Thursday, July 26, 2012

#149 - Selfish is Not Good, Too Selfish is Danger!

by Rinny Soegiyoharto

Setiap manusia memiliki rasa kedirian (egosentrisme) dalam hakikatnya sebagai makhluk individu. Akan tetapi ada yang mampu mengelolanya dan mengembangkan karakter diri hingga terus bertransformasi menjadi pribadi favorable (atau baik). Ada pula sebagian yang tidak melakukannya, bahkan tidak (mau) menyadari kecenderungan pemusatan diri yang berlebihan. Celakanya lagi malah memelihara dengan subur hingga "mengganggu" hubungan antar pribadi.

Manusia juga adalah makhluk sosial, yang sebagian besar waktunya dihabiskan bersama-sama orang lain (dalam konteks interaksi sosial & hubungan antar pribadi).
Dapat dibayangkan betapa sulitnya kesejahteraan psikologis (atau seringkali dimaknai sebagai "kebahagiaan") dicapai oleh orang-orang yang hidupnya terpusat pada diri sendiri. Misalnya saat berinteraksi dengan orang lain selalu "memaksakan diri" untuk menjadi pusat perhatian. Ia merasa dirinya yang terutama & yang paling pantas mendapatkan penghargaan dibandingkan orang lain.
Bagaimana mungkin ia mampu mencapai psychological well-being (kesejahteraan psikologis) apabila ia tak mampu mempertimbangkan keberadaan orang lain selain dirinya sendiri?

Egosentrisme, atau dalam bahasa sehari-hari seringkali disebut-sebut dengan "egois" (terjemahan dari 'selfish') menjadi berbahaya ketika kadar yang dimiliki orang tampak sangat tinggi.
Dari sudut pandang perilakuan (behavior), orang-orang dengan tingkat egosentrisme yang tinggi tergolong memiliki pengendalian diri yang cenderung lemah. Reaktif & impulsif, baik dalam memilih kata-kata, maupun dalam bertindak terhadap sekelilingnya. Ia mudah merasa sakit hati apabila keinginannya tidak dipenuhi orang lain. Lalu bertindak seketika tanpa memberikan waktu bagi pikiran & perasaannya untuk menimbang perasaan orang lain. Ia mampu menyakiti & "menghasut", bahkan mengintimidasi dengan kata-kata & tindakan. Hal tersebut dilakukannya karena menganggap ketidak-bahagiaannya adalah tanggung jawab orang lain.

Apakah orang dengan egosentrisme yang tinggi dapat berinteraksi dengan banyak orang seperti pertemanan?
Jawabannya: dapat.
Justru ia membutuhkan, bahkan bergantung kepada banyak orang agar pengakuan bahwa dirinya "istimewa" dapat diterimanya terus-menerus. Hubungan orang-orang demikian dengan orang lain didasarkan pada kebutuhan & kepentingannya sendiri. Meskipun ia dapat menampilkan sikap manis & menyenangkan untuk menarik hati banyak orang. Termasuk saat mencari dukungan demi perasaan-perasaan negatifnya dapat diterima orang lain sebagai hal yang wajar. Emosi-emosi negatif seringkali muncul, seperti petasan & sangat fluktuatif (bergejolak). Suatu saat meledak-ledak, sesaat kemudian bisa tampak 'manis'. Semua itu bertujuan mencari perhatian khusus.

Perlu dibandingkan, sekaligus diwaspadai, bahwa egosentrisme yang tinggi & tampak pada perilaku seseorang, bisa mengacu juga pada thema lain, seperti narcistic, histeria, kepribadian anti-sosial, gangguan bipolar, manik-depresif, serta beberapa yang lain.
Dari semua ini, pesan utamanya bahwa sebagai makhluk individu & sosial, perhatikanlah orang lain & diri sendiri secara berimbang. Terlalu berpusat pada diri sendiri (yang sayangnya sering tidak disadari) dapat berakibat buruk, bahkan fatal.

"Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan"



•••
®egards,
Rinny Soegiyoharto
«
«

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***