Monday, July 18, 2011

VoaF#104 - Sahabatku Mati

By Rinny Soegiyoharto
¤¤¤ ¤¤¤ ¤¤¤ ¤¤¤ ¤¤¤

Jum'at 15 Juli 2011.

19:00
Dia memanggil-manggilku. Saat kudekati, matanya bersinar cerah, wajahnya tersenyum lega. Ya ampuuuunnn, dia masih bergayut di tiang itu...dengan kalungnya yang gemerincing.
"Aku sudah lama di sini," seolah-olah dia membisikkan kata-kata itu. Sambil tetap menatapku dengan sinar matanya yang indah. Dia ganteng betul.

Saat gemerincing kalungnya berayun bebas, yakni ketika bandul di tiang kulepaskan, dia tertawa bahagia. Diciumnya kakiku dan merapatkan tubuhnya yang hangat di betisku. Betapa manja dia.
Aku tertawa. Ah! Kusangka dia akan ke 'toilet'nya di sudut taman. Ternyata dia hanya berlari-lari kecil mengelilingiku. Kibasan keemasan di ujung tubuhnya memberi isyarat bahwa dia sangat bahagia.
Aku meninggalkannya bermain sendiri. Ada yang harus kuselesaikan di ruanganku.

23:30
Suaranya lirih. Aku menghampirinya, mengajaknya bicara.
"Ada apa, Bon? Kamu sudah selesai makan?"
Dia hanya menatapku tajam, sambil tetap tersenyum.
Kali ini dia tidak mendekatiku seperti biasa. Seolah-olah menjaga tetap berjarak satu meter antara dia dan aku. Dia duduk, tersenyum, terus menatapku. Penuh pengertian dan kasih sayang tersirat dalam tatapannya. Juga kesetiaan yang luar biasa. Kesetiaannya terbukti selama empat tahun ini. Menemani hari-hari kami, menjaga kami setiap waktu. Betapa aku menyayangimu, Bona.
Satu hal, dia tampak sehat dan bugar saat itu. Seperti biasanya. Hanya saja dia tidak merapat ke betis dan kakiku, hingga aku tidak merasakan kehangatan tubuhnya menempel padaku.

Sabtu, 16 Juli 2011.

07:20
Dia ada di tempatnya berjaga-jaga. Berbaring siaga di atas alas paving, menikmati berkas sinar matahari. Dia sangat menyukai bermandikan hangat mentari pagi sambil tetap berjaga-jaga di sisi gerbang. Adakalanya bermain-main dengan Caprut, kucing belang putih-hitam, sahabat karibnya di rumah ini.

Tapi.....
Ada yang berbeda pagi ini....
Dia tidak menyahut ketika namanya disapa. Dia diam saja dalam posisinya menjaga gerbang. Padahal dia sangat suka disapa. Ketika namanya disebut, kepalanya pasti terangkat, dan senyum gantengnya mengambang di wajahnya.
Banyak sekali kata yang dipahaminya dengan cerdas.
"Sini", "duduk", "naik", "lompat", "lari", "berdiri", "tangkap", "tunggu", "makan", "minum", "susu", "coklat", "roti", "caprut", "masuk", dan masih banyaaaaakkkk lagi....

Bonaaaaaa...
Ketika didekati, dia sudah kaku, meski tubuhnya masih hangat.
Bona mati!
Sahabatku mati!
Golden ganteng dan cerdas bernama Bona itu, mati!
Airmataku tak terbendung. Sahabatku sudah pergi. Saat ajal menjemputnya, lagi-lagi dia tetap setia menjaga kami. Bahkan di akhir hidupnya, kesetiaannya yang luar biasa tetap nyata diperlihatkan dengan kasih sayang terhadap kami.

Aku sangat kehilangan, aku menangisi kematiannya. Betapa singkat waktumu bersama kami, Bona.
Kau bukan sekadar hewan peliharaan, kau adalah anggota keluarga kami. Kita semua saling menyayangi. Sikap dan perilakumu yang baik juga dirasakan oleh tetangga dan setiap tamu yang datang ke sini.

Aku masih sedih.
Tapi dia memang harus pergi, daripada tersiksa dengan rasa yang tak mampu dia ungkapkan.
Penyebab kematian: serangan jantung.
Maafkan aku, Bona. Coklat memang tidak baik untuk jantungmu. Tapi karena kulihat kau sangat menyukainya, aku suka membagikan potongan-potongan coklatku buatmu.

Selamat jalan sahabat setia...

»
best regards,
Rinny Soegiyoharto
http://suara-hati-rinny.blogspot.com/
«

No comments:

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***