan cinta sebagai bagiannya, pasti ada dalam diri manusia. Barangkali kecuali amigdala dan hipocampus sudah hancur. Begitu pun tidak ada jaminan orang tersebut benar-benar telah kehilangan rasa sama sekali.

"Cintailah semua orang dengan tulus tanpa syarat, maka segala sesuatu akan berjalan indah dan penuh cinta dalam hidup Anda". Demikian kira-kira hantaran banyak fasilitator yang menghela audiens agar selalu punya dan selalu menjaga rasa yang disebut cinta. Pada apapun akan terasa mudah dan lancar, apabila cinta mewujud dari rasa menjadi laku. Termasuk untuk berjualan dan mengumpulkan materi.

Itu sebab saat ini saya 'ngobrolin cinta yang dikaitkan dengan kepentingan. Bahwa apapun terasa bermakna dan segera mencapai tujuan apabila cinta terus penuh terisi.
Salahkah?
Tidak salah. Apabila cinta itu benar-benar tanpa syarat, memang demikian mestinya cinta itu.
Adakah cinta yang seperti itu?

Kalau cinta berkaitan dengan kepentingan, maka syarat-syarat terbangun di dalamnya. Maka mestinya hakikat cinta tidak lagi berakar pada yang luhur dan yang sejatinya cinta.

Teman saya bilang: ketika kita cinta pada sesama atau sesuatu "meskipun" ia begini dan begitu, itulah cinta sejati.
Maka, apabila cinta itu bertujuan, atau disebabkan oleh, atau demi untuk, dan sebagainya, yang bermuara pada kepentingan, tampaknya perlu kita pertanyakan ke dalam diri masing-masing. Ada atau tiada kah keluhuran cinta sejati di sana?

"Ajarilah kami bahasa CINTA-MU..."

___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***