Sunday, May 29, 2011

VoaF#96 - EMPATI

*by RinnyS*
*** *** ***

Makin banyak saja kelas-kelas pelatihan, seminar motivasi, bahkan dalam pemakaian sehari-hari, 'empati' sering disebut-sebut. Seruan untuk berlaku empati satu sama lain juga santer di kuping akyuuu (di banyak tempat yang kusinggahi. Halah!)

Akan tetapi, jika dan hanya jika, darimana demikian sehingga daripada (he he he... Bahasa Indonesia-ku masuk jurang lebay deh. Maaf!), apakah empati semudah mengucapkan kata 'empati'?
Ternyata ngga ya...

Emangnya 'empati' itu apa dan bagaimana toh?
Hiiiii... Definisi ilmiah berbasis studi literatur, penelitian dan eksperimen tuuuhh banyaaaakkkss (saking banyaknya). Ada yang bilang 'empati' itu kapasitas berpikir dan merasa(kan). Ada juga yang membaginya dalam 2 (dua) kategori: kognitif dan afektif (laaahh...sama juga ya, mikir dan ngerasain). Masih banyak lagi siiihhh. Tapi semua ujung-ujungnya terjadi di perilaku orang waktu berhubungan dengan orang lain. Gitu deh...

Bahasa Inggrisnya bilang "empathy". Orang German menulisnya "einfühlungsvermögen" (ngga ngerti bacanya gimana, "̮♡hϱ♡hϱ♡hϱ♡"̮). Mungkin boso Jowo-ne "melu ngerasa'ke", atau bahasa lain di Indonesia "belarasa".

Jadi maksudnya, kalau ada orang yang bilang sama temannya, koleganya, pacarnya, suami/isterinya, atasannya-bawahannya (bukan blus-rok loh ya...), atau siapapun di hadapannya: "aku empati sama kamu", maka dia harus bisa beneran mikir dan ngerasain yang sama dengan kawan bicaranya.

Yuk kita uji. Misalnya di depan kita sekarang ada kawan yang sedang cerita tentang perasaannya. Kawan itu wajahnya sedih. Dia cerita baru beberapa kalimat, trus kita bilang: "Aaahhh aku empati sama kamu. Aku tuh, juga pernah seperti itu, waktu itu aku..bla bla bla..." Lalu kita yang ganti jadi pencerita. Naaahhh, apakah ini empati beneraaann???

Menurut akyu sih itu bukan empati. Masih menurut aku lagi, untuk empati beneran tuh syarat utamanya HARUS BISA MENDENGARKAN! Bukan cuma mendengar pakai telinga, tapi "mendengarkan" pakai semua lubang. Artinya menyerap, menerima, memahami. Bukannya mengeluarkan, memotong, ambil alih topik, dsb. Aktifkan semua lubang untuk menyerap supaya memahami sampai jauh ke dalam. Lubang telinga, mata, otak, hati, malah kalau bisa juga pori-pori :-p.

Dengan begitu kita akan dapat banyak banget informasi-komunikatif. Paling penting bentuk, warna, kadar dan suasana perasaan dia bisa kita tangkup. Setelah itu barulah kasih respons. Atau kita bisa bilang: aku empati.

Tapi... Tunggu dulu. Respons kita juga maha-penting lagi... Ngga mesti dengan kata-kata yang bisa menunjukkan kita empati sama dia. Bahkan kata-kata suka lebay deh... Akhirnya kita jadi sok kasih nasihat, saran, bahkan kasih instruksi supaya dia begini dan begitu. Pliiissssss deh.
Solusi itu bisa kita kasih nanti kalau dia butuh. Kalau ngga, mending STOP! Jaga mulut.

Dengerin aja sambil mengangguk, menyimak, menghayati, hingga getaran tubuh kita sama dengan dia. Seolah-olah kita sendiri mengalami yang dia alami dari ceritanya itu. Lalu kalau kita bercermin, maka ekspresi kita terlihat mirip dengan ekspresi dia (tapi ngga usah ambil cermin lho). Kalau perlu menyentuh sedikit, jangan banyak-banyak. Tapi jagaaaa yaaa, kalau dia nangis nih misalnya, kita jangan larut trus ikut-ikutan nangis bombay lebay jijay...

Susah? Ya gitu deh, susah-susah gampang, gampang-gampang susah.
Sebab empati bisa juga melaju ke melo-drama cinlok, cinta lokasi... Byaaahhh... Gawat!

Selamat empati akyu ucapkan kepada kita semua. Emang banyak gunanya? Iya banyak lah, karena kita kan hidup bertetangge, selalu ada orang lain di sekitar kita lebih dari sepuluh jam sehari. Kita pasti berkomunikasi. Biarpun mungkin sekarang pada pake BBM atau media nge-chat lain yang bertaburan. Atau setidaknya supaya akyu dan kamyu ngga termasuk Alexithymia. Apalagi tuh? Entar deh di postingan lain. "̮♡♡♡"̮
___________
RS @ OwnBlog http://suara-hati-rinny.blogspot.com/

No comments:

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***